Renungan Liturgis Selasa 28 September 2010: Semoga Doaku sampai ke hadiratMu, ya Tuhan


Refrain Mazmur (Semoga doaku sampai ke hadiratMu ya Tuhan) hari ini sungguh membuat saya tersentuh sekaligus “menegur” saya akan bentuk doa saya selama ini.
Ada saatnya saya berdoa seperti Nabi Ayub, terutama saat menderita, mengalami masalah. Doa saya penuh keluhan, penuh penyesalan. Kenapa mesti begini, kenapa begitu. Tahu gini, gak usah deh begitu begini. Doa yang sungguh sia-sia karena full of whinning of all things that I have decided on my very own behalf or will to do them anyway. Doa saya juga ada yang “bernuansa” seperti dua murid Yesus yang kesal karena ditolak di desa orang-orang Samaria lalu “ngadu” sama gurunya, yakni Yesus dan bilang ” apa sekalian kita turunin api aja nih ke orang-orang yang ngeselin itu?”
Mungkin secara verbal saya tidak explicitly mengucapkan hal itu saat doa, tapi apa bedanya kalau dalam keseharian sikap saya ya seperti Yakobus dan Yohanes? Mengumpat penuh dendam, mengutuk, nyumpahin dengan niat busuk? Yesus justru mengingatkan kita semua untuk tidak berbuat seperti itu tapi sebaliknya, menghadapi mereka yang menolak kita dengan penuh kasih, misalnya dengan mendoakan mereka.

Intinya, dalam keadaan yang menderita, penuh persoalan yang menjengkelkan, memusingkan, hendaknya kita bersikap penuh kerendahan hati. Bukankah itu sikap yang dimilik Yesus yang dilandasi oleh cintanya yang begitu besar? Berkat kerendahan hati itu pula,kita dimampukan oleh Kuasa Roh Kudus untuk bermazmur seperti ini “…Biarlah doaku datang ke hadapan-Mu, sendengkanlah teling-Mu kepada teriakku”
Saya benar-benar suka dengan ayat Mazmur ini, ayat yang penuh kerendahan hati. Saat kita sudah tidak tahu lagi harus bagaimana, alias istilahnya ‘udah mentok’ dihimpit persoalan, sungguh ayat sederhana ini menjadi sangat powerful. Tak perlu beruntai kata-kata indah namun tak bermakna apapun. Semua itu cukup dirangkum dengan serangkaian kata penuh pengharapan akan kuasa Allah dari kita umatnya yang sangat lemah ini.
Hari ini, pagi ini. Saat saya berdoa pagi dan merenungkan firman Tuhan, saya menyadari kalau saya sering banyak maunya. Tapi sering saya lupa saat berada bersama Tuhan, saya tidak perlu, tidak butuh ini itu. Bersama Dia cukup! Dia akan cukupkan saya! Dan doa saya pagi ini ditutup dengan permohonan sederhana tanpa ada embel-embel permohonan ini itu. Semoga doaku sampai ke hadiratMu ya Tuhan !
Amin!

God so totally loves you and me!

Fanny Rahmasari

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s