Learning to love again (what do you give back to Jesus after you’ve been healed and saved?)


When Jesus came by, he looked up at Zacchaeus and called him by name.

When Jesus came by, he looked up at Zacchaeus and called him by name.

Suatu ketika saya menulis di status BBM (Blackberry Messenger) learning to love again . Hanya selang kurang dari semenit, langsung beberapa orang berkomentar: “Aduuhhh…. Jatuh cinta, Bu?”; “kalau benar begitu statusnya, semoga segera diresmikan”; “uhuuuyy”
Saya cuma tersenyum. Kenapa ya kalau saya tulis status seperti itu, pikiran orang selalu asosiasinya pada hal-hal yang berhubungan dengan jatuh cinta pada seseorang? Padahal, maksud saya menulis itu bukan karena saya sedang jatuh cinta tapi karena memang saya sedang belajar untuk mencintai, mengasihi lagi. Dan konteksnya adalah mengasihi Tuhanku, sesamaku dan juga diriku sendiri.

Belajar untuk mengasihi atau mencintai lagi ini konsepnya saya dapatkan sepanjang tahun 2011 ini. Saya melihat selama tahun 2011 ini, saya bersyukur hidup saya dibimbing Tuhan. Saya boleh bertumbuh dalam iman, dalam pelayanan saya dengan komunitas tempat saya bergabung, juga hubungan saya dengan keluarga (anak-anak dan orang tua) semakin baik. Namun saya juga perhatikan, saya sering kecewa dan gampang kesal dengan orang-orang yang dekat dengan keseharian dan pekerjaan saya. Saya perhatikan, dalam relasi dengan beberapa rekan kerja dalam divisi yang saya pimpin, juga terhadap driver pribadi saya misalnya, saya lihat sering kesabaran saya diuji dan disitu saya sering kalah dengan emosi saya. Artinya, saya lebih gampang marah-marah, tidak bijaksana. Saya kemudian mikir, berarti dengan orang-orang yang memang dekat dalam keseharian saya, saya memang ditantang untuk mampu jadi pelaku firman. Sering kali hasil pekerjaan mereka tidak memuaskan, sehingga bisa memancing emosi dan pikiran negatif saya. Tapi setiap habis marah-marah atau dongkol dalam hati, ada suara yang menegur saya “Beginikah cara seorang murid Yesus menegur bawahannya? Mana kasihmu? Kamu pemimpin mereka, kamu lebih besar daripada mereka, kenapa kamu tidak menjadi terkecil diantara mereka? Kenapa kamu tidak mau melayani anak-anak buahmu?”. Disitulah saya tersadar bahwa benar apa yang dikatakan dalam Firman Tuhan. Bahwa memang benar, mengasihi Tuhan berarti mengasihi sesama kita. Ironis memang, setelah mengalami pertobatan, kita mampu merasakan betapa kita dicintai dan dikasihi Tuhan sehingga kita pun boleh merasa jatuh cinta dan sangat mengasihi Tuhan, tapi di sisi lain kita masih suka marah-marah, kesal, kasar terhadap sesama kita, berbuat tanpa kasih kepada mereka yang tidak kita kenal secara pribadi namun membutuhkan kasih sayang kita ( mereka yang sakit, kaum miskin, mereka yang menderita, dll.) Dan memang sungguh benar, iman tanpa perbuatan adalah hampa. Jadi apa artinya, kita sibuk dalam pelayanan di komunitas, namun dalam keseharian tidak ada kasih dalam keluarga, dalam lingkup kerja maupun persahabatan.
Dan memang benar, lebih mudah mencintai mereka yang memang mengasihi kita tapi tidak mudah mengasihi mereka yang tidak kenal atau malah mereka yang kita kenal tapi selalu menyakiti dan membuat kesal kita
(Matius 5: 43  Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. 44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. 45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. 46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? 47 Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? 48  Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”

Itulah sebabnya saya bertekad untuk belajar untuk mencintai lagi. Karena itulah yang bisa saya lakukan untuk membalas kasih yang sudah begitu besar saya rasakan dari Yesus sendiri. Dia yang lebih dahulu mengasihi saya, kini saya diselamatkan (penglihatan, kelumpuhan, ketulian, kebisuan, kematian rohani dan spiritual saya selama bertahun-tahun). Dia sungguh layak dan pantas mendapatkan balasan dari diri ini, meskipun sampai kapan pun, dengan apapun saya tak akan pernah bisa membalas secara sepadan kasih dan karunia yang Ia berikan secara cuma-cuma. (Yohanes 3:16 16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal)
(Roma 5:8-9 8 Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. 9 Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. )

Pemikiran inilah yang muncul saat saya membaca perikop Yesus dan Zakheus pada Injil hari ini (Lukas 19:1-10). Setelah Yesus menyapa Zakheus (yang berusaha ingin melihat Yesus sambil naik pohon karena tubuhnya yang pendek) dengan memanggil namanya, Zakheus bersukacita dan berjanji untuk memberikan setengah dari miliknya kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang ia peras dari seseorang, ia akan kembalikan empat kali lipat.( Lukas 19:8). Saya pernah mendengar pewarta menjelaskan tentang perbuatan Zakheus ini. Memberi setengah dari kekayaannya dan mengembalikan empat kali lipat itu sebenarnya sama saja dengan membuat kekayaan Zakheus tak bersisa sedikitpun sama sekali!! Coba deh hitung sendiri. That is how Zaccheus gives back to Jesus after He heals, saves, forgives him. Zaccheus learns to love again. He expresses his love by sharing and giving away all of his wealthy, leaving him nothing but himself. That is how we should learn to love again. To love God and others so completely and share our material wealth with others for the glory of God!
Ini yang sungguh menyentuh hati saya. Yesus pun telah lebih dahulu ‘menyapa’ saya yang beberapa tahun lalu memiliki kerinduan untuk mendapat siraman air atas kekeringan jiwa dan rohani ini. Saya pun mencoba ‘memanjat’ pohon, mencari dan ingin melihat Yesus. Dan sungguh saat Dia menemukan saya, saya rasakan sukacita yang penuh. Untuk itu, sebagai tanda syukur, saya bertekad mau melayani keluarga saya lebih sungguh, melayani Tuhan lewat pelayanan di komunitas saya yakni di Persekutuan Doa Karismatik Katolik paroki Maria Kusuma Karmel, Meruya Jakarta Barat, Keluarga Alumni Sekolah Evangelisasi Pribadi Shekinah, Persaudaraan Devosi Maria. Tapi menurut Tuhan, pelayanan tanpa perbuatan kasih pun sia-sia. Maka Ia izinkan saya berhadapan dengan orang-orang yang mungkin tidak bikin saya happy, malah sebaliknya. Disinilah Tuhan mau ajarkan saya untuk mengasihi dan mencintai sesama. Itu juga yang ingin saya kembalikan pada Tuhan sebagai tanda syukur saya setelah saya diselamatkan, dipertobatkan, dikasihi dengan kasih terbesar, terdalam. Learning to love again, including those I don’t know well, those whom I find hard to work with, difficult to deal with, those who hate me, those who are in need.

Bagaimana Anda membalas kasih Bapa yang begitu besar dan tiada duanya setelah Dia menyelamatkan, mengampuni dosa dan menyembuhkan Anda? Dengan apakah Anda membalasnya? Think again dan biarlah balas jasa kita yang tak ada ada apa-apanya dibanding kasih dan karuniaNya yang tak terbatas itu memberikan suka cita yang penuh dalam hidup ini.

Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang (Lukas 19:9-10)

One thought on “Learning to love again (what do you give back to Jesus after you’ve been healed and saved?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s