Life begins at the end of your comfort zone


Hari ini saya kesiangan.  Yes, blame it on the final match of last night’s 2012 Euro Cup.  Setelah mandi dan makan siang, hampir jam setengah 3 sore saya berangkat meninggalkan rumah orang tua saya dan menuju kantor.  Sebelum berangkat, saya sempat melihat profile picture sahabat saya bersama mantan pacarnya, dan saya tersenyum sambil BBM dia dan menggodanya dengan mengatakan “such a sweet profile picture.  Cieee balik lagi nih ceritanya?”  Dan dia mengatakan iya.  I smiled and i told her, I will pray for her and her boyfriend and that I am happy to hear the news.  Then I told her how I wish my ex boyfriend would have a change of heart and sometimes I wish he would do just like what her boyfriend did to her – that is to decide to start again with the relationship- but then I added to her that another part of me is still so mad that I’d better shut up.

As I started driving, I didin’t know why and how it happened but I just had this urgency of taking out my rosary of my handbag and started to pray rosary.  Saya percaya, Roh Kudus sendiri yang menggerakkan saya untuk berdoa rosario karena Tuhan tahu saat ini ada kemarahan yang mulai muncul dalam hati saya dan Tuhan meredamkannya dengan menggerakkan Roh KudusNya untuk memampukan saya berdoa.

Dan pada saat saya berdoa rosario, saya diingatkan untuk mendoakan beberapa orang.  Saya teringat tante saya yakni mama dari sahabat saya yang baru saja pulih dari operasi jantungnya.  Saya teringat seseorang yang tadi saya bicarakan dengan sahabat saya.  Seseorang yang pernah dekat dengan saya, yang saya sayangi sekaligus orang yang ingin saya marah-marahi.  Saya cuma bisa mendoakan mereka.  Terhadap orang yang pernah menyakiti saya, beberapa orang, saya mohon supaya diberi hati yang mengampuni dan memaafkan.  Karena saya tahu bukan perkara mudah buat saya mengampuni orang-orang yang menyakiti hati saya. 

Kemudian saya teringat, Om saya, Om Jeffrey Dompas.  I miss him so much.  Saya berdoa melalui perantaraan Om Jeffrey yang saya imani sudah berbahagia di rumah Bapa, untuk mendoakan saya agar saya boleh dimampukan menjalani kehidupan saya sehar-hari.  Termasuk harapan saya that one day, only if it is according to God’s will, I will find that very special person for me, the one who loves and will be loved abundantly by   my children and  my family. 

 

As I was driving, I realized memang tidak menyenangkan lepas dari sebuah persahabatan atau hubungan kasih sayang dengan seseorang yang kita sayangi.  Selama ini kita merasakan kenyamanan berada bersama dia, menghabiskan waktu bersama dia dan BANG!!! Dia pergi dan hilang semua comfort zone.  Maka benar sekali ungkapan yang terus terngiang-ngiang di kuping saya beberapa hari belakangan ini. 

Life begins at the end of your comfort zone.

Justru kehidupan dimulai saat kita tidak lagi berada di zona kenyamanan.  Dan definisi zona kenyamanan kita itu macam-macam.  Buat saya, akhir zona kenyamanan saya adalah ketika saya harus memutuskan untuk tidak bisa lagi melanjutkan persahabatan dan hubungan kasih dengan orang yang saya sayangi dan mengalami kemarahan yang membutuhkan saya untuk bisa mengampuninya.  My end of comfort zone is when I decide to stop eating like crazy and start exercising so I can be more healthy.  Akhir zona kenyamanan saya adalah ketika saya mengalami kemandegan dalam pekerjaan saya dan saya harus memikirkan cara kreatif untuk kembali berkarya dan berkreasi. 

Life doesn’t stop just because you break up.  Life goes on even if your boss think you sucks at work.  Life doesn’t stop when you think you cannot stop eating or shopping.  You just need to do more self-control exercises.  And this is exactly when you need God the most!

Maka tepat sekali kalau Injil hari ini menyatakan firman Tuhan mengenai bagaimana Yesus tidak punya tempat bersandar atau rumah dalam menjalankan hidupNYA.  Bagaimana Dia mengingatkan kita untuk mengikuti jalanNYA, kita harus meninggalkan comfort zone kita dan berserah 100 persen total hanya padaNYA.

Matius 8:18-22 Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang.  Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: “Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.”  Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”  Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya: “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku.”  Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.”

 

Aku bersyukur hari ini diberikan waktu menyetir mobil sendiri karena pada saat itulah dalam keheningan dan kesendirianku, Tuhan Yesus menegurkan dan menyapaku sekaligus mengajakku berdoa dan merefleksikan kehidupanku akhir-akhir ini.  Aku boleh saja marah, tapi aku tidak boleh lepas dari Tuhanku, untuk marah aku harus minta izin dulu sama Dia lewat doa.  Dengan demikian, Ia akan menganugerahiku hati yang memaafkan.  Aku bersyukur Tuhan mengajarkan dan memampukan aku berdoa saat menyetir tadi.  Ia mengingatkanku bahwa Ia Maha Tahu dari segala siapa dan apapun.  Ia tahu kegalauan dan kemarahan hatiku maka Ia membimbing aku dengan Roh KudusNYA supaya aku bisa berdoa dan mendoakan orang lain.  Dan Yesus telah menyiramkan kekeringan hatiku dengan air kasihNya yang melimpah.  FirmanNya hari ini mengingatkanku bahwa hidup itu dimulai saat kita meninggalkan zona kenyamanan.

 

Yes, life indeed begins at the end of your comfort zone!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s