Jadilah Orang yang Sakit


Kalau kita sehat, kita merasa kuat. Tidak perlu obat, tidak perlu istirahat dan bisa kerja atau beraktivitas, tidak merasakan sakit. Tapi kalau sakit? Kita langsung membutuhkan pertolongan entah itu, kebutuhan ke dokter, minum obat, istirahat bahkan sekedar kebutuhan dijenguk, diperhatikan, diurusi (karena kalau sakit, kita terlalu lemah atau sakit untuk mengurusi diri sendiri).

Dalam kehidupan rohani, kita sering merasa sehat dan kuat. Kita merasa setelah ikut Yesus dan menghabiskan waktu dengan Dia atau makan bersama Dia, kita sehat sehingga kita sering lupa untuk membutuhkan Dia. Yesus bukan cuma untuk disebut namaNya atau menjadi juru selamat kita karena kita seorang kristiani. Lebih dari itu, Yesus mestinya kebutuhan kita dan pusat kehidupan kita. Dengan demikian, segala keputusan dan langkah hidup kita harus dan mutlak melibatkan Yesus. Karena kita merasa kuat, sehat, kita sering tidak melibatkan Yesus dalam keluarga, pekerjaan, rutinitas pelayanan, persahabatan kita. Baru pada saat kita jatuh sakit, menderita karena pelbagai masalah, saat itulah kita membutuhkan Yesus.

Kadang, kita perlu ‘membuat’ diri kita layaknya orang yang sakit karena orang yang sakit pasti butuh bantuan. Inilah saatnya kita merendahkan diri dan hati kita bahwa kita orang berdosa dan sakit yang lemah dan selalu butuh pertolongan Tuhan Yesus.

Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan intuk memanggil orang benar, melainkan orang bersosa. (Matius 9:13)

20130705-095518.jpg

20130705-095820.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s