Permenungan di ketinggian 37.000 kaki


Di penghujung tahun 2011 ini, hatiku dirundung kesedihan. Diawali dengan meninggalnya tante Aurora Tambunan, tante dari sahabatku Tania Panjaitan. Seorang istri, ibu, kakak dan adik, tante dan nenek yang sangat dikasihi keluarga inti dan keluarga besarnya. Selang beberapa minggu, aku kehilangan Om-ku tercinta, Om Jeffrey Dompas. Dua minggu yang lalu, sahabatku dari SMP, Viti berduka karena sang mama tercinta, Tante Vanja meninggal dunia setelah sekian lama menderita sakit. Dan pagi ini aku mendengar kabar yang sungguh mengejutkan. Teman baikku yang sama-sama anggota tim pelayanan PDKK MKK, pasangan suami istri Patrick-Lely Moniaga berduka karena putra sulungnya Cavin Moniaga meninggal dunia di usia muda, 21 tahun.

Pagi ini aku tertegun saat mendengar kabar mengejutkan itu. Aku bertanya-tanya. Mengapa berita duka datang beruntun satu dua bulan terakhir ini? Apa makna dan maksud Tuhan di balik semua ini?

Aku tak bisa membayangkan kepedihan seorang ibu yang harus kehilangan putra terkasihnya untuk selama-lamanya. Seorang ibu yang mengandung putranya selama 9 bulan, melahirkan mereka, menyusui mereka dan membesarkan mereka lalu menyaksikan mereka menutup mata untuk selama-lamanya. Aku juga tak bisa membayangkan perasaan kehilangan yang luar biasa ketika pasangan atau belahan jiwa yang sudah bertahun-tahun bahkan puluhan tahun menjadi pasangan hidup akhirnya pergi meninggal dunia.

Saat aku menulis ini, aku tengah berada di ketinggian 37.000 kaki di atas pesawat yang membawaku kembali ke Jakarta dari perjalanan liburanku di Bangkok. Aku berdoa sambil mendengarkan puji-pujian di dalam playlist iTunes-ku. Kucoba bertanya pada Yesus, dan ini telah menjadi pertanyaanku sejak pagi tadi saat kubangun.
Apa makna dari semua ini Tuhan Yesus? Katakan apa yang Kau kehendaki dariku untuk kupahami dan kulakukan dari semua peristiwa ini, Tuhan Yesus. I have no idea at all. Am I supposed to make sense out of it all? Aku tidak mengerti Yesus, tapi aku tahu Kau telah menempatkan makna dalam setiap peristiwa ini.

Dalam lagu Tuhan Pasti Sanggup yang dinyanyikan Herlin Pirena, sang penyanyi berkata di sela lagu yang ia bawakan “Tuhan hadir dalam setiap kesukaran dan penderitaan kita. Tak ada satupun dari saat-saat sulit yang tidak bermakna. Karena Allah mengizinkan pergumulan-pergumulan itu ada untuk membentuk hidup kita. Jalanilah, lewati bersama Dia!

Di kursi pesawat deretanku, aku di sebelah kiri, di tengah kosong dan di kanan ada sahabatku, AO yang selalu bersama-samaku selama liburan ini. Aku membayangkan Tuhan Yesus di sampingku. Dia duduk di tengah, Dia pegang tanganku selalu dan aku bersandar di pundakNya. Dan aku pun berkata padaNya
“Aku tak tahu apa yang akan terjadi pada hidupku, Tuhan Yesus. Aku pun masih mencari makna dari setiap peristiwa yang kualami. Tapi aku percaya Tuhan, sepanjang Kau ada di sampingku, sepanjang Kau pegang tanganku seperti ini Tuhan, aku tak kan kehilangan arah karena Kau adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Kau bukan sekedar penunjuk jalan, Kau adalah Jalan itu sendiri. Aku tak akan pernah tersesat. Kau bukan saja memperlihatkan kebenaran, Kau adalah Kebenaran itu sendiri! Di luar dariMu, aku tak mendapatkan kebenaran dan tiada kebenaran selain Tuhanku Yesus Kristus sendiri. Kau lebih dari pemberi kehidupan, Kau adalah Hidup, sumber dari kehidupan yang berkelimpahan.

Di ketinggian 37.000 kaki di atas langit, ditemani turbulance kecil saat pesawat QZ 7717 yang membawaku pulang ke Jakarta terbang menembus awan, kulakukan permenungan ini. Apakah aku sudah menemukan jawaban atas pertanyaanku? Belum, aku belum mengetahui secara pasti dan keseluruhan dan mendetail tentang makna dari segala peristiwa ini selama sebulan terakhir ini.

Namun aku belajar satu hal. Hidupku bukanlah lagi milikku. Aku ini kepunyaan Tuhan Yesus, Dia yang bertahta dan berkuasa atas keberadaanku, atas tubuh, pikiran, jiwa dan rohku. Atas segala yang kupikir “kumiliki di dunia ini”, termasuk karirku, pekerjaanku, masa depanku, anak-anakku, orang tuaku, sanak saudaraku, kakakku, hartaku, kehendakku. Siapakah aku ini yang boleh menentukan hidupku? Hidupku hanya milik Dia, maka hanya Dia yang boleh menentukan, berkehendak dan memutuskan yang terbaik buat aku. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21)
Tuhan Yesus, ini aku. KepunyaanMU, bukan lagi milikku sendiri, punya orang tuaku atau anak-anakku sekalipun. Pakai aku Tuhan untuk kemuliaanMu. Engkaulah kekuatanku Tuhan. Dalam setiap pergumulan yang kuhadapi, dulu, sekarang dan di masa yang akan datang, hujan berkatMu akan turun bagiKu Tuhan. Ajari aku untuk bersyukur Tuhan. Yesusku, kerinduanku adalah melihat dan memahami segala peristiwa dalam hidupku melalui cara pandangMu dan kebijaksanaanMu. Beri aku pengertianMu. Bermurahhatilah Tuhan Yesus padaku yang meminta hikmatMu. Supaya aku melihat dengan mataMu, mengerti dengan caraMu dan dibentuk serupa denganMu, dimurnikan, dikuduskan hanya untuk menyenangkanMu dan demi kemuliaanMu. Kuatkan dan tambahkan imanku. Dan apabila penderitaan menimpaku, izinkan aku mempersembahkannya, menyatukannya dengan sengsara Yesus di kayu salib

Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia. (1 Korintus 1:25)

Supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah. (1 Korintus 2:5)

Sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan (Kolose 2:3)

Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, – yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit-, maka hal itu akan diberikan kepadanya. (Yakobus 1:5)

Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. (1 Petrus 2:19)

Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. (Roma 8:18)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s