Jadilah Kepadamu Menurut Imanmu


Berbicara tentang iman memang seperti tak ada habis-habisnya. Berapa kali kita sering menghadapi persoalan yang sama, entah itu masalah keuangan, konflik keluarga, pekerjaan yang bikin stres dan masih banyak lagi. Sering kita mengalami ‘mentok’ dan akhirnya hanya bisa tertuntuk dan berpegang pada Tuhan dan saat itulah Tuhan campur tangan dan melakukan mukjizatNya. Dan berapa kali kita mengalami sukacita yang teramat luar biasa saat Tuhan menolong, tapi begitu bertemu dengan masalah serupa, masih saja kita ketakutan, khawatir, dan sepertinya iman yang pernah kita ‘miliki’ itu sekejap hilang membuat kita pun hilang pengharapan?

Sabda Tuhan hari ini,“Jadilah kepadamu menurut imanmu” (Matius 9:29) sungguh menegur saya. Sabda ini mengajak saya untuk introspeksi iman saya sendiri. Ya, betul akhir-akhir ini iman saya yang kerdil itu ditantang oleh Tuhan untuk bertambah dan maju saat menghadapi masalah atau kesulitan keuangan. Sebagai seorang single mother dari dua anak dan sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga, saya dituntut bijaksana mengelola keuangan keluarga. Dan memang tidak mudah untuk membiayai kehidupan keluarga, terutama membiayai kebutuhan sekolah dan sehari-hari anak-anak saya. Belum lagi, memang beberapa tahun belakangan ini, bisnis rumah produksi yang saya geluti bersama pemilik perusahaan tempat saya bekerja, membutuhkan kreativitas super ekstra agar bisa survive. Ajaibnya, di saat-saat saya menghadapi masalah keuangan pribadi itulah, saya belajar untuk menyerahkan trust saya pada penyelenggaraan Ilahi. Dan ajaib memang, ada beberapa kesempatan saat keuangan saya cekak, di saat yang tepat pula selalu saja ada mukjizat dari Tuhan Yesus mencukupkan segala kekurangan saya. Di situlah saya mengalami proses pembelajaran pertumbuhan dan perkembangan iman. Di saat saat saya kekurangan uang atau di saat-saat keuangan saya pas-pasan untuk setiap kebutuhan hidup saya dan anak-anak saya, justru di saat itulah saya belajar percaya pada Allah yang sanggup memenuhi kebutuhan saya, yang punya kuasa tak terbatas. Di saat-saat seperti itulah saya bersyukur tidak mengalami keadaan serba berkelimpahan seperti dulu karena justru dalam berkelimpahan saya jadi manusia yang sombong, yang tidak bijaksana, yang justru tidak mampu memberi atau berbagi pada sesama yang juga membutuhkan. Di saat-saat kekurangan atau pas-pasan itulah saya belajar to fix my eyes on HIM. Bukannya membiarkan mata ini tertuju pada masalah sehingga ketakutan dan kekhawatiran melanda, tapi inilah saat yang Tuhan berikan agar saya kembali ke padaNya dan mata saya tertuju hanya padaNya.

Apa yang akan terjadi pada kita, semua tergantung seberapa besar iman kita. Kalau kita tidak mampu percaya sepenuhnya pada kuasa Tuhan yang sanggup melepaskan kita dari segala kebutaan (buta karena dihimpit masalah, konflik, problem, sakit penyakit) maka yang terjadi kita tidak akan pernah bisa sembuh total atau secara utuh memperoleh kembali penglihatan kita. Yang terjadi hanyalah seperti kisah orang buta yang sudah diperingatkan Yesus untuk tidak tergoda akan euforia setelah bisa melihat. Kalau kita sungguh-sungguh mau belajar memiliki iman yang kuat Tuhan Yesus sanggup mengatasi masalah kita dan kita tidak lagi mengandalkan kekuatan kita sendiri, begitu Tuhan Yesus berhasil memulihkan kita, kita tidak akan semata-mata bersuka cita karena sudah ditolong. Tapi kita akan tetap memelihara iman itu agar semakin lama semakin kuat, semakin bertambah dan semakin besar. Kita tidak akan mudah terombang-ambing.

Jesus_hlng_blind_C-218

Kita pun tak ubahnya dua orang buta yang mengikuti Yesus dan memohon belas kasihNya pada kita karena kita tahu hanya Yesus satu-satunya yang sanggup memulihkan kita dari spiritual blindness yang kita alami. Sesungguhnya, dalam setiap saat, entah itu di tengah kegelapan jiwa kita akibat mengalami buta, atau saat teduh mendengarkan SabdaNya atau saat kita berdoa, Tuhan Yesus tak pernah sedetik pun melepaskan padanganNya dari kita sambil bertanya,“Percayakah kamu, bahwa aku dapat melakukannya?” (Matius 9:28)

Dan mulai saat ini, aku mau menjawab tanpa ragu-ragu, penuh percaya dan pengharapan,“Ya Tuhan, kami percaya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s