Aku Telah Memilih Kamu (Kisah Cinta Yesus denganku)


Sejak beberapa hari belakangan ini, saya suka sekali mendengarkan puji-pujian yang dibawakan oleh Meredith James.  Salah satu lagu yang terus terngiang di telinga ini adalah pujian yang berjudul Come in My Courts.  Liriknya  memposisikan diri sebagai Allah yang  memanggil kita umat-Nya untuk masuk ke dalam pelataran-Nya. Dan kata-kata yang paling menyentuh saya adalah ketika liriknya berkata ….. I’ve chosen you.….

Ah, kata-kata itu yang selalu membuat hati saya berdesir.  Membuat saya tersentuh.  Terharu.  Bikin saya deg-degan.  Ada rasa hangat mengalir dalam hati ini, yang membuat saya tersenyum dan tersipu.  Ada bahagia, bangga dan berjuta rasa yang bikin hati ini berbunga-bunga.  Kata-kata itu pula yang menyadarkan saya,  siapa sebenarnya yang telah membuat saya jatuh cinta selama ini.

jesus_hugging_woman

Ketika seseorang memilih kita, di situ ada cinta. Ada trust.  Ada suatu bentuk penyerahan.  Ada suatu priviledge.  Dipilih untuk menjadi seseorang, untuk melakukan sesuatu, adalah sesuatu yang besar.  Apalagi ketika yang memilih kita adalah seorang yang bernama Yesus Kristus.  Putra Allah.  Sang Firman.  Wajah Allah.  Sang Juru Selamat.  Dan Dia adalah Tuhan.  I have got nothing more to say.  He has chosen me.  And I am blessed for that, beyond words.

Injil hari ini, mengingatkan saya akan sebuah kisah cinta yang indah.  A beautiful love story between a man, named Jesus Christ and me.  Diawali dengan sebuah kasih.  Dia mengasihi saya (Yoh 15:12 … seperti Aku telah mengasihi kamu.)  Tidak pernah ada satu orang pun yang mengasihi saya sebesar Dia.  Dia bahkan rela mati karena dan untuk cinta-Nya buat saya (Yoh 15:13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.)

He is not only my lover, He is my best friend.  Dia memberitahukan pada saya segala sesuatu yang harus saya ketahui agar saya dapat menjalani kehidupan ini dengan indah dan penuh cinta.  (Yoh 15:14 Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.)

And the best part is, Yesus telah memilih aku.    (Yoh 15:16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.)  Di balik segala kelemahanku, ketidakberdayaanku, keburukanku, kejahatanku, kecenderunganku untuk menyakiti-Nya, Dia tetap memilih aku.  Dan saat Yesus memilih aku, aku tahu siapa pemilik hatiku ini.  Aku tahu dimana aku mesti berdiam dan tinggal.  I know where my heart belongs to.  Dan aku tahu pada siapa aku sebenarnya jatuh cinta selama ini.

Kalau hari ini, Anda merasa tersesat, feeling lost dan bingung dengan hidup Anda dan segala pergumulan yang tengah terjadi, ingat satu hal ini.  Anda berada di mana Anda berada pada detik ini karena Tuhan Yesus yang telah memilih Anda.  Dia telah lebih dulu jatuh cinta pada kita sebelum kita bisa mencintai diri kita sendiri. Seperti kata-kata yang indah dalam lirik lagu Come In My Courts.

Welcome in the way is open
Come on in you are My temple My tabernacle
I’ve chosen you
Come abide my Spirit’s calling
Deep inside you’re My beloved
There is none other I love more than you                         

Dan cinta-Nya luar biasa.  Tidak egois. Tidak selfish. Cinta-Nya mengajak kita untuk berbagi agar kita pun mengasihi orang lain seperti Dia telah mengasihi kita. (Yoh 15:17 Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.)

Today and everyday, katakan dan ingatkan pada diri sendiri, Tuhan Yesus telah memilih aku. Terima kasih Yesus untuk cinta-Mu.

 

Come in My Courts

 

Welcome in the way is open
Come on in you are My temple My tabernacle
I’ve chosen you
Come abide my Spirit’s calling
Deep inside you’re My beloved
There is none other I love more than you

So come oh My beloved come

Come in My courts
Come in My courts
Come in My courts
I am calling you
I am calling you
Come in My courts
Come in My courts
Come in My courts
Won’t you run to Me won’t you come to Me

Just come
Lay all your burdens down and come
All who are weary and are thirsty lay your
Burdens down and come
All who are hungry and are hurting leave your
Burdens there and come
Yeah

Obrak Abrik Aku, Tuhan


my word has no room among you…. (John 8:37)

making-room-for-jesus.jpg

Saat menyetir mobil menuju kantor tadi pagi, saya mendengarkan bacaan, Injil serta renungan hari ini melalui podcast favorit saya.  Sejak kembali bekerja full time bulan Januari lalu, perjalanan ke kantor atau saat-saat saya menyetir itulah waktu dan ‘kemewahan’ yang saya pakai untuk berdoa pribadi, berdoa rosario atau mendengarkan podcast renungan hari ini.

Pada saat mendengarkan Injil hari ini dibacakan narator dalam podcast yang saya dengar itulah, saya disentuh oleh salah satu ayat.  “Aku tahu, bahwa kamu adalah keturunan Abraham, tetapi kamu berusaha untuk membunuh Aku karena firman-Ku tidak beroleh tempat di dalam kamu. (Yoh 8:37)

Firman-KU tidak beroleh tempat di dalam kamu……. my word has no room among you …… firman Tuhan ini sangat menyentuh hati.  Bukan cuma menyentuh, tapi sangat menegur saya.  Membuat saya bertanya pada diri saya sendiri,”does His Word still have place in your heart, Fanny?”

Saat itulah saya  diingatkan kembali untuk MEMBERI RUANG untuk firman Tuhan. Karena kesibukan, rutinitas, persoalan dengan pasangan, anak anak, prioritas hidup, managemen waktu,  sering membuat kita tidak punya tempat lagi untuk Yesus karena kita sudah mengambil kendali langsung bukan Dia.  Saya tak ubahnya seperti orang Yahudi dalam Injil hari ini yang percaya kepada-NYA (Yoh 8:31), namun tetap saja ngeyel, tegar tengkuk, keras hatinya (Yoh 8:33),  dan bahkan masih belum dimemerdekakan oleh dosa hingga memiliki rencana membinasakan Yesus. (Yoh 8:37,40).  Saya juga mengimani Yesus, namun seringkali saya tetap manusia yang ngeyel, tegar tengkuk, keras hati dan jatuh dalam dosa.  Kenyataannya, saya belumlah benar-benar tetap di dalam Firman-Nya.  Saya belum sepenuhnya taat sebagai murid Yesus.  Seringkali, saya mengambil keputusan sendiri, mengandalkan pikiran sendiri.  Tetap bukan dalam Firman-Nya, tapi dalam ketetapan dan kebenaran yang saya anggap benar sendiri menurut pandangan saya.

Dengan segala kesibukan dan peran yang kita jalani sehari-hari, diri kita seluruhnya sudah dipenuhi dengan aneka pergumulan, persoalan, konflik, pikiran, pilihan.  Di antara sekian banyak yang mengisi diri ini, masih adakah ruang dan tempat untuk Yesus? Adakah Dia merajai segala keputusan dan pilihan hidup kita? Adakah kita menjadi murid yang bijak karena kita taat mau diisi hanya oleh kebenaranNYA?

firman-Ku tidak beroleh tempat di dalam kamu….

Ternyata, sekalipun aku sudah percaya dan hidup di dalam Yesus, dan menyatakan diri sebagai murid Yesus, I am still a control freak.  Aku masih yang menjadi pengontrol hidupku.  I control my relationship with others, I control my kids, I control my situation, I control my workmates, I control others so they do what I want them to do.  I control my life so everything happens just like what I want it to happens.  My life is so busy and full with my choice, my thoughts, my needs, my interests… No room left for my King, Jesus Christ.

Jadi hari ini saya berdoa ….

Tuhan obrak abrik aku dengan sukacitaMu, jangan beri kesempatan aku jadi manusia yang mengontrol semuanya tapi Kau sajalah yang memerintah…… Kau yang berkuasa, Kau satu-satuNya RajaKU.

Let’s just do it! 


Orang-orang bilang, kita diciptakan dengan satu mulut dan dua telinga agar kita lebih banyak mendengar ketimbang berbicara. Tapi jangan lupa juga, kita pun diciptakan dengan 1 mulut, 2 telinga, 2 mata, 2 tangan, 2 kaki agar kita lebih banyak aktif mendengarkan, mengamati dan melaksanakan aksi nyata ketimbang berbicara saja. 

Bacaan pertama hari ini mengajak kita aktif justru dengan menggunakan alat tubuh selain mulut. Dengarlah firman Tuhan, Perhatikanlah pengajaran Allah kita, basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku.  Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik. Usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda! (Yes 1:10, 16-20) 

  
God needs our action, so less talk more action and let’s just do His Truth! 

aku rindu masa prapaskah


12715640_951785454914948_4640570025515189005_n.png

Entah mengapa, kemarin sore ketika aku menyetir mobil dalam perjalanan pulang menuju rumah, diiringi lagu rohani, aku tiba-tiba teringat bahwa esok (hari ini, berarti) adalah Rabu Abu.  Dan entah mengapa, tiba-tiba aku sangat merindukan Rabu Abu. Merindukan perayaan Ekaristi membuka masa prapaskah yang dimulai hari ini sampai nanti kita semua merayakan Kebangkitan Tuhan Yesus di hari Paskah.  Merindukan Masa Praspaskah saat kita belajar seperti Yesus, berpuasa di padang gurun yang panas menahan lahar dan haus sebelum akhirnya berkarya melayani dunia.  Merindukan masa Prapaskah saat kita lebih mengheningkan diri dan lebih banyak bersikap reflektif dan kontemplatif seperti Bunda Maria.

Entah mengapa aku pun menulis status di akun Path seperti ini “Besok Rabu Abu….. entah mengapa aku sangat merindukannya”.  Yang aku tahu pasti, rasa rindu itu Tuhanlah yang berikan padaku. Aku percaya Tuhan punya rencana yang indah bagiku di masa prapaskah ini dan di tahun Kerahiman Allah ini.  Itu sebabnya Dia letakkan kerinduan itu, agar aku boleh mengalami keindahan masa Prapaskah di tahun Kerahiman Allah ini.

Aku rindu masa prapaskah.  Aku rindu saat-saat dimana aku boleh belajar berpuasa dan berpantang seperti yang diajarkan Gerejaku.  Puasanya memang terbilang ringan buat orang yang biasa puasa.  Tapi aku melihat bukan berat atau ringannya.  Tapi berpuasa tidak makan dan hanya makan sekali kenyang, aku maknai sebagai pelajaran untuk menahan lapar dan tidak dengan mudahnya menuruti keinginan daging.  Setiap hari, hidupku penuh dengan kemewahan.  Kemewahan bisa makan 3 kali bahkan lebih, sehingga tidak heran badanku jadi gempal begini.  Kemewahan bisa sesuka hati memesan makanan via gojek, atau mencicipi restoran baru atau pergi ke pusat kuliner makan nasi campur babi, kue kia teng isi babi dan jerohannya, atau makan nasi bali kesukaannku.  Kemewahan setiap hari karena bisa minum kopi di rumah atau di tempat ngopi paling kekinian di Jakarta karena kegilaanku dengan kopi.  Tiap hari aku sudah terbiasa dengan, kemewahan punya smartphone, kemewahan menggunakan social media agar selalu updated dengan kehidupan teman-temanku, dengan tren terbaru, dengan ilmu-ilmu pengetahuan dan segala informasi.  Tiap hari aku terbiasa dengan kemewahan dan kenikmatan membicarakan orang lain, menjelek-jelekkan mereka, iri pada mereka, memiliki prasangka negatif pada mereka dan menghakimi orang lain.  Aku terbiasa menikmati menunjukkan kehebatanku, menghabiskan waktuku untuk obrolan tak menentu, mengejar puji-pujian dari orang terhadap diriku.

Maka, aku merindukan saat-saat di masa prapaskah ini.  Aku rindu mengalami lebih banyak lagi Yesus dalam hidupku.  Aku rindu Yesus yang berpuasa 40 hari menahan segala rasa, nafsu dan keinginan.  Aku rindu hidupku yang belajar menahan semua kemewahan-kemewahan dan kenikmatan-kenikmatan itu.  Yesus tanpa makanan lebih dari 3 kali sehari, Yesus tanpa social media, Yesus tanpa kopi yang bikin ketagihan, Yesus tanpa sibuk dengan diri sendiri adalah Yesus yang sanggup bertahan!

Aku rindu masa prapaskah, aku rindu untuk berpuasa agar aku melatih diriku menahan keinginan bebasku dan kebebasanku dan membiarkan Tuhan yang mengisi aku saat aku berpuasa.  Aku rindu masa prapaskah, aku rindu untuk diam di dalam Tuhan, mengurangi keberisikan duniaku saat berinteraksi dengan social media atau dunia maya atau instant message.  Aku rindu masa prapaskah, saat aku lebih banyak diam, hening, berdoa, membaca dan belajar aneka referensi tentang kekayaan Gereja Katolik dan tentang Yesus. Aku rindu belajar berbelas kasih di tahun kerahiman Allah ini.

Aku rindu Misa Rabu Abu pembuka masa puasa dan pantang.  Aku rindu datang pada Yesus dan berjumpa denganNya dan mengakui segala kelemahanku.  Aku rindu ditandai abu karena aku sadar aku hanyalah tubuh dan jiwa dan rohku adalah abadi bersama Bapa di surga.  Aku rindu berjalan bersama Yesus dalam retret agung ini bersama keluargaku, menuju Paskah nanti!

Aku rindu seperti Allah rindukan aku untuk “berbaliklah kepadaKu dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.” (Yoel 2:12)

Selamat menjalani masa Prapaskah, selamat mengalami retret agung bersama Sang Raja Yesus Kristus!  Rindukan Dia!

 

Rabu Abu, 10 Februari 2016

 

 

 

Undang Tuhan di Hari Imlek


  1 Raja-Raja 8:10-11 Ketika imam-imam keluar dari tempat kudus, datanglah awan memenuhi rumah TUHAN, sehingga imam-imam tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan kebaktian oleh karena awan itu, sebab kemuliaan TUHAN memenuhi rumah TUHAN.
Ketika Tuhan hadir di tengah kita, tidak ada yang lain yang bisa mita rasakan selain suka cita, damai sejahtera, keinginan untuk memuji Dia lewat lagu-lagu atau puji-pujian, keinginan untuk membuka alkitab dan membacanya, kemuliaanNya saat kita merayakan Ekaristi. 

Seperti halnya kisah umat Israel pada bacaan hari ini. Allah hadir dan para imam tak kuasa langsung menyelenggarakan kebaktian. Juga pada Injil hari ini, umat yang berjumpa dengan Yesus, berlari-lari dan membawa orang sakir agar mereka disembuhkan Yesus (Markus 6:53-56). Ketika Yesus hadir maka kesembuhan pun terjadi. 
Hari ini, undanglah Yesus. Pakailah perayaan pada hari ini untuk menjadikan Yesus prioritas nomor 1 dalam hidup ini. Biar Dia yang memimpin hidup kita selamanya, menyembuhkan dan memulihkan. Temui Yesus dalam wajah anggota keluarga dan setiap orang yang kita temui sekalipun mereka bukan umat kristiani dan tidak kita kenal, Yesus hadir di dalam diri mereka. 

Kalau Anda tengah merayakan kebahagiaan Imlek di tahun baru monyet ini, undanglah Yesus agar Dia memimpin kita di tahun baru ini. Selamat tahun baru Cina, Tuhan memberkati dan melimpahkan damai, sukacita dan kesejahteraan bagi kita! 

  

1024_Image

Kesempatan Kedua


Dalam kehidupan ini, kita selalu diberikan kesempatan kedua. Namun, karena kelemahan, kesombongan diri, kita lebih memilih hal-hal yang menyenangkan diri, sekalipun itu berarti jatuh dalam godaan dan dosa.  Kesempatan kedua dari Tuhan yang Maha Rahim, sering kita abaikan. Mata, telinga, hati dan pikiran kita tertutup oleh aneka tawaran lain yang menurut diri kita lebih menarik untuk dipilih.

Raja Herodes dalam Injil hari ini (Markus 6:14-29) diberikan kesempatan kedua berkali-kali oleh Tuhan untuk tidak memilih perbuatan jahat.  Herodes sebenarnya segan akan Yohanes bahkan melindunginya, sementara Herodias, istri Herodes, menaruh dendam pada Yohanes (Markus 6:19-20). Inilah kesempatan yang diberikan Tuhan pada Herodes sebenarnya, untuk memilih untuk tidak melakukan kejahatan apapun pada Yohanes.  Saat putri Herodias meminta kepala Yohanes Pembaptis, Herodes lagi-lagi diberi kesempatan kedua oleh Tuhan untuk mengambil keputusan, memilih untuk tidak mengabulkan permintaan putrinya.  Namun Herodes mengambil keputusan untuk mengiyakan permohonan putrinya, karena dia sudah terlanjur bersumpah.

Kita juga sering diberi kesempatan kedua oleh Tuhan.  Dalam keseharian kita selalu dihadapkan pada aneka pilihan.  Ikut misa Jumat Pertama atau makan siang dengan teman-teman? Ikut misa Jumper pulang kantor atau spend friday night sambil reunian dengan teman sekolah? Misa Hari Minggu atau bersantai di rumah atau pergi liburan ke luar kota?  Berkata jujur atau berbohong? Mengampuni atau memilih untuk tidak mau berurusan dengan orang yang kita sakiti? Memaafkan atau memikirkan aneka rencana untuk membalas perbuatan orang yang jahat pada kita?

Our God is God of second chance.  Itulah wajah kerahiman Allah kita yang tahun ini kita rayakan bersama seluruh Gereja Katolik di dunia.  Kerahiman Allah adalah ketika Dia memberikan kesempatan kedua buat kita.  Kesempatan baru untuk tidak mengulang kesalahan, untuk tidak mengulang dosa dan berbuat sesuai dengan kehendakNya.

Thank_God_for_Second_Chances

Ketika Daud memilih untuk menghormati Tuhan, memujiNya dengan bernyanyi-nyanyi dengan segenap hati dan mengasihi Penciptanya (Sirakh 47:48),  maka Tuhan yang Maha Rahim menggenapi janjiNya dan menunjukkan wajahNya.  Tuhan mengampuni segala dosanya serta meninggikan tanduknya untuk selama-lamanya. Ia pun memberinya perjanjian kerajaan, dan menganugerahkan kepadanya takhta yang mulia di Israel (Sirakh 47:11).

Tuhan, utuslah Roh KudusMu agar aku dibimbing untuk memilih melaksanakan kehendakMU dan mengambil kesempatan kedua yang selalu Kau sediakan bagiku!

p21

 

Mukjizat Pertama di Tahun Baru 2016


Mukjizat pertama yang saya alami di tahun 2016 adalah ketika saya (akhirnya) bisa mengikuti perayaan Ekaristi di Yogyakarta tanpa direncanakan sebelumnya. 

Tanggal 1 Januari kemarin saya berangkat ke Yogyakarta siang hari dari Jakarta untuk keperluan menjadi MC pernikahan teman saya. Acara pernikahan digelar hari ini, 2 Januari 2016. Sebenarnya saya berencana untuk ke gereja ikut misa jumat pertama yang pas jatuh tanggal 1 Januari kemarin. Satu-satunya cara adalah ikut misa di gereja Santi Stefanus, di Cilandak m, Jakarta jam 5.30 pagi sebelum berangkat ke Jogja.  Tapi saya malam sebelumnya juga sangsi bisa ikut misa sepagi itu apalagi saya dan anak-anak baru tidur jam 2 pagi setelah kami merayakan pergantian tahun di rumah orang tua saya. Dan benar saja, saya gagal ikut misa karena saya tidak sanggup bangun pagi. Akhirnya saya berangkat ke Jogja sambil bertanya-tanya akankah bisa saya ikut misa. Saya juga baru mengetahui misa tanggal 1 Januari ini memang istimewa. Selain jatuh pada hari Jumat Pertama, misa ini juga merayakan tahun baru, merupakan misa pertama di tahun 2016, juga merayakan Maria Bunda Allah. Sedih juga ga bisa ikut misa, apalagi selama ini saya selalu pergi misa Jumat pertama. Saya coba browsing di internet, tidak banyak info yang bisa saya dapatkan tentang jadwal misa tanggal 1 Januari di Yogyakarta. Ketika saya katakan pada Bapak saya bahwa saya berharap bisa ikut misa di Yogyakarta, Bapak saya bilang,”Pasti bisa, coba saja ke Kota Baru,”. Saya hanya berdoa dalam hati, Tuhan Yesus tolong aku supaya bisa ikut misa.

Sampai di Yogyakarta, saya bertemu, Catherine alias Keket, teman yang juga anggota kelompok teater TEATERRI yang saya dirikan bersama teman-teman. Dia seorang mahasiswi FK Universitas Tarumanegara yang sedang intership di sebuah RS di Yogyakarta.  Saat kami makan, saya katakan pada Keket kalau saya ingin ikut misa jumat pertama. Keket mencari tahu dan akhirnya kami mendapatkan info ada misa jam 17.30 di paroki St Antonius di Kota Baru. Selesai makan kami meluncur ke gereja.  Sempat deg-degan karena jalan menuju gereja macet dan kami harus berputar. Puji Tuhan jam 17.20 kami sudah masuk gereja. 

Saat ikut misa cuma ada rasa syukur yang melimpah karena saya di hari pertama tahun baru ini akhirnya bisa mengikuti perayaan Ekaristi.  Padahal awalnya saya ga yakin bisa ikut misa. But God provided! He made everything possible. Apa yang saya pikir sudah tidak mungkin ikut misa ternyata Tuhan menyediakan satu jadwal perayaan Ekaristi yang pas di gereja yang lokasinya dapat dicapai. He made everything fell at the right time and in the right place. Bukan cuma merayakan Jumat pertama, pada misa kemarin saya bisa merayakan syukur atas hari pertama di tahun baru, juga merayakan Bunda Maria sang Bunda Allah. Dan berjumpa dengan Kristus  secara pribadi dalam komuni dan adorasi. 
 
Bagi saya inilah mukjizat yang Tuhan  berikan pada saya. Inilah mukjizat pertama di tahun 2016. Sering kali kita punya keinginan untuk ikut misa terutama misa harian atau jumat pertama tapi ada saja halangan di depan mata. Entah itu ada pekerjaan, jalanan yang macet. Tapi, jangan pernah berhenti berdoa minta pada Tuhan untuk buka jalan agar kita bisa ke gereja. Tuhan Yesus pasti akan buka jalan dan membuat segalanya mungkin bila ada orang yang rindu berjumpa secara pribadi dengan Yesus. Dan bila mulai muncul kekeringan rohani yang membuat kita malas ke gereja, berdoalah minta  karunia untuk merindukan Yesus. Maka Dia yang lebih dulu merindukan dan mengasihi kita akan melakukan mukjizat-Nya bagi kita untuk berjumpa dengan Dia secara pribadi. 

Selamat Tahun Baru 2016. Rindukan Dia karena Dia lebih merindukan dan mengasihi kita dan Dia mau melakukan mukjizat-Nya untuk kita.  Tinggalah terus di dalam Kristus. 

 Maka sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diriNya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatanganNya. (1Yoh 2:28)



Yogyakarta, 2 Januari 2016