Renungan Liturgis 1 Oktober 2010: Terimakasih S. Teresia Lisieux atas kesederhanaanmu


Terus terang saya dulu kurang familiar dengan santa yang satu ini.
Setelah ikut retret beberapa kali di Cikanyere, baru saya ngeh dengan Santa Teresia Lisieux yang sungguh-sungguh luar biasa. Anda semua bisa google untuk cari tahu siapa sebenarnya sosok perempuan satu ini. Saya hanya akan membahas disini, mengapa saya begitu terpesona dengan dirinya, dan bagaimana dia telah menginspirasikan saya untuk meneladani kesederhanaannya.

Apa yang membuat saya kagum?
Santa Teresia Lisieux yang bernama asli Marie Francoise Therese Martin ini bukan siapa-siapa tapi karya-karya tulisnya menunjukkan dia murid Yesus yang sejati. Lewat tulisannya, kita tahu betapa ia menjunjung kekudusan dan mempersembahkan hidupnya untuk Tuhan dengan hal-hal yang sederhana. Juga dalam keseharian! Melalui referensi yang saya baca, Teresia tidak bersungut-sungut,mengeluh meskipun keadaan kurang menyenangkan di biara tempat dia hidup. Entah terkait para rekan atau senior biarawati yang mungkin kurang cocok dengan dirinya, entah terkait soal makanan yang tidak enak. Buat Teresia, kalau makanan gak enak, ya nikmati saja. Itu ia anggap bentuk pengorbanan sekaligus syukur pada anugerah Tuhan. Now, that is the keyword! Simplicity! Sederhana.

Kalau membaca tulisan-tulisan Santa Teresia Lisieux, saya rasanya kayak ditabok. Teresia ‘cuma’ seorang gadis muda, biarawati, sakit-sakitan pula. Dia bukan wanita kosmopolitan, bukan manager atau eksekutif.
Bukan dari kalangan sosialita atau selebriti papan atas, tapi lihatlah Paus Yohanes II pada tahun 1997 memberinya gelar Doctor of the Universal Church atau doctor gereja lewat surat apostoliknya bertajuk Divini Amoris Scientia. Jangankan melakukan pewartaan ke luar negeri, ke luar biaranya pun Teresa tidak pernah dapat kesempatan itu.
Tapi justru itulah kehebatan Tuhan kita. Dia memakai orang-orang sederhana sebagai alatnya mewartakan kabar gembira.
Lewat Teresia Lisieux, kita diingatkan bahwa kita bisa menyenangkan hati Tuhan melalui perbuatan-perbuatan sederhana.
Kita bersyukur dan memurnikan diri lewat hal-hal sederhana sesuai dengan keadaan dan talenta kita.

Saya bersyukur beberapa hari lalu saya mendapat hikmat dari Allah Roh Kudus. Saya membuat sebuah program khusus di bulan Oktober yang saya namai 31 Day Rosary (lebih detail tentang latar belakang dan tujuan program ini akan saya ceritakan di blog saya https://happytobecatholic.wordpress.com dalam waktu dekat ini).
Selama bulan Oktober ini, saya akan berdoa 1 kali doa rosario setiap harinya dengan 1 ujud doa yang berbeda-beda. Ujud doa itu tidak datang dari permintaan saya, tapi ujud doa dari orang-orang yang punya permintaan khusus agar didoakan. Siapa saja bisa minta didoakan. Program ini saya publish di akun twitter saya dan Puji Tuhan sudah ada beberapa orang yang minta didoakan. Yang menarik adalah semua yang minta didoakan sampai saat ini adalah followers saya yang tidak saya kenal secara pribadi. Namun, bagi saya itu tidak jadi masalah. Ini merupakan pengalaman menarik buat saya. Saya sendiri sudah punya beberapa pengalaman doa saya dikabulkan lewat perantaraan Bunda Maria dalam bentuk Novena. Selain itu, setahun belakangan ini, saya baru bisa merasakan dashyatnya doa rosario. Itulah sebabnya, pada Oktober tahun ini, sebagai ungkapan syukur atas segala rahmat yang saya terima lewat perantaraan Bunda Maria, saya persembahkan 1x rosario setiap harinya, dengan ujud doa yang bukan dari saya pribadi. Saya berjanji, saya akan mendoakan orang lain. Saya ingin belajar berbagi, tidak egois dengan cara mendoakan orang lain. Saya ingin belajar melayani sesama saya yang butuh lebih banyak dan sering didoakan. Saya mau belajar mengorbankan sebagian dari waktu dan kepentingan pribadi untuk berbuat sesuatu yang menyenangkan Tuhan dan manusia ciptaanNya. Mungkin saat ini, cara saya berbagi bukan secara materi dengan jumlah yang fantastis.
Mungkin saat ini, saya bukanlah Presiden atau Menteri atau Anggota Dewan yang punya power untuk make a difference untuk rakyatnya. Saya juga bukan aktifis, selebriti dunia yang punya masa untuk mempengaruhi mereka mengubah dunia. Tapi untuk saat ini saya coba dengan cara yang simple yakni berdoa rosario untuk orang lain.
Saya berharap dari program ini saya mendapatkan pelajaran arti bersyukur, arti mencintai dan berbagi dengan serta berkorban untuk sesama. Ajaran Teresia Lisieux yang kita refleksikan dalam perayaan hari ini semakin meneguhkan saya untuk menjalankan program ini.

Saya ceritakan program ini karena saya ingin sharing pada Anda sekalian tentang bagaimana baiknya Tuhan mengajarkan kita akan hal-hal sederhana. Dan Dia bahkan memberikan kita contoh para Santa/Santo dan orang-orang Kudus.

Semoga pengalaman dan sharing iman ini dapat membantu Anda semakin dekat dengan Allah lewat hal-hal sederhana.

I am a very little soul, who can offer only very little things to the Lord. I will spend my Heaven doing good on earth. After my death I will let fall a shower of roses.

 (Theresia Lisieux)

Sumber: Ruah Oktober 2010,sacredspace.ie/livingspace, http://www.catholic.org
Foto: http://www.maria-garcia.com/ teresa-lisieux.jpg

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s