The Power of A Prayer


Sudah 8 hari terakhir ini saya bernovena Tiga Salam Maria. Dan hari ini adalah hari ke-9 atau hari terakhir. Rencananya, malam nanti saya akan akhiri rangkaian novena Tiga Salam Maria selama 9 hari berturut-turut ini.

Permintaan saya memang tidak berkait dengan permohonan untuk sebuah cita-cita, rencana, apalagi terkait keperluan finansial maupun material. Tidak juga terkait permohonan untuk sebuah kesuksesan atau prestasi. Permohonan saya sebenarnya sederhana, untuk sebuah hal yang sifatnya pribadi, saya hanya minta ‘ditunjukkan’ oleh Tuhan apa yang sebenarnya menjadi kehendakNya dalam hidup ini. All I asked was that He revealed to me His will so that it will be done in my life.

Dan tepat di hari kesembilan ini, Tuhan Yesus memberikan jawabanNya. Melalui orang lain, Ia sampaikan pada saya kehendakNya. Tuhan Yesus berkenan memberikan hikmat pada saya untuk akhirnya mengetahui apa rencanaNya bagi saya.

Memang, jawaban yang Tuhan berikan atas doa saya bukanlah jawaban yang ingin saya dengarkan. Karena sesungguhnya, saya berharap alias ingin mendapatkan jawaban yang sesuai dengan kehendak atau rencana saya. Tapi sesungguhnya, hikmat yang Tuhan berikan dalam bentuk jawaban atas rencanaNya merupakan jawaban yang saya butuhkan karena itulah sesungguhnya yang menjadi kehendakNya, rencanaNya.

Sulit menggambarkan perasaan yang berkecamuk dalam hati ini saat mengetahui apa yang menjadi rencana Tuhan. Ada rasa sedih karena saya tak mendapatkan apa yang saya inginkan. Namun pada saat yang bersamaan, saya justru merasakan ada kekuatan yang sungguh luar biasa menopang saya seketika itu juga. Saya justru merasakan kasih Tuhan begitu besar melimpah pada saya. Dan ada kuasa yang sungguh luar biasa besarnya dan kuatnya yang mengalir dalam hidup saya. Yang pertama, saya sungguh terpesona akan kebaikan Tuhan. Saya sudah berdoa 8 hari untuk novena ini, dan hanya tinggal sehari saja. Saya tahu dan saya juga pernah mengalaminya, bahwa kadang ada doa novena kita yang butuh waktu untuk terkabul selama beberapa hari, minggu, bulan bahkan tahun kemudian. Namun ada juga yang langsung dikabulkan segera setelah rangkaian doa novena ini selesai didoakan. Bagi saya, Tuhan Yesus sungguh dashyat kali ini. Belum genap 9 hari saya selesai bernovena Dia justru sudah menjawab doa saya terlebih dahulu. Ah, Yesus. Itulah yang kubutuhkan. Memang bukan yang kuingin, tapi itulah yang kubutuhkan dan Kau, Yesus, satu-satunya yang mengenal kebutuhanku dari lubuk yang terdalam. And that is what I call the power of prayer! Lukas 11:9-10 Yesus sendiri yang bersabda “Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.”

Pelajaran kedua yang saya dapatkan adalah saya diingatkan oleh Yesus untuk terus mengandalkan hanya pada diriNya. Seringkali dalam menghadapi sesuatu, entah itu menghadapi informasi, suatu isu (yang bukan selalu berarti masalah), atau sebuah masalah sekalipun, kita suka lupa melibatkan Tuhan Yesus di dalamnya. Kita sering mengandalkan pikiran, otak, logika, perasaan kita untuk mengambil keputusan/tindakan/tanggapan terkait isu/suatu hal/informasi/masalah kita. Kita lupa bahwa ada rencana Tuhan di balik semuanya itu. Kita menganggap kita mampu mengatasi semua dengan keinginan/kehendak/rencana kita. Padahal, kita ini mahluk lemah, yang bila tidak mengetahui rencana Tuhan maka kita mudah jatuh terperosok. Hari ini Tuhan Yesus menyatakan kemuliaanNya pada saya bahwa rencanaNya lebih hebat, lebih indah dari rencana saya. Saya boleh berencana, tapi kalau saya mengabaikan kehendakNya maka sia-sialah rencana saya. Setelah saya pikir-pikir, saya ‘beruntung’ sekali dijawab doanya begitu cepat, diberi hikmat, sekalipun jawaban Yesus bukanlah yang saya inginkan, namun dengan Tuhan Yesus memberikan jawaban itu, saya dengan cepat melangkah maju ke depan dan saya tidak akan jatuh pada kesia-siaan.

Yang ketiga, dengan mengenal rencanaNya saya pun merasa iman saya dikuatkan. Saya merasakan kenikmatan yang luar biasa saat kita menyerahkan segalanya dalam tanganNya. Surrendering all in the hands of Jesus, isn’t an easy thing to do. Tapi dengan berserah, taat pada kehendakNya, iman saya dikuatkan. Saya hanya berpegang pada Dia sang juru selamat. Saya tak perlu pusing dengan praduga, dugaan, keraguan dari diri saya ataupun omongan orang lain. Dan dengan demikian Tuhan dengan lebih leluasa membentuk saya sebagai pribadi yang seturut kehendakNya dan serupa denganNya.

Belajar taat pada Yesus tidak mudah karena kedagingan kita yang masih ‘liar’. Namun, belajar taat pada kehendakNya sungguh indah. Dan belajar taat pada kehendak Yesus itu dimulai dari hal sederhana ini:

RencanaMu Tuhan, bukan rencanaku.

KehendakMu Tuhan, bukan kehendakku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s