Mencintai dengan kekuatan Allah


“… Tiadak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum.” begitu sabda Yesus dalam Markus 12:31 saat dia mengatakan secara gamblang mengenai Hukum Cinta Kasih. Benar, itulah hukum yang utama, sekaligus hukum yang paling mudah diingat manusia, dikatakan semua orang namun hukum yang paling berat dan sulit untuk dilakukan atau diwujudkan dalam hidup nyata.

Mengasihi Allah. Bahkan Yesus perlu menegaskan bahwa kita mengasihi Tuhan, Allah dengan menggunakan 4 cara/alat yakni:
– dengan segenap hati
– dengan segenap jiwa
– dengan segenap akal budi
– dengan segenap kekuatan

Yesus tidak bilang Kasihilah Allah. Titik. Tapi Ia menambahkan 4 elemen penting. Segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan. Karena Yesus sendiri sudah mengasihi kita segenap-genapnya, sepenuh-penuhnya, sesempurna-sempurnanya karena Dia adalah Tuhan, pribadi Allah yang hidup. Dan Allah adalah kasih. Kasih yang tak berkesudahan, yang tak habis-habisnya dan selalu serta senantiasa berkelimpahan bagi setiap umatNya. Aku dikasihi Tuhan dengan sungguh luar biasa, maka aku pun diajarkan untuk mengasihi Dia sebagai yang terutama dalam hidupku, setelah itu baru yang lain.

Saat aku mendengarkan dan membaca firman ini, aku tersungkur, jatuh dalam tangis kepedihan. Karena aku merasa sungguh tidak pantas. Karena sejujurnya aku belum mengasihi Yesus dengan segenap hatiku, segenap jiwaku, segenap akal budiku dan segenap kekuatanku. Aku masih mencintai hal-hal ataupun orang -orang lain dalam hidupku. Aku masih sibuk mencintai pekerjaanku sehingga aku lupa mengasihi Tuhan dengan melibatkannya dalam pekerjaanku. Aku masih sibuk mencintai anak-anakku sehingga aku mengandalkan kekuatanku sendiri dan mengabaikan kekuatan Tuhan yang mampu membebaskan bebanku.

Mohon ampun, Tuhan Yesus atas kasihku yang sedikit untukMu ini.
DihadapanMu aku sadar betapa miskin dan melaratnya aku ini akan kasih kepadaMu. Aku mohon ampun. Ampunilah aku orang berdosa ini.

Hukum yang kedua pun menegur kita semua. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. (Markus 12:31). Selama kita belum bisa mengasihi diri kita sebagai ciptaan Tuhan yang diciptakan dengan penuh cinta dan kasih, kita tak akan pernah mampu mengasihi sesama kita. Selama kita belum mampu menghormati diri kita, menghormati tubuh kita sebagai bait Allah yang kudus, menghargai talenta kita sebagai pemberian Allah, mengapresiasi hidup dan nafas kehidupan sebagai anugerah terindah dalam diri ini, kita tak akan bisa memberikan apresiasi atas hidup orang lain.

Aku pun demikian. Sering aku memperlakukan diriku sendiri dengan tanpa atau kurang kasih. Aku lupa aku ini dicintai Allah. Tapi aku sering membiarkan pikiran jahat masuk dalam diriku, bait Allah Tuhanku. Aku biarkan omongan-omongan jahat, nafsu tak terkontrol, kerakusan, kesombongan, kemarahan menguasai diriku sendiri. Aku tidak mengasihi diriku dengan membiarkan semua itu menguasai diriku karena aku tak mencintai diriku. Dan aku tidak mencintai diriku karena aku belum dan tidak mau mengasihi Allahku dengan segenap hatiku, dan dengan segenap jiwaku dan dengan segenap akal budiku dan dengan segenap kekuatanku. Maka aku pun gagal untuk mencintai sesamaku.

Aku kini paham. Mengasihi Tuhan berarti membuka diri untuk diubahkan serupa dengan Dia, sehingga kita dimampukan untuk merasakan, melakukan, memiliki dan menjalankan KebijaksanaanNya karena karya Roh Kudus yang akan mengubah hati kita yang keras jadi lembut sehingga kita serupa dengan Dia. Dan setelah kita jadi bijaksana, kita paham jalan Tuhan dan kita akan ikut jalanNya yang lurus. Namun saat kita tidak mengikuti jalanNya, kita memberontak dari Dia. Inilah bukti kita belum mampu mengasihi Allah dengan sempurna dan dengan segenap-genapnya. Maka kita pun tergelincir.
Siapa yang bijaksana, biarlah ia memahami semuanya ini; siapa yang paham, biarlah ia mengetahuinya; sebab jalan-jalan Tuhan adalah lurus, dan orang benar menempuhnya, tetapi pemberontak tergelincir di situ. (14:10)

Ampunilah aku orang berdosa ini Tuhan. Aku sungguh lemah, penuh dengan kemiskinan dan kemelaratan dalam kasih. Kasihanilah aku orang berdosa ini.

Doa: Terima kasih Yesus untuk FirmanMu yang sungguh sungguh tajam dan luar biasa hari ini. Hanya dengan kekuatan Tuhan dan kebijaksanaanNya saja kita mampu mengasihi Dia, mengasihi diri sendiri dan orang lain. Mohon kekuatan dan kebijaksanaan hanya dari padaNya saja. Tiada yang lain. Kita tak akan mampu mengasihi dan mencintai hanya dengan mengandalkan kekuatan kita. Karena kekuatan kita adalah kelemahan terbesar bila dibandingkan dengan kekuatan Allah yang Maha Dashyat.

Allah Bapa sumber segala kasih, mohon kekuatanMu dan kebijaksanaanMu untuk Kau anugerahkan padaku agar aku boleh dan bisa mengasihi, mencintaiMu dengan lebih sungguh sehingga aku dimampukan bersyukur atas keberadaanku dan dimampukan untuk mengasihi sesamaku. Amin!

2 thoughts on “Mencintai dengan kekuatan Allah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s