Ketika kata-kata tak lagi cukup ….


Jumat sampai Minggu 23-25 September. Sebagai anggota tim pelayanan Persekutuan Doa Katolik Karismatik paroki Maria Kusuma Karmel, Meruya, Jakarta Barat, aku bertugas sebagai seksi acara (merangkap MC) untuk kegiatan Seminar Basic Christian Maturity. Juga sebagai wakil ketua kelompok.

Sedikit cerita tentang kelompok ini. Dalam kegiatan seperti SHDR (Seminar Hidup Baru Dalam Roh) atau Seminar BCM biasanya peserta dibagi menjadi kelompok (sesuai dengan kategori usia)sehingga saat sharing kelompok dan saat sosialisasi semuanya nyambung karena seusia dan paling tidak punya latar pendidikan/pengalaman setara. Begitu pula dengan Ketua dan Wakil Ketua yang ditunjuk dari tim pelayanan PDKK memiliki usia yang setara dengan anggota kelompok.

Kelompok yang aku dan Mbak Rika Wirya (ketua kelompok yang dulunya adalah mentorku selama aku dikader sebagai calon anggota tim pelayanan) ‘asuh’ sebenarnya adalah kelompok yang sama dengan waktu kami dampingi saat SHDR beberapa bulan sebelumnya. Kami memang request kalau bisa gabung lagi, karena dalam kelompok ini kami sudah terlanjur akrab dan nyambung banget. We all have that chemistry going on that make us get along so well.

Aku mau sharing sebagian kecil saja dari serangkaian acara yang kami ikuti selama 3 hari seminar BCM ini. Tentunya bagian yang sungguh sangat mengesankan bagiku. Di hari terakhir, dari 5 anggota, hanya 3 yang bisa hadir. Mbak Rika mengirimkan pesan via BBM bahwa ia tidak bisa hadir karena ada tugas pelayanan lain yang tidak bisa ia tinggalkan. Ia meminta aku mengambil alih tugas. Aku hanya bisa bilang padanya,”Mbak, minta doanya ya supaya aku bisa melayani teman-teman dari kelompok 34 kita.”
Aku pun mengirimkan pesan pada sahabatku, Tania, minta didoakan.
Sejujurnya, aku gak nyangka akan dikasih tugas menggantikan Mbak Rika. Karena aku pikir, dia akan selalu hadir sehingga aku bisa ‘nyambi’ sebagai wakil. Maklum, sebagai seksi acara yang juga bertugas MC, aku mesti konsentrasi mengatur waktu dan alur acara.
Saat memasuki sesi doa yang dipimpin Bapak Benjamin Ratu, aku hanya bisa memasrahkan diri dan berdoa. Bagiku, inilah pengalaman pertamaku mendoakan anggota kelompok karena sebelumnya aku lebih sebagai pendamping saja. Dalam hati aku berpasrah dan berdoa Tuhan, ini aku. Aku cuma alatMu. Kalau sebentar aku akan mendoakan sahabat-sahabatku ini, mampukan aku Tuhan. Biar mereka merasakan jamahanMu melalui doaku. Urapi aku dengan Kuasa Roh KudusMu Tuhan. Biar semua terjadi seturut kehendakMu

Dan pada saat aku mulai mendoakan satu per satu sahabatku dalam kelompok ini, aku merasakan kekuatan yang sungguh luar biasa. Kemampuanku untuk berdoa, keberanianku untuk berdoa sungguh-sungguh aku dapatkan dari kuasa Roh Kudus. Aku merasakan aliran kasih yang sungguh luar biasa yang mengalir dari Tuhan Yesus yang diberikan padaku untuk kemudian aku alirkan kepada 3 sahabatku agar mereka merasakan jamahan Yesus. Saat itu juga merasakan betapa aku mengasihi sahabat-sahabatku, betapa sebelumnya Tuhan Yesus sudah membuka jalan bagiku untuk mengetahui pergumulan hidup mereka melalui sharing kelompok sehingga itulah yang menjadi doaku bagi setiap sahabatku. Tuhan Yesus memberikan padaku gerakan hati yang sungguh kuat yang memampukan aku untuk mendoakan mereka. Sama seperti Yesus yang tergerak hatinya, begitu iba melihat mereka yang minta disembuhkan, aku pun merasakan hal yang sama. Tergerak oleh pergumulan yang mereka rasakan, aku pun mendoakan satu per satu sahabatku. Sempat aku pun menitikkan air mata saat mendoakan mereka. Seperti mereka yang merindukan jamahan dan kesembuhan batin dari Tuhan Yesus, so does my heart long for Jesus to heal them!
Usai aku mendoakan mereka, aku merasakan suka cita yang mendalam. Hatiku penuh dengan syukur karena aku diizinkan untuk melayani sahabat-sahabatku sendiri dalam doa. Sungguh, melayani sahabat-sahabat sendiri dengan mendoakan mereka ternyata sangatlah indah. Rasa yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Serving is beautiful.. Lebih indah daripada memberikan hadiah termahal buat mereka, lebih bahagia daripada spending time with them in a beautiful island or resort. Kata-kata tak akan pernah cukup untuk mengungkapkan indahnya dan penuh sukacitanya boleh melayani sahabat-sahabatku sendiri dengan cara mendoakan mereka, membantu mereka lepas dari segala pergumulan dan beban hidup mereka.

And as the prayer session almost reached the end, as Pak Benjamin Ratu led the prayer, I could feel Jesus hugged me so tight… And with a very soft voice I could hear Him saying,”no more tears, Fanny. No more doubts, no more questions, no more restlessness.” I shed my tears and I smiled afterwards. Not only did Jesus heal my friends by using me as His hands to pray for them, He did heal me at the same time! Jesus provided me answer to my current problem that has been haunting me for the past couple of week. I had been crying, unsure and doubtful over a personal problem and that was it! Jesus told me “no more tears, Fanny. No more doubts, no more questions, no more restlessness.”

Your love and promises have never failed me, Lord. Increase my faith and let my faithfulness be a proof to others how You fulfill each and every promise of Yours in my life!

Day 2 of BCM Seminar

Day 2 of BCM Seminar

Day 3 of BCM seminar

Day 3 of BCM seminar

enjoying lunch and sharing

enjoying lunch and sharing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s