Ketika aku menjual Yesus


“Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?”. Itulah pertanyaan menantang yang diajukan Yudas Iskariot pada imam-imam kepala. Saat saya membaca firman Tuhan pagi ini ( Injil hari Rabu dalam pekan suci 2012, Matius 26:14-25) saya coba merenungkan kalimat pertanyaan diucapkan Yudas ini dan saya baca berkali-kali.

Kalau pertanyaan itu saya baca, dan saya anggap pertanyaan itu adalah yang keluar dari mulut saya sendiri, maka yang dimaksud ‘imam-imam kepala’ adalah setan-setan, kekuatan roh jahat yang ingin menjerumuskan saya dalam liang dosa. Mereka tahu saya hidup di dalam Yesus dan mereka ingin melenyapkan Yesus dalam hidup saya dengan menggoda sya, memberikan saya kenikmatan duniawi yang bisa saya rasakan meskipun sekejap.

Seringkali kalau kita baca perikop ini, kita mengasosiakannya dengan mudah dengan peristiwa sehari-hari. Misalnya dengan kisah orang yang mau pindah keyakinan katolik menjadi keyakinan lain demi jabatan, bila diiming-imingi duit atau jika ada pilihan menikah dengan yang tidak seiman. Tapi bagi saya, perikop ini tidak melulu soal dilema antara kesetiaan mengikuti Yesus dengan iming-iming duit. Lebih dari itu. Pertanyaan “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?” sering menjadi bagian hidup saya sendiri.

Apa yang hendak kamu berikan kepadaku supaya aku dapat menikmati yang indah-indah, enak-enak, asik-asik, dan Yesus kamu ambil dari hidupku?

Lalu saya bayangkan jawabannya atau tanggapan para setan.

Yesus aku ambil dari hidupmu. Mau sesaat, mau lima menit, mau seminggu, mau sebulan, mau selamanya bisa. Nanti aku berikan kamu kenikmatan yang tiada taranya. Kenikmatan saat kamu membicarakan kejelekan orang, kepuasaan saat kamu bisa memarahi, menegur, berteriak mengeluarkan unek-unekmu kepada orang yang kamu paling kesal dan benci tingkah lakunya. Kepuasan membenci atau marah akan sikap orang lain yang tidak menyenangkan hati kita. Kepuasaan saat kita tidak belajar mencintai, mengasihi, memaklumi dan memaafkan sikapnya yang menyebalkan. Kepuasan nonton TV, asik BBM-an, sibuk buka dan browsing internet, facebook atau twitter dan biarlah kamu serahkan waktu kamu dengan Yesus yang biasa kamu isi dengan berdoa atau baca firman Tuhan atau bersekutu dengan teman-teman seiman, aku ganti dengan kenikmatan nonton TV, browing internet. Aku berikan kenikmatan perbuatan percabulan atau asiknya berpesta pora dan bermabuk-mabukan daripada kamu bersusah payah berlatih penguasaan diri atas hal-hal yang menurut Tuhan harus demi memuliakan Allah yang telah tinggal dalam diriMu, yang dikatakan sebagai bait Allah yang kudus. Aku berikan kepuasan kamu menghabis-habiskan uangmu untuk berbelanja, makan-makan daripada untuk ditabung atau dibagikan untuk mereka yang juga membutuhkan.

Kita memang tidak diiming-imingi 30 perak seperti Yudas saat ‘menjual’ Yesus. Tapi saya tahu, saya sering menantang diri saya sendiri dan menantang kekuatan roh jahat untuk menawari saya kenikmatan/kepuasan untuk mendapat sesuatu yang sifatnya kedagingan dan melupakan Yesus sebagai penguasa hidup ini alias menyerahkan Yesus untuk disiksa, disalibkan lagi oleh kekuatan jahat.

Saat saya merenungkan firman hari ini, saya rasakan Yesus ada di samping saya dengan setia diam menemani saya tanpa berkata apa-apa. Lalu Dia bertanya pada saya

do you love me, Fanny? How much do you love me, Fanny? Jangan kau ukur cintamu padaku dengan ukuran uang atau kenikmatan atau kepuasan. Karena aku tak pernah mencintaimu dengan ukuran apapun. Aku cinta kamu karena aku cinta kamu. Tak terbatas, tanpa syarat. Kau berdosa, kau mengaku dosa, kau tak berdosa, aku tetap cinta kau. Kau yang dulu, kau yang sekarang, dan kau yang nanti, selama-lamanya aku cinta kau!

"Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?"

Saya bawa perkataan Yesus ini dalam permenungan saya hari ini, satu hari jelang Kamis Putih, suatu perayaan penting bagi gereja katolik untuk mengenangkan perjamuan Tuhan, mengenangkan perayaan kasih terbesar dalam sejarah manusia.
Apakah aku cinta Yesus, cinta Allah dengan definisi dan cara seperti yang sudah dijelaskan Yesus tadi?
Ataukah aku lebih cinta yang lain sehingga sanggung menyerahkan Yesus pada pihak lain?

Mampukah aku jadi seperti yang didoakan Daud dalam Mazmur 69 ayat 10?
Mampukah cinta untuk rumah-Mu sanggup membuatku hangus?

Doa saya hari ini,
Tuhan, Engkau sungguh teramat mencintai aku melebihi segalanya sampai Yesus putraMu diserahkan pada manusia yang jahat pun Kau izinkan demi keselamatanku. Bapa, aku tahu ini sungguh teramat ekstrim bahkan bukan main-main bila aku memohon ini. Tapi yang aku andalkan hanya kekuatanMu saja. Maka aku mohon, karuniakanlah aku cinta untuk rumah-Mu yang mampu menghanguskanku. Amin!

"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s