Renungan Liturgis 21 Oktober 2010: Aku datang melemparkan api ke bumi …


Injil hari ini mengajak kita untuk mengingat lagi momen ketika kita menjalani hidup baru di dalam Roh. Masih ingat ketika Anda mengikuti Seminar Hidup baru Dalam Roh? Ketika anda bertobat dan mengalami pencurahan roh kudus? Oh, sungguh indah saat-saat itu. Saat kita didoakan, berpasrah dan menyerahkan diri pada roh kudus dan saat kita bertobat, menanggalkan baju keakuan kita yang dulu dan memutuskan untuk menjadi milik Kristus seutuhnya. Masih ingat itu? Masih ingatkah juga kita ketika diingatkan bahwa setelah mengikuti SHDR atau setelah mengalami pencurahan roh kudus, itu bukan berarti perjalanan selesai. Sebaliknya, perjalanan hidup baru dimulai. Kita menjadi lebih dekat, lebih mesra, lebih intim dengan Yesus. Tapi jangan lupa! Ini dia yang bikin setan bete! Mana dia suka melihat manusia jadi murid Kristus. Mana dia terima -meminjam istilah di dunia twitter-, mantan followersnya dulu kini memutuskan unfollow dia dan jadi followers-nya Yesus. Maka, godaan, tantangan, cobaan, ujian akan menghampiri kita justru lebih besar porsinya setelah kita memutuskan bertobat. Godaan, tantangan, cobaan, ujian seringkali berwujud dalam hal pertentangan. Inilah yang Yesus maksud dalam Injil hari ini menurut pandangan saya. Ikut Yesus itu berarti menjadi serupa dengan Dia. Memanggul salib, menanggung penderitaan dan bahkan oleh orang terdekat kita pun, kita jadi tidak disukai atas pilihan kita memilih Yesus.
Hari ini Yesus mengingatkan pada kita, untuk menjadi muridNya, untuk bertobat dan mengikutiNya, kita harus siap mental. Setan tidak suka pilihan hidup kita yang baru.

Saya pun mengalami hal itu. Setelah dua tahun yang lalu memutuskan menjalani hidup baru di dalam roh pasca-SHDR, selama dua tahun itu pula saya ditempa dengan berbagai persoalan. Satu persatu saya dihadapkan persoalan yang buat saya berat. Dari soal anak, soal keuangan sampai soal pekerjaan. Berat sekali menghadapi semua itu. Saya seorang single parent yang punya dua anak pre-teenagers yang benar-benar financial support untuk mereka berdua hanya bersumber dari saya. Untuk memikirkan bagaimana membiayai mereka berdua saja sudah menguras tenaga dan pikiran. Apalagi harus memikirkan soal pekerjaan plus permasalahan sehari-hari yang menyangkut sekolah dan kehidupan sosial dua anak saya. Tapi, saya bersyukur Tuhanlah yang jadi kekuatan saya. Berkat kuasa roh kudusNya, saya dikuatkan, dihibur dan dibimbing serta ditenangkan. Kehidupan saya dua tahun ini seperti tiada hari tanpa persoalan dan selalu “berbeban berat”. Tapi, kok ya bisa ya saya melewati semua, kok bisa ya saya tenang. Padahal kalau dipikir pakai akal sehat,wah kayaknya gak sanggup menanggung beban persoalan. Dulu kalau ada masalah, bawaannya mau kabur, cari teman, pergi clubbing, atau ngewine, yang penting tipsy abis atau ngerokok sehari bisa abis sebungkus. Tapi kok ya sekarang saya lebih banyak berdiam, berdoa, refleksikan semua ini dalam keheningan. Semua pelarian saya sudah saya tinggalkan. Puji Tuhan. Allah memang sungguh luar biasa. Maka benarlah kata Rasul Paulus dalam suratnya pada Jemaat di Efesus : “Dia sanggup melakukan jauh lebih banyak daripada yang dapat kita doakan atau kita pikirkan, seperti ternyata dari kuasa yang bekerja dalam diri kita.”

Ada kalanya saya merasa ragu, khawatir, kesal, bingung menghadapi persoalan hidup, soal anak, soal keuangan keluarga, soal pekerjaan. Saya tahu itulah gangguan-gangguan yang ingin diciptakan setan yang tidak suka melihat saya dekat dengan Allah. Ia ingin mencuri kedamaian, kebahagiaan saya berada dalam hadirat Tuhan. Saya bersyukur, lewat persoalan hidup yang berat ini, saya justru sedang dibentuk Bapa serupa dengan putraNya. Saya bersyukur Tuhan mengajari saya untuk memiliki iman yang kuat. Bahkan iman saya ditambahkan dengan cara saya menghadapi persoalan berat. Tuhan sering bertanya pada saya “Apakah kamu percaya padaKu?Apakah kamu sudah menyerahkan diri seutuhnya padaKU? Atau kau masih sombong, masih mengandalkan kekuatanMu sendiri?”. Inilah perjuangan saya. Kerinduan saya adalah memiliki iman yang kuat, iman yang bertambah dan bertumbuh serta percaya akan penyelenggaraan Illahi. Sering dalam doa saya, saya katakan “Tuhan,bantu aku menemukan kebahagiaan dalam kesedihanku. Bantu aku bersyukur. Buat aku lebih punya iman.”. Sebuah doa yang menantang buat saya karena itu berarti untuk menfapatkan apa yang saya doakan berarti saya harus memanggul salib, menanggung derita, menghadapi pertentangan, perlawanan dengan orang terdekat.

Saya tak perlu takut karena seperti ayat terakhir dari Mazmur yang kita baca pada hari ini: “Sungguh, mata Tuhan tertuju kepada orang yang takwa, kepada mereka yang berharap akan kasih setiaNya; Ia hendak melepaskan jiwa mereka dari maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s