Beda Natal dengan Natal


Ada dua jenis Natal. Natal yang pertama sifatnya perayaan (celebration). Bisa dirayakan siapa saja! Tak perlu harus seorang kristen atau katolik. Natal jenis ini muncul dalam wujud icon-icon seperti pohon Natal, sinterklas,kado/hadiah Natal, makan-makan/open house, late nite shopping, xmas big sale. Untuk menikmati atau mengkonsumsi hal-hal yang barusan disebut tadi, syaratnya tidak harus jadi pengikut Yesus alias seorang kristen atau katolik. Umat Islam, Hindu, Budha, Kong Hu Cu, agnostik atau ateis boleh-boleh saja menikmati serunya obral di berbagai department store selama perayaan natal. Tidak sedikit masyarakat yang bukan Kristen ikut foto di mal bernuansa natal. Malah, di twitter saya sempat lihat beberapa orang yang bukan Kristen pasang pohon Natal di rumahnya. Kok bisa? Karena itulah Natal jenis pertama. Dia sebatas perayaan,musiman. Sama seperti Valentine, semua orang beli coklat, kartu dan makan malam romantis lengkap dengan lilin. Itulah kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang berawal dari munculnya ‘kelengkapan’ untuk menandakan sebuah Natal dan makin lama makin berkembang menjadi suatu budaya yang dimanfaatkan pedagang sebagai jualan yang nantinya dirasakan perlu untuk dikonsumsi masyarakat. Ketika dia menjadi sebuah budaya dan komoditi, siapapun bisa menikmati, memiliki, mengkonsumsikannya.

Natal yang kedua adalah yang berjenis pengalaman (experience). Jenis ini (semestinya) menjadi milik atau dialami sendiri oleh seorang pengikut Kristus, entah dia yang dari gereja Katolik ataupun gereja-gereja Kristen lainnya. Karena merupakan sebuah pengalaman, maka berbeda dengan perayaan yang bisa dirasakan masyarakat banyak bahkan dari agama lain. Natal sebagai pengalaman justru bisa berbeda dirasakan oleh setiap umat Kristen/Katolik.
Natal sebagai pengalaman memiliki makna yang sangat pribadi, dalam dan menyentuh. Natal sebagai pengalaman adalah momentum dimana kita diingatkan kembali siapa jati diri dan seluruh perjalanan hidup serta ajaran Juru Selamat kita, Tuhan Yesus Kristus. Pengalaman Natal ini akan menjadi sangat bermakna apabila sebelumnya kita memang benar-benar menyiapkan hati kita menyambut Natal itu. Itu berarti kita menghayati dan menghidupi masa Adven, dimana pada masa menjelang Natal kita belajar arti penantian, arti dibalik derita ada suka cita, arti kesederhanaan, penyerahan diri dan iman kuat dari sosok Bunda Maria, Santo Yosef dan bayi Kristus! Untuk menjadikan Natal sebagai pengalaman, bukan sekedar perayaan, maka penerimaan sakramen rekonsiliasi atau pertobatan dalam bentuk pengakuan dosa melalui Romo merupakan kerelaan dan kerendahan hati kita, kalau tidak bisa dibilang sebagai suatu syarat, sebagai pendosa yang ingin bersatu lagi dengan Allah Bapa yang suci agar bisa menanti datangnya Penyelamat kita sehingga sempurnalah Natal kita itu. Natal sebagai pengalaman merupakan perayaan yang berproses. Dari masa Adven, perayaan tanggal 25 Desember hingga akhirnya mengisi hari-hari setelah ‘dilahirkan kembali’.

Perayaan tanggal 25 Desember itu sendiri merupakan pengalaman, karena kita secara khusus datang ke gereja, mengikuti Misa Perayaan Natal entah itu sendiri, bersama keluarga atau sahabat. Natal menjadi pengalaman ketika kita memperlakukan Misa Natal bukan sebagai kewajiban memenuhi hukum gereja. Tapi, lebih dari itu, karena kita ingin bertemu langsung dengan Yesus yang ‘baru lahir’ dalam Sakramen Ekaristi. Karena Natal adalah semacam ‘pesta ulang tahun’ Yesus maka hadirlah disana dengan busana yang pantas, bukan baju baru tapi hadirlah dengan penampilan yang kita siapkan bukan untuk dipamer/dilihat orang lain tapi untuk dilihat oleh Tuhan kita, Yesus Kristus. Kemarin saat ikut Misa malam Natal di sebuah paroki, saya sedih dan prihatin, melihat mereka yang datang ikut Misa dengan cueknya berpakaian seperti ingin ke pasar. Kaos, celana jins 3/4 atau selutut dan sendal. Bukannya saya menilai, saya cuma mengambil kesimpulan mereka dalam keadaan ’emergency’ atau terpaksa bukan karena tidak mampu tapi karena faktor teknis lainnya.

Bila ingin menjadikan Natal pengalaman,maka setialah pada hal-hal kecil. Sekali lagi saya prihatin pada Misa Malam Natal yang saya hadiri Jumat lalu. Misa mulai 16.30, umat sudah hadir sejak pukul 15.00. Sayang, selama waktu menunggu misa dimulai, suasana gereja gaduh karena umat yang hadir sibuk ngobrol. Suasana ramai ini juga dipicu musisi koor yang berlatih dengan organ/keyboardnya. Mungkin lebih pas kalau mereka ‘soundcheck’ sebelum umat datang. Alangkah indahnya bila kita hadir di gereja, di rumah Tuhan dengan mengheningkan diri sebagai bagian dari persiapan hati kita. Ibarat seorang kekasih yang rindu setengah mati ingin bertemu kekasihnya maka ia akan persiapkan diri sebaik-baiknya. Bila ia nervous, maka ia akan cari cara menenangkan diri. Maka ia akan berdoa supaya ia bisa bertemu dengan kekasihnya dengan lancar! Itulah Natal sebagai suatu pengalaman. Di dalamnya ada kerinduan untuk bertemu dan bersatu dengan Tuhan. Ada relasi pribadi dengan Tuhan. Ada penyangkalan diri. Tapi jika Natal dialami sebagai pengalaman, maka dia tak lebih dari sekedar kewajiban pergi ke gereja lebih awal supaya dapat tempat duduk, ngobrol dengan teman yang dikiri dan kanan sambil ‘killing time’, ikut urutan perayaan misa tapi tak menyimak Firman Tuhan dan homili pastur, terima komuni dan pulang. Sesungguhnya, Natal lebih indah dari sekedar kewajiban atau perayaan. Natal sangat indah bila kita secara rendah hati minta kuasa Roh Kudus agar kita dibimbing ikut Misa sehingga ada kerinduan, ada kekuatan untuk benar-benar memusatkan perhatian pada Misa dan menghormati Sakramen Ekaristi. Natal menjadi sangat indah bila kita dimampukan untuk bersyukur betapa besarnya anugerah Tuhan sehingga kita dilayakkan, diizinkan merayakan Natal lagi tiap tahun. Itulah Natal sebagai suatu pengalaman!

Natal sebagai suatu pengalaman mengingatkan kita untuk siap lahir sebagai pengikut Yesus yang menderita, hidup di tengah ketidakadilan, entah ketidakadilan ekonomi, ketidakadilan di dunia kerja maupun dalam kehidupan beragama. Tuhan Yesus sendiri bahkan jauh sebelum ia dilahirkan sudah mengalami penolakan, penderitaan yang juga dirasakan Bunda Maria dan Santo Yosef. Memang tidak mudah mensyukuri ketidakadilan, tapi dengan iman, pengharapan dan kasih bahwa Juru Selamat kita Tuhan Yesus Kristus senantiasa menyertai kita sampai akhir zaman, kita akan dimampukan melewati segala penderitaan.

Natal adalah pengalaman pribadi yang sangat katolik ketika kita bertemu dengan Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Natal adalah pengalaman terindah saat kita menjalani suatu proses penantian Dia sang Juru Selamat dan Sang Terang Abadi. BersamaNya, kita tidak akan pernah berjalan dalam kegelapan. Sekalipun kita tidak diperlakukan adil, namun dalam Terang Tuhan kita sanggup memaafkan dan mengasihi mereka yang memperlakukan kita secara tidak adil.

Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.

Selamat Natal 2010. Tuhan memberkati!

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s