Kekuatan Sebuah Kesaksian Iman


Renungan Harian Senin 7 Mei 2018

Kis 16:11-15
Mam 149:2,3-4,5,6a, 9b
Yoh 15:26 – 16:4a

Seberapa seringkah kita bersaksi kepada sesama? Apakah kita memanfaatkan quality time bersama anak-anak atau orang tua dengan saling membagikan sharing iman? Pernahkah kita mengungkapkan syukur atas berkat Tuhan melalui kesaksian? Atau jangan-jangan, hidup kita hanya dipenuhi dengan litani keluhan akan kehidupan atau nasib buruk yang kita alami? Atau dari 24 jam hidup kita, 23,5 jam diisi dengan komplen, ngedumel, kekhawatiran dan pikiran negatif?

Kesaksian atau sharing iman adalah cara kita mengungkapkan syukur atas berkat Tuhan yang luar biasa. Dengan bersaksi kita menyatakan bahwa Allah kita hidup dan senantiasa hadir dalam hidup melalui pertolongan dan berkat-Nya yang ajaib. Kesaksian atau sharing iman jika kita bagikan membawa berkat bagi sesama, memberi kekuatan baru, memberi dukungan moral, membawa sukacita, menyembuhkan dan memulihkan orang yang mendengarkan kesaksian kita.

Ada 3 hal yang bisa kita dapatkan dari Injil hari ini, mengenai kesaksian iman. Yang pertama, kita dimampukan untuk bersaksi karena ada kuasa Roh Kudus. Kesaksian dan sharing iman yang sejati adalah yang digerakkan oleh Roh Kudus karena kita mengandalkan Roh Allah, berbicara tentang kehebatan Allah untuk memuliakan-Nya, bukan untuk menyombongkan kehebatan diri sendiri. Untuk itu, kita harus berdoa mohon agar Roh Kudus yang memimpin kesaksian kita. Kesaksian yang benar dan dipimpin Roh Allah akan punya kuasa untuk menyentuh hati orang yang mendengarkannya. Kesaksiannya akan bicara tentang syukur, penghormatan, pujian dan pengagungan pada Allah. Bukan bicara tentang diri saya yang bisa berubah, diri saya yang pintar, diri saya yang bisa tampil melayani. Bukan juga tentang kesuksesan usaha, prestasi kerja. Bukan juga tentang kesaksian jaman now yang sering diumbar lewat media sosial, lewat foto-foto yang diupload di facebook atau Instagram. Hati-hati!

Yang kedua, membagikan kesaksian hidup atau sharing iman adalah kewajiban bagi setiap umat kristiani. Yesus sendiri yang mengatakan bahwa kita semua harus bersaksi sebagai murid-murid-Nya. Maka, jangan malu-malu lagi kalau dalam pertemuan lingkungan atau komunitas untuk memberikan kesaksian iman. Daripada kirim berita atau video tidak jelas di sosmed atau grup WA, mengapa tidak sekalian membagikan kesaksian iman yang memberkati teman-teman kita.

Yang ketiga, kesaksian iman justru lahir dari penderitaan, pergumulan, problem hidup, saat kita ditolak, diremehkan, dihina, direndahkan. Ada berkat dibalik semua peristiwa buruk itu. Komunitas tempat saya bergabung yaitu You Are Not Alone, adalah sebuah komunitas bagi para single mom katolik di Keuskupan Agung Jakarta. Kami single mom, ada yang suami telah meninggal dunia, ada juga yang berpisah atau bercerai. Kekuatan dari komunitas ini adalah sharing atau kesaksian iman. Banyak dari kami yang mengalami pemulihan, kesembuhan karena satu sama lain saling memberikan kesaksian yang menguatkan. Berkat kesaksian, kami para single mom katolik ini sungguh merasa kami tidak sendiri. You are not alone! Kami yang dulunya masing-masing merasa paling sial, paling tidak beruntung, paling memiliki hidup yang pahit ditinggal suami, baik karena meninggal atau karena perpisahan, justru setelah mendengarkan kesaksian dari sesama single mom baru menyadari ada yang pernah mengalami pergumulan jauh lebih berat. Kesaksian iman bukan Cuma memulihkan dan menguatkan tapi juga membuat beban kami terasa lebih ringan.

Jangan berhenti memberi kesaksian iman! Roh Kudus, beri kami keberanian untuk bersaksi.

Tuhan memberkati.

Advertisements

Meminta Hikmat, Bukan Tanda


Yesus mengeluhkan dalam hatinya, kelakuan orang-orang Farisi yang meminta tanda pada Yesus.

Mrk 8:11-13
Sekali peristiwa datanglah orang-orang Farisi
dan bersoal jawab dengan Yesus.
Untuk mencobai Dia mereka meminta dari pada-Nya
suatu tanda dari surga.
Maka mengeluhlah Yesus dalam hati dan berkata,
“Mengapa angkatan ini meminta tanda?
Aku berkata kepadamu,
Sungguh,
kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.”
Lalu Yesus meninggalkan mereka.
Ia naik ke perahu dan bertolak ke seberang.

Meminta tanda sama saja dengan menantang Yesus yang juga Tuhan Allah. Orang Farisi sama saja mengatakan,”Tunjukkan kuasaMu.” Ini sama saja dengan tidak percaya, tidak mengimani Yesus Kristus sebagai Putra Allah yang juga Allah itu sendiri.

Kita sering juga meminta tanda pada Tuhan. Baru percaya kalau Tuhan tunjukkan tanda bahwa Ia bisa melakukan apa yang kita mau. Maka tak jarang doa kita seperti ini,”Tuhan, tunjukkan padaku bahwa Kau bisa menyembuhkan sakitku.” Atau “Tuhan, kalau Kau buat aku lepas dari permasalahan ini, aku akan segera melayaniMu.”

Kita meminta tanda pada Tuhan, karena kita tidak beriman, tidak percaya akan kuasaNya dan tanda itu adalah kehendak kita.

Dalam bacaan pertama, Santo Yakobus justru mengajarkan kita untuk meminta hikmat.

Yak 1:1-11
Salam dari Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus,
kepada kedua belas suku di perantauan.

Saudara-saudaraku,
anggaplah sebagai suatu kebahagiaan,
apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,
sebab kamu tahu,
bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.
Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang,
supaya kamu menjadi sempurna dan utuh
dan tak kekurangan suatu apa pun.
Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat,
hendaklah ia memintanya kepada Allah,
yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati
dan dengan tidak membangkit-bangkit;
maka hal itu akan diberikan kepadanya.
Hendaklah ia memintanya dalam iman,
dan sama sekali jangan bimbang,
sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut,
yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.
Orang yang demikian janganlah berharap,
bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.
Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.

Kita mohon hikmat dengan iman. Meminta tanda dilakukan orang yang tak punya iman, sedangkan meminta hikmat dilakukan orang yang percaya bahwa Allah itu baik dan sanggup melakukan segalanya. Kita meminta hikmat berarti kita mohon Tuhan berikan kebijaksanaan, solusi, caraNya, kehendakNya agar kita bisa melewati segala sesuatu dalam hidup ini. Berarti meminta hikmat berarti meminta tolong pada Tuhan untuk melaksanakan kehendakNya dalam hidup ini, bukan kehendak kita masing-masing. Entah itu dalam urusan pekerjaan agar kita tahu mengatasi problem dalam pekerjaan kita, atau dalam berelasi dengan sesama.

Mintalah hikmat, bukan tanda. Mintalah kehendakNya terjadi dalam hidup kita, bukan meminta agar kehendak kita terjadi dan Tuhan yang melakukannya. Mintalah dengan iman bahwa Yesus pasti berikan hikmat kita dengan segala kemurahan hatiNya, bukan meminta tanda karena tak bisa mengimani bahwa Yesus sanggup melakukan segala sesuatu tanpa harus kita melihatnya terlebih dahulu.

Tuhan tambahkan imanku dan berlah aku hikmat!

Don’t Know How To Pray? Pray using the bible!


What a beautiful way to start the first day of 2018. The first reading today is taken from the book of Numbers (6:22-27).

The LORD bless you and keep you!

The LORD let his face shine upon

you, and be gracious to you!

The LORD look upon you kindly and

give you peace!

So shall they invoke my name upon the Israelites,

and I will bless them.”

As I read these verses, I receive God’s Word and embrace His Word with all my faith and love in Him. Yes, God bless me and will keep me in this new year. I will see His face shine upon me and God will be gracious to me. He will look upon me kindly and give me peace!

If you have no idea how and what to pray, if you want to have a new praying habit as your new year resolution, then do the easiest way! Open your bible or find put out what are the reading(s), the psalm and the gospel based on today’s liturgical calendar. Read it and make it your personal prayer.

As for today, I continue to read the psalm and it has beautiful verses that we can turn into prayer.

May God have pity on us and bless us;

may he let his face shine upon us.

So may your way be known upon earth;

among all nations, your salvation.

May the nations be glad and exult

because you rule the peoples in equity;

the nations on the earth you guide.

May the peoples praise you, O God;

may all the peoples praise you!

May God bless us,

and may all the ends of the earth fear him!

Happy New Year!

Can you count the stars?


Some of the most beautiful verses can be found in today’s first reading when we celebrate the Feast of The Holy Family.

The Lord took Abram outside and said,

“Look up at the sky and count the stars, if you can.

Just so,” he added, “shall your descendants be.”

Abram put his faith in the LORD,

who credited it to him as an act of righteousness.

The LORD took note of Sarah as he had said he would;

he did for her as he had promised.

As we approach the end of 2017 and welcome 2018, let us look up at the sky and count the stars. I personally cannot name or count the blessings I have received from God this year because they are numerous! All I know is my Almighty Father is the God who loves multiplication. He always double my happiness, my needs and my blessings.

And I learned from Abraham and Sara that to be able to receive the multiplying impact of God’s grace, you’ve got to have faith in Him, to put all my trust in Him only!

So, look up at the sky tonight and count the stars, if you can. Just so, shall your blessings be!

Fanny Rahmasari

31 Dec 2017

Holy Spirit, make me fall in love again


That was my prayer earlier this evening as I was driving home after my meeting with clients today. The traffic was a nightmare. So I put on some music. I listened to my personal-praise-and-worship playlist and the songs really moved me. And when i sing along a song about Holy Spirit I couln’t help but feeling my spirit longs for its home that in the end I said this in my prayer,”Holy Spirit, made me fall in love again!”

I missed those time when i could spend an hour of praise and worship session in my room. I haven’t got the time to write on my blog. It has been a while since the last time i blogged. Yes, I want to go back to that feeling again, to that very experience again… the experience of being with, having Jesus in my life in every monent, every second, everything that I do, in my thoughts, in my words, in my action.

I am going back to the Holy Spirit, my teacher, my counselor, my advisor, my joy and happiness.

I want Holy Spirit to teach me to pray, to meet Jesus again, to lit the fire in me, to let Jesus reign in me.

So here is my prayer today,”Holy Spirit, make me fall in love again!”

Haruskah Kita ke Gereja pada Malam Paskah dan Minggu Paskah?


Kemarin saya ngobrol dengan putri saya. Dia katakan banyak teman-temannya yang berlibur di long weekend Paskah ini dan mereka tidak ke gereja. Dia juga mengaku surprised karena di hari Minggu biasa pun teman-temannya tidak ke gereja. Menurut anak saya, pergi ke gereja, merayakan Ekaristi adalah hal yang biasa dilakukan sejak kecil. Saya bersyukur juga karena lewat obrolan kami kemarin, saya bisa mengingatkan dia bahwa dengan pergi ke gereja, ikut Ekaristi dan menerima komuni, berarti kita benar-bena menerima tubuh dan darah Tuhan Yesus sendiri.  Saya bersyukur anak anak saya mengalami sendiri indahnya dan pentingnya perayaan Ekaristi.

Saya menemukan sebuah artikel bagus yang bisa mencerahkan kita seputar misa paskah.  Semoga bisa menambah wawasan kita sebagai umat katolik.

Makna Misa Malam PaskahPertama, Tirakatan Paskah adalah nama lain dari Malam Paskah. Kata “tirakatan” adalah terjemahan dari kata “malam” atau“vigilia” (Latin), yaitu malam sebelum sebuah perayaan. Malam Paskah atau Tirakatan Paskah disebut sebagai “induk dari semua tirakatan”, karena di sinilah Gereja merayakan pokok misteri imannya, yaitu Misteri Paskah Kebangkitan. (bdk Perayaan Paskah dan Persiapannya, art 77, Seri Dokumen Gerejani No 71) Kebangkitan Kristus adalah dasar iman dan harapan kita. Seperti orang-orang Ibrani, pada Malam Paskah mereka menantikan saat pembebasan dari perbudakan Firaun. Demikian pula kita, pada Malam Paskah kita menantikan saat Kebangkitan Kristus yang menandai pembebasan kita dari penindasan dosa. Malam Paskah Yahudi itu adalah “gambaran yang mewartakan Paskah sejati Kristus, sekaligus gambar pemerdekaan sejati…” (art 79). Kebiasaan merayakan Kebangkitan pada perayaan malam ini sudah dilakukan sejak Gereja mulai merayakan Paskah tahunan (art 80).

Kedua, mengingat pentingnya iman pada kebangkitan dan mempertimbangkan kekayaan misteri iman yang diungkapkan dalam simbol-simbol pada Tirakatan Paskah, umat sangat dianjurkan agar menghadiri Tirakatan Paskah untuk menghayati misteri utama iman Gereja. “Para gembala hendaknya mengajak kaum beriman untuk mengambil bagian dalam seluruh perayaan Malam Paskah.” (art 95; bdk SC art 106). Mereka yang sudah menghadiri Malam Paskah, sudah memenuhi kewajiban merayakan Misteri Paskah pada hari Minggu (bdk SC 106). Karena itu, mereka tidak wajibmerayakan lagi Minggu Paskah pagi. Namun, tetap sangat dianjurkan agar umat juga menghadiri Perayaan Ekaristi Minggu Paskah pagi sebagai kelanjutan kegembiraan merayakan Kebangkitan Tuhan. Anjuran yang sangat ini bahkan dirasakan sebagai “keharusan”. Berkaitan dengan Minggu Paskah, Gereja menegaskan: “Misa Minggu Paskah harusdirayakan dengan meriah.” (art 97)

Ketiga, sejauh menyangkut perayaan liturginya, kekayaan liturgi Malam Paskah tidak bisa dibandingkan dengan liturgi Minggu Paskah pagi. Kekayaan liturgi Malam Paskah menonjolkan perayaan cahaya, madah Paskah, bacaan-bacaan Perjanjian Lama yang merupakan tipologi pembebasan yang dibawa oleh Kristus, dan Perayaan Baptis.

Dengan pertimbangan pastoral bahwa banyak umat yang hadir pada Minggu Paskah pagi tidak sempat mengikuti perayaan Malam Paskah, maka untuk liturgi Minggu Paskah, Gereja menganjurkan untuk juga memasukkan upacara perarakan Lilin Paskah pada pembukaan dan pembaruan janji baptis sesudah homili. Dengan demikian, diharapkan umat juga bisa dibantu untuk menghayati Misteri Paskah sebagai peralihan dari kegelapan kematian kepada terang kehidupan.

Jumat Agung, Hari Kasih Sayang


FB_IMG_1492146817321.jpg

Perhentia 11 di Bukit Doa Watomiten, Pulau Lembata, NTT

14 Februari diperingati seluruh warga dunia sebagai hari kasih sayang alias Valentine’s Day. Sesungguhnya bagi umat kristiani, termasuk umat katolik, hari kasih sayang justru jatuh di hari ini, tepat di perayaan Jumat Agung.

Justru di hari wafatNya Tuhan Yesus Kristus inilah umat kristiani merayakan puncak cinta kaaih berupa pengorbanan Yesus di kayu salib.  Hari kasih sayang yang paling sejati, paling murni, paling benar adalah hari ini, Jumat Agung.

Karena hari ini, Yesus, Tuhan dan Raja kita wafat di kayu salib demi menyelamatkan kita dari dosa, demi pengorbananNya untuk setiap dan semua dari kita. Dia memilih mati untuk dan demi cinta-Nya pada kita. Supaya kita hidup tidak lagi dalam dosa, dalam cengkraman roh jahat dan maut namun dalam hidup. Dan Yesus adalah jalan, kebenaran dan hidup itu sendiri.

Hari ini adalah perayaan penuh cinta. Memang absurb dan ironis. Merayakan Jumat Agung, merayakan cinta justru dengan orang yang mati di kayu salib. Namun cinta sejati adalah pengorbanan, cinta kasih adalah menanggung penderitaan demi orang lain, cinta kasih adalah mengutamakan orang lain daripada diri sendiri.
( Yes 53:4Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.

Yes 53:5Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.

Yes 53:6Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

Yes 53:7Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.)

Selamat merayakan Ibadat Jumat Agung. Selamat merayakan hari Kasih Sayang di hari Jumat Agung ini. Nikmati kasih sejati dari Yesus dan bagikan kasih itu pada sesama.

Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikannyawanya untuk sahabat sahabatnya. (Yoh 15:13)