Menyertai Dia


Injil hari ini, yaitu Markus 3:14 sangat menyentuh saya.  Menyentuh tepat di kata-kata “menyertai Dia” 

Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil, dan untuk menerima dari Dia kuasa mengusir setan
Yesus secara khusus, secara istimewa, melalui doa terlebih dahulu, memilih  dan menetapkan 12 orang untuk MENYERTAI DIA.  Buat saya pribadi, kata kata menyertai dia sangatlah indah, dalam dan menunjukkan keintiman yang Tuhan mau wujudkan dalam relasinya dengan kita.  Menyertai Dia di sini sama sekali bukan seperti bos yang meminta anak buahnya ikut dengannya kemanapun dia pergi, bukan seperti guru yang ingin muridnya mengikuti dia, belajar dari dia. Bukan pula seperti tokoh idola yang kita kuntit untuk menyerupai dia. 


Menyertai Yesus berarti ikut ambil bagian dalam keseharian Yesus sebagai Tuhan,  Putra Allah, Guru, Sang Penyembuh, Raja, Imam Agung, Sahabat sejati kita. Menyertai Dia bukan sekedar ikut atau tunduk, tapi aktif berjalan bersama Dia, bersama Yesus melakukan karya-Nya mewartakan Injil, menyembuhkan orang sakit, membebaskan mereka yang terpenjara oleh kuasa jahat.  

Menyertai Dia berarti mengalami salib-Nya dalam kehidupan ini. Menyertai Dia berarti mengalami kebangkitan.  Yesus mau kita menyertai Dia karena Dia mau berbagi, Dia tidak mau sendirian. Dalam segala hal, dalam segala karya dan kehendak Yesus yang Ia mau untuk kita lakukan, Tuhan Yesus mau kita bersama Dia terus. Jadi, menyertai Dia di sini bukan berarti berjalan bersama Yesus saat kita melakukan tugas, karya, pelayanan kita! Tapi menyertai Sia dalam menjalankan kehendak-Nya. So it is all about HIM. Your work, your career, your life, your family, your ministry must be all about Jesus and only for His Glory. Dia mau saya dan Anda ambil bagian dalam tugas istimewa ini.


Menyertai Dia berarti Yesus, sahabat kita, berkata,“Let’s do this, together you and me. I have chosen you to be with Me.” 

Betapa luar biasanya, Yesus. Siapakah kita ini yang Dia pilih secara istimewa untuk mendampingi Dia? Kita yang berdosa yang selalu jatuh dalam godaan, Dia berikan kesempatan untuk bukan sekedar mengikuti Dia saja, tapi juga menyertai Dia. Kita yang selalu mengatakan, hadirlah Yesus bersamaku. Jesus be with me.   Tapi hari ini, mulai saat ini sampai selamanya, Yesus mau kita menyertai Dia.   Jesus says to me, “I want you to be with me.”


The unspoken prayer (Doa yang tak terucapkan) 


Malam tahun baru semalam berlangsung sederhana. Saya dan anak-anak menikmati tontonan gratis di rooftop rumah orang tua saya, kembang api yang spektakuler karena bisa dilihat 360 derajat. Lalu kami berdoa bersama dengan kedua orang tua saya.  

Bila merenungkan perjalanan selama tahun 2016, I feel amazed. Terlebih lagi saya dan keluarga boleh melewati hari hari kami dengan selamat. Saya bersyukur kedua orang tua saya sehat, kakak saya sehat.  Dua anak-anak saya sehat dan tante saya yang membantu mengurus anak-anak pun sehat. Saya bersyukur saya kini bekerja di sebuah perusahaan dengan karakter pekerjaan yang saya sukai dan membuat saya happy dan teman teman sekantor pun sangat hangat dan menyenangkan. Saya bersyukur tahun 2016 saya banyak belajar dalam pelayanan, terutama mewartakan firman Tuhan dan mengajar di beberapa persekutuan doa. Saya bisa travelling ke sejumlah tempat bersama sahabat saya dan juga teman teman saya. Kami berziarah ke pintu kerahiman di Roma dan Vatican, mengunjungi Lourdes juga mewujudkan impian berlibur ke Santorini. Saya bersyukur bisa merayakan Paskah bersama sahabat sahabat saya di pulau Lembata dan Larantuka. Bersyukur bisa melayani para guru di Yogyakarta, bersyukur bisa bertumbuh dan berkembang dalam komunitas gereja.

Ada pula saat saat pahit ketika harus kehilangan sahabat saya yang meninggal dunia bulan Mei lalu. Namun saya percaya apa yang saya dapatkan selama tahun 2016, banyak merupakan jawaban Tuhan atas doa doa yang tak terucapkan. Memang saat doa pribadi, saya mengucapkan banyak doa doa pada Tuhan. Namun saat saya merenungkan kembali perjalanan hidup selama 1 tahun belakangan, barulah saya menyadari banyak hal hal yang terjadi itu merupakan jawaban Tuhan atas doa doa saya yang tak terucapkan. Our God is God of full of surprises. He knows the deepest of our heart. He even knows our unspoken prayer.

Dan pada akhirnya saya melihat Tuhan tidak pernah memberikan yang buruk buat saya. Selalu yang baik. Even pada saat itu mungkin buat saya pribadi bukan sesuatu yng indah atau yang saya kehendaki. Namun Tuhan sanggup mengubah dari keadaan buruk menjadi sesuatu yang baik. Puji Tuhan! Terpujilah Allahku, Bapa, Putra dan Roh Kudus. 

Dan saya percaya, Tuhan pasti menepati janjiNya seperti janji-Nya pada umat Israel. 
Bilangan 6:24-26

TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau;  TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;  TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera

Kita baru saja memasuki tahun 2017. Kita syukuri karena boleh bangun pagi hari ini dan boleh menghirup udara di tahun 2017. Bersyukur boleh memasuki tahun baru dengan selamat. Bersyukur atas penyertaan Tuhan pada kita. Mari kita fokuskan pandangan kita pada Tuhan Yesus, menjadikan  Dia Raja dan Juru Selamat dalam hidup ini.   

Tetaplah berdoa dengan penuh ucapan syukur. Imani setiap doa yang kita ucapkan.  Imani pula akan doa doa yang tak terucapkan oleh mulut kita namun selalu ada dalam batin dan jiwa kita. Biar Roh Kudus yang membantu kita berdoa untuk hal hal tak terucapkan pada Allah Bapa di surga.  Have faith in the unspoken prayer! God will provide!

TUHAN Yesus, berkati dan lindungi kami;  Sinari kami  dengan wajah-Mu dan beri kami kasih karunia-Mu; TUHAN, perlihatkanlah wajah-Mu kepada kami  dan beri kami damai sejahtera.  Amin. 


Selamat Natal dan Tahun Baru. Tuhan memberkati. 

Be ready for God’s surprises in 2017! 

The Power of Love (Part 2)


NOTE: Tulisan ini sebenarnya saya tulis Sabtu 15 Oktober lalu namun belum sempat saya upload.  Hari ini (Kamis 20 Oktober 2016) saya upload untuk melengkapi renungan hari ini karena memiliki kesinambungan. 


Santo Paulus melalui bacaan pertama hari ini nengingatkan betapa dasyat dan hebat kuasa Allah bagi kita yang percaya.  Andai saja kita memiliki iman bahwa Allah melalui Puta-Nya, Yesus Kristus sanggup melakukan apa saja yang terbaik dalam kehidupan kita. Dia sanggup menyembuhkan yang sakit, memulihkan yang terluka batinnya, menyatukan yang terpisah, menguatkan yang lemah. 
Kita semua masih terus bergumul dan belum sepenuhnya memahami dan memiliki iman yang kuat dan besar bahwa Allah sungguh memiliki kuasa yang sangat hebat bagi kita yang percaya (Efesus 1: 19). Sehingga kita yang tidak percaya, sulit untuk mengalami kuasa Allah yang hebat. Yang punya masalah pengampunan akan sulit mengapuni, selamaanya akan membenci orang yang menyakitinya. Yang sakit akan pesimis bisa sembuh karena merasa tal ada lagi harapan.  

Seberapa hebat daya kuasa Allah? Daya kuasa-Nya dalam hidup kita sama hebat-Nya dengan daya kuasa-Nya saat membangkitkan Kristus dari antara orang mati serta menempatkan Dia di sisi kanan Allah dalam surga (Efesus 1:20).  Artinya, kita yang lemah imanya, kering rohaninya, sulit ekonomi, dan apapun pergumulan kita, Allah sanggup membangkitkan kita dan membawa kita pada kemenangan. Asal kita percaya dengan penuh iman serta pengharapan. 

Dan daya kuasa-Nya yang hebat itu tak lain dan tak bukan adalah KASIH ALLAH  itu sendiri. Maka tak heran bila ada ungkapan love conquers all, kasih mengalahkan segalanya.

Lalu bagaimana kita bisa memiliki iman akan kuasa kasih-Nya yang dasyat? Kita mohon doa pada Allah agar mengaruniakan pada kita  Roh Hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar (Efesus 1:17).

Terus kenali dan pahami serta alami Yesus dan kuasa kasih-Nya yang amat hebat dan dasyat yang mampu mengubah diri dan hidup kita melalui doa, Sabda Allah atau Firman, komunitas dan pelayanan.

Tuhan memberkati.

The Power of Love (Part 1)


Saat saya berdoa pagi ini, saya diingatkan dengan kata-kata ini, dimanakah imanmu? 

Tak bisa dipungkiri, saya pun masih punya keraguan, ketakutan, kekhawatiran dalam urusan pekerjaan, keluarga, keuangan, pelayanan dan komunitas.  Pagi ini saya diingatkan untuk kembali menemukan dan membangun iman itu.  Karena sia-sialah bila Tuhan Yesus begitu mengasihi saya dengan melimpahkan banyak berkat dalam hidup saya tapi saat saya menghadapi rintangan, saya mulai tidak yakin bisa melewati semua.

Padahal, Santo Paulus hari ini lewat bacaan pertama dengan sangat luar biasa mengajarkan pada kita  “betapa lebarnya dan panjangnya, dan betapa tinggi dan dalamnya kasih Kristus;” (Efesus 3: 18) 

Jadi, karena kasih-Nya yang tak terukur dan tak terpikirkan ukurannya oleh pikiran kita, pasti kasih itu sanggup membawa kita pada suatu kemenangan. Bukankah Dia sanggup melalukan jauh lebih banyak daripada yang dapat kita doakan atau kita pikirkan seperti ternyata dari kuasa yang bekerja dalam diri ” (Efesus 3:20).  Pertanyaannya, dimanakah iman kita? 

Maka pagi hari ini saya dan Anda diingatkan akan kuasa kasih Allah yang sanggup melawan segala masalah. Ya, saya masih meragukan atau tidak yakin saat melangkah dalam urusan pekerjaan, saat saya harus mengurus dan membesarkan anak anak sendirian sebagai orang tua tunggal, kekhawatiran saat harus membawa pewartaan di beberapa komunitas dengan pertanyaan sanggupkah saya? Hari ini, iman kita dibangunkan. Iman pada Yesus yang sanggup melakukam lebih banyak daripada yang dapat kita doakan atau kita pikirkan.
He is able.   
Have a little faith my friends, faith in the power of His love. 

Selamat Ulang Tahun Bunda Maria


Injil hari ini (Matius 1:1-16, 18-23) diakhiri dengan satu rangkaian kata yang indah … dan mereka akan menamai Dia Immanuel, yang berarti Allah menyertai kita.  (Mat 1:23)

Rangkaian kata itu menutup satu episode kisah tentang asal usul Yesus, Bunda Maria dan Santo Yosef. Rangkaian kata itu menutup kisah panjang keluarga secara turun temurun yang penuh pergolakan, konflik, pergumulan, airmata bahkan darah. Juga menutup rangkaian kisah pergumulan Maria yang mengandung dari Roh Kudus sebelum ia dan Yosef hidup sebagai suami istri. Rangkaian kata itu pula yang menggambarkan betapa Allah benar benar menyertai Yosef yang galau untuk tetap mendampingi Maria.  Allah menyertai kita merupakan peneguhan dan kekuatan bagi Maria dan Yosef melewati badai kehidupan.  

Allah menyertai Maria dan Yosef dengan hadirnya Yesus Kristus. Kasih mengalir begitu kuatnya dalam Yosef sehingga cintanya pada Maria membuat Maria dan nantinya Yesus mampu bertahan melewati masa masa sulit.  Bunda Maria pasti merasakan betapa ia dicintai oleh Santo Yosef.  Dengan sikap Santo Yosef seperti seorang gentleman  itu pasti bikin Bunda Maria klepek-klepek dalam bayangan saya.  

Hari ini kita merayakan Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria. Bunda Yesus mengajak kita untuk menyadari penyertaan Tuhan dalam hidup kita, dalam suka dan duka, dalam kesendirian kita, dalam pergumulan dan sakit penyakit kita. Penyertaan Tuhan dalam hidup Maria adalah melalui kehadiran Yosef suaminya.  Maka, bersyukurlah dan doakanlah orang orang terdekat kita yang telah menjadi tanda penyertaan Tuhan dalam hidup kita. Orang tua kita, pasangan, anak-anak, teman, sahabat.  Sekalipun dalam kesusahan Tuhan tetap hadir menyertai kita.  Bukankah Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana  ? (Roma 8:28)

Marilah belajar dari Santo Yosef yang tulus hati mencintai Maria dan belajar dari Maria yang taat dan setia pada penyertaan Tuhan agar setiap orang yang kita temui merasakanndan menyalami bahwa Allah beserta kita.

Selamat ulang tahun Bunda Maria! 

e6c113ed8e6608028345a6582715b9b5

Hati Hati Dengan Pikiranmu!


f369f08e42922e83bd51b48bd304924c.jpg

Membaca dan merenungkan Injil hari ini (Lukas 6:6-11), saya membayangkan wajah-wajah para ahli Taurat dan orang-orang Farisi.  Yang terlihat dalam imaginasi saya adalah wajah-wajah yang keji, penuh kebencian dan dengki.  Asem dan nyebelin. Ya, bayangkan saja kalau ada orang yang mengamat-amati sambil mengharapkan orang yang dilihatnya ini melakukan suatu kesalahan (Luk 6:&).  Meskipun ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi ini tidak mengeluarkan kata-kata, hanya sekedar mengamati namun Yesus tahu pikiran mereka (Luk 6:8)

Dalam keseharian, kita pun sering tidak mengeluarkan kata-kata pada orang yang tidak kita sukai.  Namun tatapan kita menghakimi, menyalahkan, menyudutkan, menghukum dia.  Ada saat-saat saya jatuh dalam godaan memiliki pikiran negatif terhadap orang lain.  Saya memang tidak mengucapkan kata-kata yang mengungkapkan pikiran negatif itu pada orang ini, tapi tatapan saya berbicara betapa saya meremehkan, merendahkan, tidak menyukai orang ini.  Semuanya bisa disimpulkan dengan kalimat sederhana. Dalam berpikir pun saya tidak memiliki kasih.

Hari ini Injil mau mengajarkan pada kita, the power of your evil mind.  Lihat orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat.  Pikiran jahat mereka terhadap Yesus telah membuahkan perbuatan jahat.  Pikiran jahat melahirkan kebencian, amarah dan membuahkan kekejian.  Pada akhirnya, Yesus mati di kayu salib.  Evil mind leads to evil things.  Sungguh mengerikan!

Sebaliknya, Yesus justru menunjukkan hati yang bersih dan penuh kasih.  Kemurnian dan kebenaran yang dimiliki Yesus, telah menghasilkan perbuatan kasih.  Karena kasih, Yesus melakukan sesuatu pada orang yang mati tangannya (Luk 6:8) dan menyembuhkannya.  Kebalikan dari pikiran jahat yang membuahkan maut, cinta kasih menghasilkan berkat! Kejahatan membawa kita pada kematian, namun kebaikan membawa kita pada kehidupan.

Santo Paulus dalam bacaan pertama (1Kor 5:6) mengingatkan bahwa sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan.  Sedikit saja pikiran jahat terbesit pada diri kita, bisa berkembang dan membuahkan perbuatan dosa, seperti yang terjadi pada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat.

Kita bisa menjadi pelaku keburukan dan kejahatan yang fatal.  Hanya dengan menatap seseorang dengan negatif, dengan kebencian, meremehkan, merendahkan, menghakimi, kita telah membunuh karakter orang itu.  Bukan itu yang Tuhan Yesus kehendaki.  Ia mau kita jadi manusia baru yang murni dan penuh dengan kebenaran.

Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus. Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran. (1Kor 5:7-8)

 

Aku yang mengasihimu



Aku yang tidak pernah meninggalkanmu

Aku yang selalu menyertaimu
Menemanimu dalam kesendirianmu
dalam keheningan dalam malammu
Aku yang ada di sampingmu
saat kau bekerja, saat kau tidak tahu harus berbuat apa, saat kau merasa kalah dan tak berdaya

Aku yang selalu menghampirimu
saat kau tak mampu lagi mengenaliku
Aku yang mengasihimu, mencintaimu
tiada batas tiada henti tanpa mengenal waktu

Aku ada disini karena Aku mengasihimu

Aku mencintaimu.

Jakarta, 26 Agustus 2016 dalam sebuah pujian penyembahan pribadiku