Tema Harian Talkshow Devosi Maria 2010


HARI 1

MARIA DIPERSIAPKAN ALLAH MENJADI HAWA BARU

Tanggal:             Jumat 8 oktober 2010

Pembicara:       Mgr. Johannes Pujasumarta, Pr (Uskup Bandung)

Pasangan Suami Istri Sinarahardja

Moderator:       Lilik Agung

MC:                      Didi

Koor:                  Paroki Santo Stefanus (Juara I Festival Paduan Suara Devosi Maria 2010)

Sebelum menciptakan Hawa sebagai pendamping Adam,manusia ciptaanNya yang pertama (Kej 2:18) Tuhan Allah berfirman :” Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya yang sepadan dengan dia.” Kemudian  Allah menciptakan perempuan dari tulang rusuk pria.

Dalam kitab Kejadian dinyatakan maksud Allah dalam menciptakan Hawa yaitu sebagai pendamping yang sepadan, agar dapat menjadi penolong bagi Adam. Tapi Hawa ternyata tidak mengikuti kehendak Allah dan dalam perjalanannya justru Hawalah yang dipakai ular untuk menggoda Adam melakukan hal yang dilarang Allah. Hawa tergiur bujukan ular dan berharap dengan memakan buah terlarang itu maka suaminya akan sehebat Allah. Hawa telah gagal menjalankan perutusannya sebagai pendamping yang diharapkan menjadi penolong bagi Adam sehingga manusia itu diusir dari kebahagiaan hidup di taman Firdaus,berpeluh untuk mencari nafkah dan akan mengalami kematian dan kembali menjadi tanah.

Atas kegagalan Hawa maka Allah mempersiapkan Maria sebagai Hawa Baru dan membuat perhitungan dengan ular itu, ( Kej 3:15) “… Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya akan meremukkan kepalamu… . Hal ini membuktikan bahwa Allah telah lama memilih Maria sebagai Bunda PuteraNya yang akan  meremukkan kepala ular itu dengan melahirkan Yesus sang Juruselamat.( Yes 7:14) Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikanmu suatu pertanda : Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imannuel. Peran utama adalah Yesus sang Juruselamat yang telah mengalahkan maut  dengan kebangkitanNya dan Maria adalah Hawa baru yang dipersiapkan menjadi pendamping Yesus dalam mewujudkan rencana Allah.

Terlihat bagaimana besarnya peranan perempuan sebagai pendamping yang diciptakan Tuhan dari tulang rusuk laki-laki.Hawa lama yang membuat Adam jatuh kedalam dosa dan Maria sebagai Hawa baru yang taat akan Tuhan dalam mewujudkan rencana penyelamatan. Sungguh tepat dikatakan, “Dibelakang laki-laki yang sukses ada wanita yang hebat”.

Saat ini semakin banyak muda – mudi kita mengalami kesulitan dalam menemukan pendamping sehingga sampai waktunya belum juga menikah. Apa yang sering menjadi kendalanya? Sebagai orang tua bagaimana kita membantu anak-anak dalam memilih pasangannya? Kriteria apa yang dapat dijadikan dasar pemilihan pasangan hidup? Bagaimana dengan pasangan suami isteri yang menyadari mereka telah salah pilih karena pendampingnya  seperti Hawa lama yang membuat mereka melanggar kehendak Allah?

Hari ke II

MARIA MENJAWAB PANGGILAN ALLAH

Tanggal:              Sabtu 9 oktober 2010

Pembicara:       Romo Ign. Soesilasoewarna, MSC (Moderator Choice)

Sdri. Ona Kerans FMM (Postulan)

Moderator:      Jenny Tan

MC:                     Devina & Calista

Koor:                 Paroki Santo Yosef (Finalis Festival Paduan Suara Devosi Maria 2010)

Kata Maria “sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu”. Lalu malaikat itu meninggalkan dia (Luk 1:38). Dan panggilan hidupnya untuk mengabdi pada Allah yang begitu dicintainya berawal saat itu.

Maria menjawab panggilan Allah, keimanan yang begitu besar yang dimilikinya sangat jelas ditunjukkan pada peristiwa ini. Saat malaikat utusan Allah mendatanginya dan menyampaikan rencana kasih Allah pada umat manusia, saat itu pula Maria menjawab YA dan menunjukkan kerendahan hatinya sebagai hamba Allah dan kepasrahan yang didasari iman yang begitu total sehingga dia siap apapun yang akan terjadi atas dirinya menurut kehendak Allah.

Panggilan hidup yang begitu berat, mengandung tanpa suami dan akan menjadi ibu seorang Anak yang akan menjadi Juruselamat,yang akan menanggung dosa seluruh umat manusia. Kedatangan malaikat itu sangat singkat. Maria bahkan tidak mendapat gambaran detail akan kesulitan,penderitaan yang akan dihadapinya atas rencana Allah itu. Maria pun tidak meminta penjelasan apa yang akan diperolehnya sebagai kompensasi atas panggilan itu. Tapi karena keimanannya dia percaya semua rencana Allah dalam hidupnya akan indah. Karena keimanannya pulalah Maria yakin bahwa Allah telah mengatur segala sesuatunya sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Dalam menjalani hidup saat ini, seringkali kita kesulitan dalam memahami apa yang menjadi panggilan hidup kita. Tidak ada malaikat yang datang untuk menyampaikan pesan Allah seperti yang dialami Bunda Maria. Banyak persoalan dimana kita dihadapkan pada conflict interest yang memaksa kita untuk memilih dan mengambil keputusan yang sangat penting dan kita tidak tahu apa yang dikehendaki Allah bagi diri kita. Hal ini pula yang sering menjadi alas an bagi para mudika kita, Tidak merasa Terpanggil sehingga menjadi masalah dalam kekurangan imam di gereja kita. Bagaimana calon biarawan dan biarawati merasa terpanggil dalam hidup membiara? Apa yang sering menjadi penyebab para imam memutuskan untuk keluar dari pelayanannya sebagai imam? Dan sebagai umat yang juga memiliki tanggung jawab terhadap keberadaan para gembala umat Allah, apa yang harus kita lakukan?
HARI KE 3

MARIA MELAHIRKAN YESUS DI KANDANG DOMBA

Tanggal:              Minggu 10 Oktober 2010

Pembicara:        Romo A. Susilo Wijoyo, PR (Komisi Liturgi KAJ)

Adi Kurdi

Moderator:       Ajeng Kamaratih

MC:                      Devina & Calista

Koor:                   Paroki Santo Fransiskus Asisi (Finalis Festival Paduan Suara Devosi Maria 2010)

(Lukas 2:6-7)Ketika mereka disitu tibalah bagi Maria untuk bersalin dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin, dan dibaringkannya didalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka dirumah penginapan.

Injil Lukas diatas mencerminkan kemiskinan, keadaan yang tidak layak yang dirasakan Maria sebagai istri dan calon ibu yang hendak melahirkan. Tidak ada fasilitas memadai yang bisa diberikan Yusuf suaminya si tukang kayu  dalam menyambut anak sulung mereka. Kesederhanaan yang dipandang sebagai kehinaan ketika seorang anak dilahirkan di kandang hewan, hanya dibungkus kain lampin tipis dimalam yang dingin dan diletakkan pada tempat makanan hewan yang sangat tidak manusiawi. Sangat kontras dengan keagungan anak  Allah yang dilahirkannya, keagungan sebagai bunda pilihan  Allah.

Apakah Maria sebagai istri protes pada suaminya atau mengeluh pada Allah? Maria tidak merasa cemburu dan membandingkan keberadaan wanita lain yang mendapat kenyaman yang layak diterimanya sebagai istri dan ibu. Dia tidak berkecil hati menerima keadaan Yusuf suaminya yang hanya seorang  tukang kayu yang tidak kaya dan tidak memiliki jabatan penting hingga tak ada tempat bagi mereka pada saat Putra Allah akan dilahirkan. Dalam kehidupan sehari – harinyapun, Maria sebagai perempuan pilihan Allah tetap menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga yang membersihkan rumah, membuat roti dan memelihara dan mendampingi Yesus sampai wafat dengan kesederhanaan. Semua dilakukannya dengan ikhlas dan penuh sukacita.

Gambaran keluarga kudus Nazareth ini mengusung thema kesederhanaan dan ketaatan akan Allah. Sebagai umat Katolik, kita diharapkan dapat meneladani keluarga kudus ini. Tetapi masalah utama di Negara kita saat ini adalah KORUPSI dimana tujuannya adalah untuk memperkaya diri sendiri tanpa memikirkan kerugian atau pengaruhnya bagi kehidupan orang lain. Korupsi telah mewabah bukan hanya dari kalangan atas dan menengah saja,bahkan pada level terendahpun berusaha melakukan korupsi untuk memperkaya diri sendiri,memuaskan keinginan istri dan anak. Posisi atau jabatan  yang dipercayakan masyarakat malah mendorong untuk memanfaatkan peluang untuk menikmati fasilitas bagi diri dan keluarganya. Korupsi dianggap telah membudaya pada masyarakat Indonesia. Mengapa hal ini bisa terjadi dan bagaimana sikap kita menghadapinya?  Adakah peranan anggota Keluarga dalam hal ini yang dapat memicu tindakan Korupsi yang sangat merugikan masyarakat tersebut? Dan bagaimana seharusnya kita  diharapkan dapat meredam tindakan korupsi ini?

Mari kita lihat dan teladani sikap Yusuf,Maria dan Yesus  sebagai anggota keluarga Kudus Nazaret.  Bagaimana Yusuf yang hanya tukang kayu ini tidak protes pada Allah dan menunjukkan yanggung jawab atas apa yang harus diembannya berkenaan dengan kehendak Allah pada Maria tunangannya. Dan Maria, wanita pilihan Tuhan ini  menerima segala keadaan yang sangat memprihatinkan dengan sukacita.


HARI KE 4

NUBUAT SIMEON ;JIWA MARIA AKAN DITEMBUS PEDANG

Tanggal:              Senin 11 Oktober 2010

Pembicara:        Romo St. Endrokaryanto SCJ (Romo Paroki St. Stefanus – Cilandak)

Sri Suari Wahyudi

Moderator:       Lilik Agung

MC:                      Didi

Koor:                  Paroki Santo Nikodemus (Finalis Festival Paduan Suara Devosi Maria 2010)

Maria dan Yusuf membawa putra sulungnya yang genap berusia 8 hari ke Bait Allah untuk disunatkan sesuai dengan Hukum Taurat Musa dan memberinya nama Yesus sesuai dengan nama yang diberi Malaikat saat Maria tengah mengandung. Pada saat itu pula Simeon seorang yang benar-benar saleh dan dipenuhi Roh Kudus dan   kepadanya di janjikan tidak akan mati sebelum melihat Mesias melihat Yesus dan seketika bersorak gembira dan mnyatakan pada Allah bahwa dia telah siap menghadap Tuhan karena sesungguhnya Simeon yang telah dipenuhi Roh Kudus tahu Yesuslah keselamatan yang dijanjikan Allah.

Sungguh Simeon dipenuhi Roh Kudus sehingga mata hatinya dapat melihat ke Allahan Yesus dan ucapannya  berasal dari Allah. Sehingga dapat dibayangkan betapa terkejutnya Maria mendengar kata Simeon setelah memberkati Yesus. Simeon berkata pada Maria(Lukas 2:35)…. Dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.

Bagi Maria apa yang di nubuatkan Simeon akan takdirnya karena terpilih menjadi ibu Yesus pastilah sangat menakutkan. Sangat  berbeda dengan kabar gembira yang sebelumnya disampaikan oleh Malaikat Gabriel karena Allah berkenan padanya. Tapi Maria yang begitu mencintai Allah sama sekali tidak gentar dan mundur. Dia siap merasakan sakitnya jiwanya kelak atas panggilan yang digenapinya supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.

Saat ini banyak juga wanita – wanita yang berjiwa besar sebagaimana Maria saat mendengar Nubuat dari Simeon.  Wanita – wanita yang menerima tanggung jawab yang dapat membahayakan jiwanya tapi mereka menjalankan tugasnya karena percaya bahwa Allah telah merencanakan segala sesuatu bagi mereka. Pekerjaan seperti perawat bagi  penderita Aids,tenaga sukarelawan yang bersedia dikirim ke daerah yang sedang mengalami konflik dll.

Keberanian atas panggilan itu demi orang lain menimbulkan pertanyaan, Mengapa mereka mau melakukannya? Adakah alasan lain yang mendasarinya selain rasa kemanusiaan? Apa yang mereka harapkan dari tanggung jawab tersebut?


HARI KE 5

MARIA MENYIMPAN SEMUA PERKARA DALAM HATINYA

Tanggal:              Selasa 12 Oktober 2010

Pembicara:        Romo Frietz R. Tambunan, Pr

Ria Tumeon

Moderator:        Tino

MC:                       Fanny Rahmasari

Koor:                   Paroki Santo Ana (Finalis Festival Paduan Suara Devosi Maria 2010)

Dalam suatu perayaan Paskah yang selalu dirayakan Keluarga Kudus Nazareth ini di Yerusalem setiap tahunnya, terjadi sesuatu yang sangat menakjubkan bagi Maria. Saat itu Yesus berumur  12 tahun. Maria dan Yusuf sempat khawatir dan harus kembali ke Yerusalem karena pada saat itu ternyata Putra nya tidak pulang bersama mereka dan kelompoknya.

Ketika tiba kembali di bait Allah  betapa kagum dan tercengangnya Maria dan Yusuf melihat kecerdasan anaknya dalam menjawab segala pertanyaan – pertanyaan yang diajukan padaNya. (Lukas 2:47) Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasanNya segala jawab yang diberikanNya. Ketika orang tuanya melihat dia tercenganglah mereka lalu kata ibunya kepadanya, “mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau?

Bisa dibayangkan walaupun sempat khawatir tetapi betapa bangganya Maria sebagai ibu yang memiliki anak dengan kecerdasan seperti Yesus pada saat itu. Putra sulungnya menunjukkan bakat yang tidak lazim yang dimiliki anak 12 tahun. Tapi Maria sebagai ibu yang memeliharanya tidak sepatah kata pun  menyombongkan dirinya dan menganggap dirinya adalah orang yang mendidik Yesus hingga  membuat orang kagum. Dia menyimpan semuanya dalam hatinya, ( Lukas 2:51 ) Lalu Ia pulang bersama – sama mereka ke Nazareth ; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu- Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.

Gambaran seorang ibu yang memiliki kasih yang begitu tulus, tak sedikitpun merasa ingin “tampil” ketika anak yang dibesarkannya berhasil. Seorang ibu yang memiliki kasih sepanjang masa pada anaknya, yang tidak mengharapkan apapun dari kehebatan anaknya. Seperti dalam bait sebuah lagu anak tentang Kasih Ibu,…. Hanya memberi tak harap kembali,bagai sang surya menyinari dunia.


HARI KE 6

MARIA MENJADI PERANTARA BAGI MANUSIA

Tanggal:              Rabu 13 Oktober 2010

Pembicara:        Romo F. Subroto Widjojo, SJ (Moderator BPK-PKK KAJ)

Meike Lolong

Moderator:        Mayong Suryolaksono

MC:                        Didi

Koor:                    Paroki Stella Maris (Finalis Festival Paduan Suara Devosi Maria 2010)

Pusat hidup Maria adalah Yesus. Dia adalah ibu yang melahirkan dan membesarkannya dan sekaligus pula menjadi muridNya yang paling setia. Sehingga atas permohonan Maria pula lah Yesus akhirnya melakukan mukjizatnya yang pertama pada pesta perkawinan di Kana walaupun sebenarnya pada saat itu Yesus merasa belum waktunya mengadakan mukjizat atau menunjukkan ke Allahan Nya di depan manusia. “ … Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan : “ Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” ( Yoh.2:5)

Dari Kisah Injil Yohannes diatas terlihat betapa Maria lah yang begitu peka akan permasalahan yang terjadi dalam pesta perkawinan itu dan Maria pulalah yang paling berinisiatif untuk memberitahukan pada  Yesus Putranya. Karena kepercayaannya yang besar akan kuasa Yesus pula sehingga dia mendesak pelayan-pelayan itu untuk menuruti dan melakukan apa saja yang di kehendaki oleh putranya.

Maria menjadi perantara bagi pemilik pesta perkawinan di Kana itu untuk meminta bantuan pada Yesus. Walaupun pada saat itu Yesus merasa belum waktunya untuk melakukan mukzijat tapi karena yang memintaNya adalah Maria, ibunya yang begitu mencintaiNya dan menunjukkan kepercayaan yang begitu besar pada Kuasanya membuat Yesus tak dapat menolak permohonan Maria. Dia menjadi perantaraan dalam menyelamatkan pesta perkawinan di Kana tersebut dari perkara yang sepertinya tak ada jalan keluarnya. Bahkan dikatakan pesta tersebut bukan hanya terhindar dari rasa malu karena adanya masalah kekurangan anggur  tetapi malah mendapat pujian para tamu karena menyimpan anggur yang lebih baik sampai akhir pesta.

Maria, adalah mempelai Allah, Bunda Yesus dan Bunda pertolongan abadi bagi kita. Bagaimana kita mewujudkan keyakinan tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari? Dalam kehidupan kita yang penuh pergumulan, pencobaan dan kesulitan yang kita hadapi saat ini pun kita dapat mengandalkan Bunda Maria ( Per Mariam ad Jesu )sebagai perantara yang akan membawa semua permohonan kita kepada Yesus. Seperti dalam kutipan Doa Novena Tiga Salam Maria yang telah diajarkan pada kita, ……. Oo Ibu yang Kuasa dalam permohonan, sudilah kiranya Ibu meneruskan permohonanku ini kehadirat Puteramu, yang pasti tidak akan menolakmu. Amin


HARI KE 7

MARIA DIBAWAH KAYU SALIB

Tanggal:         Kamis 14 Oktober 2010

Pembicara:  Romo B.S Mardiatmadja, SJ (Bidang Teologi KAJ)

Angel Pfaff

Moderator:  Lilik Agung

MC:                  Fanny

Koor:              Paroki Fransiskus Xaverius (Juara 3 Festival Paduan Suara Devosi Maria 2010)

(Yoh. 19:25) Dan dekat salib Yesus berdiri ibuNya…

Maria yang mengetahui siapa sebenarnya Yesus, dalam persidangan tak dapat berkata apa-apa untuk membela anaknya ketika orang-orang ingin menyalibkanNya atas kebenaran yang Dia ucapkan bahwa Dia sungguh anak Allah. Maria menerima putusan yang sangat tidak adil bagi putraNya. Dia menunjukkan kesetiaannya dalam mendampingi Yesus saat mulai disiksa dan dianiaya dihadapannya. Dan sebagai puncak dari kesedihannya adalah saat Putra tunggal yang begitu dicintainya akhirnya harus wafat dikayu salib.

Pada waktu itu sebenarnya usia Maria sudah tidak mulai tua. Tapi Maria,wanita yang begitu lembut menunjukkan ketegaran hatinya untuk tetap mendampingi putranya dalam menjalankan tugas penyelamatan. Dia menyaksikan setiap pukulan, siksaan, cibiran hinaan yang dilakukan umat yang sangat dikasihinya. Dihadapannya Putranya menghembuskan nafas terakhirnya. Dia hanya memandang dari bawah kayu salib. Tak dapat dibayangkan kesedihannya pada saat itu. Dia menerima jasad Yesus yang  diturunkan dari kayu salib.Maria memandang putranya yang sudah tak bernyawa lagi dalam  pangkuannya.

Tak ada yang melebihi kesedihan seorang ibu yang menyaksikan anaknya meninggal. Walaupun karena keimanan kita percaya bahwa jika orang yang kita kasihi meninggal berarti kembali kerumah Bapa, kembali kepada sang pencipta. Bukankah dikatakan jika seorang anak baru dilahirkan, dia akan menangis tetapi keluarganya merasa bahagia dan jika seorang anak meninggal maka percayalah anak itu merasa bahagia karna telah kembali kepangkuan Bapa disurga tetapi keluarganya akan menangis.

Bagaimana kita menghadapi kematian dalam keluarga ? Dapatkah kita meneladani ketegaran Maria yang tidak protes sedikitpun walaupun harus kehilangan anak yang dikasihi ? Bagaimana menghilangkan perasaan adanya ketidak adilan karena adanya kematian yang rasanya tidak wajar? Haruskah kita menuntut jika seorang anggota keluarga kita akhirnya meninggal karena kesalahan orang lain seperti karena ditabrak atau akibat dugaan adanya mal praktek? Marilah kita dapat meneladani ketegaran Bunda Maria dalam menerima segala sesuatunya sebagai kehendak dari Bapa. Amin

HARI KE 8

MARIA MENJADI IBU BAGI MURID YESUS

Tanggal:              Jumat 15 Oktober 2010

Pembicara:        Mgr. Ign. Suharyo Hardjoatmodjo (Uskup Agung Jakarta)

Jusuf Suroso

Moderator:       Rosiana Silalahi

MC:                      Didi

Koor:                  Paroki Santo Leo Agung (Finalis Festival Paduan Suara Devosi Maria 2010)

(Yoh.19;26-27) Ketika Yesus melihat ibuNya dan murid yang dikasihiNya disampingnya berkatalah Ia kepada ibuNya,“Ibu inilah anakmu kemudian katanya kepada murid-muridnya inilah ibumu”. Dan sejak saat itu murid itu menerima dia didalam rumahnya.

Selagi mengalami penderitaan yang luar biasa, Yesus menunjukkan kasih dan perhatian yang luar biasa pada ibuNya. Tubuhnya yang telah dipaku dikayu salib dan kesakitan yang hampir pada puncaknya tak membuatnya melupakan ibuNya yang begitu setia mendampingiNya. Mengetahui bahwa saatnya telah tiba, Yesus  masih memikirkan kesendirian dan rasa kehilangan yang akan dialami bundaNya sesaat lagi, setelah dia wafat. Karenanya sebelum menyerahkan jiwaNya pada Bapa dia berpesan kepada murid yang dikasihiNya untuk menganggap ibuNya dan menerima Maria dirumahnya seperti bacaan injil Yohanes diatas.

Marilah kita sejenak mengingat pesan – pesan terakhir keluarga yang kita kasihi yang lebih dahulu meninggalkan kita. Setiap orang selalu ingin mewujudkan, melaksanakan setiap pesan terakhir yang disampaikan anggota keluarga yang tengah menghadapi sakratul maut. Hal ini menunjukkan bakti dan penghormatan dalam mengabulkan keinginan mereka. Bagaimana kita menanggapi pesan terakhir Yesus, Juruselamat yang begitu kita cintai? Bukankah kita juga murid yang dikasihiNya?

Pesan terakhir Yesus adalah harapanNya pada Maria dan pada kita, seluruh umat sebagai murid yang dikasihiNya. Yesus meminta Maria memperlakukan kita sebagai anaknya. Yesus mempercayakan kita untuk dibimbing,diasuh,dikasihi oleh Bunda Maria layaknya kasih seorang ibu pada anaknya. Dan pada kita umatNya agar menerima Maria dan memperlakukannya sebagai ibu seluruh muridnya dan menerima Maria dirumah kita dan berbakti kepadanya.

Konsili Vatikan II juga mendorong semua putra gereja untuk mendukung kebaktian pada Bunda Maria untuk menghargai pengalaman baktinya dan mengikuti jejak-jejaknya. Melakukan pesan Yesus untuk menerima Maria sebagai ibulah yang mendorong kita untuk berbakti pada san Bunda. Dengan devosi dan kebaktian kepada Maria. Bakti itu bersumber pada iman yang sejati, yang mengajak kita mengakui keunggulan Bunda Allah, dan mendorong kita sebagai putra-putraNya mencintai Maria sebagai bunda kita dan meneladan keutamaan – keutamaannya.

HARI KE 9

MARIA BERMAHKOTA 12 BINTANG DIKEPALANYA

Tanggal:              Sabtu 16 Oktober 2010

Pembicara:        Romo Y. Subagyo, Pr (Vikjen KAJ)

Sumarsih (Ibunda Alm. Wawan, korban Peristiwa Semanggi)

Moderator:        Tino

MC:                       Fanny

Koor:                   Paroki Santo Kristoforus (Juara 2 Festival Paduan Suara Devosi Maria 2010)

Setelah menyelesaikan perjalanan hidupnya didunia, Maria diangkat pada kemuliaan di surga beserta badan dan jiwanya. Karena kesuciannya Maria tidak terkena hukuman atas`dosa asal yang dijatuhkan pada dunia. Keimanan dan kecintaan akan Allah total ditunjukkan dalam penyerahan dirinya yang suci. Dalam kepasrahan dia mengandung tanpa mengenal pria dan melahirkan Putra Bapa sendiri didunia dalam naungan Roh Kudus. Sebagai Hawa yang baru karena kepercayaan akan pesan yang diterimanya dari malaikat Gabriel sebagai utusan Allah. Perjalanan hidupnya dalam menanggapi panggilan Allah dijalaninya dengan iman yang tak tercemar oleh kebimbangan dari sejak awal.

Dalam injil Wahyu diatas, menunjukkan KEAGUNGAN MARIA yang dinyatakan oleh Allah. Bagi Maria tidak ada alas an untuk menantikan kebangkitan dunia seperti manusia yang lain. Sekarang ini dia sudah diperbolehkan mengambil bagian dalam kemuliaan Anaknya. Semua yang telah dilewatinya bersama Yesus sejak dalam kandungannya menunjukkan bahwa dia lebih bersatu pada dengan Kristus daripada dengan dunia yang diliputi dosa.

Dalam keimanan Katolik dinyatakan  “Karena pahala Putranya ia ditebus secara unggul, serta dipersatukan denganNya dalam ikatan yang erat dan tidak terputuskan”. Maka “Karena Anugerah rahmat yang sangat istimewa itu ia jauh lebih unggul daripada semua mahluk lainnya baik di surge maupun dibumi”. ( LG 53 ). Sekaligus Maria adalah citra sejak awal gereja yang harus mencapai kepenuhannya dimasa yang akan datang. Maria itu teladan iman, dasar pengharapan, dan sumber cinta bagi gereja.

Oleh sebab itu gereja mendorong semua umat supaya kita dengan rela hati mendukung kebaktian pada Santa Perawan terutama yang bersifat liturgis. Bagaimana kita menghargai praktik – praktik dan pengalaman bakti kepada sang Bunda ? Bagaimana perjalanan hidupnya menjadi teladan bagi kita anaknya? Adakah pengalaman – pengalaman spiritual akan kehadiran Bunda yang penuh rahmat dalam kehidupan kita? Mari kita bagikan pada sesama sehingga Maria sang Bunda Juruselamat semakin dipermu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s