Aku dan Janda Miskin


… but she out of her poverty put in all the living that she had. – Luke 21:4

the poor widow

the poor widow

Setiap kali membaca perikop tentang janda miskin yang dipuji Yesus, aku selalu teringat akan peristiwa mejelang malam Natal beberapa tahun lalu. Tahunnya terus terang lupa. Rasa-rasanya sudah lebih dari 4 tahun lalu. Hari itu tanggal 24 Desember. Rencananya, aku akan ikut misa malam Natal sore hari atau kalau tidak salah malam jam 7. Lagi-lagi lupa soal waktu. Hahaha, maklum ya umur semakin bertambah, memori pun makin berkurang akurasinya. Anyway, hari itu aku masih wara wiri diantar supir saya. Siang hari kira-kira pukul 2 siang, aku sampai di rumah hendak mengambil sesuatu di dalam rumah, lalu aku akan langsung berangkat lagi. Karena terburu-buru, aku tinggalkan semua barang-barang di mobil. Laptop, tas dan dompet. Yang aku bawa hanya handphone. Aku berpikir, toh ada supir biar dia sekaligus menunggui mobil ini. Ternyata, aku putuskan beristirahat sejenak di rumah sambil minum kopi. Tak lama kemudian, ada orang yang mengetuk pintu rumah dan memberitahukan bahwa jendela mobil sudah dipecahkan dan sepertinya ada yang mengambil barang-barang di mobil. Aku segera mengecek mobil yang di parkir persis di luar pagar depan rumah. Dan langsung lemas melihat kondisi mobil. Kaca kiri belakang pecah… dan macbook putihku sudah tidak ada di situ. Dan yang pertama muncul dalam pikiranku saat itu (please understand that at that time aku belum “hidup baru” alias belum mengalami pertobatan hihihihi),”Oh no!!!! My Miu Miu bag!!” Gak papa deh macbook hilang, asal jangan tas Miu Miu Black Coffer-ku! Itu tas yang baru beli saat discount pula dan digondol maling Meruya? Ooohh, tak sudi rasanya aku!!

Singkat cerita, aku bingung. Semua kartu kredit dan ATM ada di dalam dompet dalam tas Miu Miu itu. Bagaimana mau ambil uang tunai tanpa ATM? Semua kartu itu kan butuh waktu kalau mau dicetak lagi. Lagi pula saat itu sudah tanggal 24 Desember! Bank sudah tutup dan besok sudah libur, pasti sudah tidak bisa lagi aku ambil uang dari bank. Hatiku kesal setengah mati saat itu. Aku memarahi supirku karena menurutku dialah yang seharusnya bertanggungjawab mengawasi mobil. Dia tidak memasukkan mobil di carport sambil menungguku dan mobil dia tinggalkan begitu saja di depan rumah. Meskipun pada akhirnya, aku sendiri mengakui semua itu juga kelalaianku sendiri juga. Singkat cerita, aku langsung ganti plan. Aku putuskan ikut misa di Gereja Maria Kusuma Karmel di dekat rumah. Saat aku mampir ke kantor untuk urus laporan mobil ke kantor (karena mobil itu milik kantor), aku bertemu dengan makeup artist-ku yang biasa mendandaniku saat shooting acara Cek dan Ricek yang sudah kukenal akrab. Aku bilang padanya,”Fatima, pinjem duit dong gw kemalingan nih. Buat ke gereja dan balik ke rumah bokap nyokap tar malam natal,” Dia lalu meminjamkan uangnya. Again, I forgot how much money I borrowed from her. Hahaha….

Saat mengikuti misa, perasaanku campur aduk. Miris, kasihan benar ya Fanny. Angan-anganku adalah ikut misa dalam keadaan “sempurna” tapi kok ya, dimalingin pas menjelang Natal. Saat kolekte, aku buka tasku dan keluarkan uang yang tadi dipinjamkan Fatima (by the way, duit itu di dalam tas gak pakai dompet ya. Maklum, dompetnya kan juga dicolong) dan memasukkannya dalam kantong kolekte. Aku dalam hati berkata,”Tuhan, aku gak punya duit sama sekali. Ini pun minjem dulu sama Fatima. Cuma ini yang aku punya,”

Saat itu, antara miris dan mau ketawa aku pun ngomong dalam hati,”begini kali ya rasanya jadi janda miskin yang dilihat Yesus. Dia memberikan uang yang benar-benar cuma dia punya.” Dan aku pun tersenyum. Ya, Fan bersyukurlah hari ini menjelang Natal kamu dikasih kesempatan merasakan bagaimana jadi janda miskin. Literally, kamu kan memang janda. Dan hari ini kamu ‘miskin’ pula abis dimalingin. Berilah dari kekurangan itu dengan suka cita.

Lucu campur sedih. Tapi pengalaman itu membekas kuat dalam hatiku. Saat kita berkelimpahan dengan harta, kita bisa memberi kolekte atau sumbangan atau donasi dari kelebihan kita. Tapi saat kita tidak punya cukup harta, bahkan untuk sehari-hari saja kurang atau pas-pasan, mampukah kita memberi? Kalau mampu, itu tingkatannya sudah lebih dari memberi! Itu namanya berbagi! Karena menurutku, memberi itu artinya memberi dari kelimpahan. Masih ada tersisa banyak buat diri sendiri kalau mau memberi dari kelebihan kita. Bahkan bisa jadi yang diberikan itu adalah sisa atau yang tidak kita butuhkan. Tapi bagi mereka yang berkekurangan, memberi dari kekurangan atau kemiskinan mereka adalah berbagi karena sebenarnya mereka juga memhbutuhkan itu.

Hari ini aku kembali merefleksikan sabda Yesus tentang si janda miskin. Aku membayangkan tengah duduk bersama Yesus di bait Allah sambil melihat orang-orang yang keluar masuk di situ. Dan ketika Yesus memberi komentar tentang si janda miskin yang memasukkan dua peser ke dalam peti persembahan, aku memandang Yesus dan menyadari betapa Yesus sanggup melihat keindahan dari si janda miskin itu. Di mata dunia, si janda miskin itu orang yang ‘terbuang’ dan diremehkan. Dia perempuan, janda pula! Miskin gak punya apa-apa! But Jesus… Jesus sees her beyond our human eyes! He sees beauty in her. He trusts her. He believes in the poor widow.

Ada kalanya, aku merasa tak pantas untuk melayani Tuhan melalui komunitasku maupun dalam lingkup keluargaku sendiri. I am a single mother (bahasa dunia: aku janda) struggling to finance my two kids by my own. Ada saat-saat ketika aku masih kerja fulltime aku kesulitan uang dan sering sedih saat memasukkan uang ke kotak kolekte. How I wish I could give more if I had more money! But God has others plan. Financially, he might not allow me to have crazy amount of wealth. Tapi aku sadar, Dia sudan memberikanku begitu banyak talenta dan kesempatan mengembangkan talentaku. Itulah kekayaan yang Tuhan berikan padaku.
Kadang aku merasa, apakah aku pantas mendapat kesempatan untuk mengembangkan dan membagikan talentaku untuk memberkati orang lain dan memuliakan nama-Nya? Pernah aku merasa bahwa karena aku seorang single mother, aku merasa diriku seorang yang invalid karena aku terlibat dalam dunia pelayanan namun di sisi lain aku memiliki kisah perkawinan yang gagal sehingga membawa aku pada diriku saat ini, a catholic single mother with two children. Aku tahu mungkin ada pihak-pihak yang mempertanyakan ‘keabsahan’ diriku sebagai orang yang mau melayani dalam komunitas di satu sisi dan di sisi lain aku adalah anggota gereja yang menjadi orang tua tunggal karena berpisah dengan suaminya.
Namun aku percaya, Tuhan membimbing aku melalui penerimaan sahabat-sahabatku dalam komunitas. Melalui karunia berupa talenta yang Ia berikan padaku untuk dikembangkan dan berbuah bagi sesama. Aku memang janda miskin. Miskin dalam arti memiliki kekurangan dibanding perempuan-perempuan katolik lain seusiaku yang memiliki suami, keluarga yang lengkap. Namun aku percaya, Tuhan melihat segala sesuatu baik dari setiap mahluk ciptaan-Nya. Jesus believes in me more than I believe in my own self. Jesus is able to bless you with abundance and transform you from being poor to being rich! I am the poor widow. But in Jesus, I am blessed with His Grace abundantly. I am more than just gold and wealth.

Sering kali pula, kita merasa diri kita serba terbatas, merasa tidak mampu dan tidak sanggup, juga tidak pantas. Sehingga kepercayaan yang diberikan Tuhan untuk kita melayani-NYA sering kita tolak. Ajakan untuk melayani dan aktif dalam kegiatan ini, itu kita tolak dengan berbagai alasan. Itupun yang sering aku lakukan. Merasa tak punya cukup waktu dan merasa sudah banyak kesibukan, aku malas untuk memberikan yang terbaik buat Yesus.

But today, You sit next to me Jesus, in the Temple. And You look at me and believes that I am able to manage all my talents that You have given to me. You see me beyond human eyes. You see the beauty in me when others including myself can only see myself as i am. “In me, you will never be insufficient, Fanny,” You say to me and add,“yesterday you prayed that you may speak My Word courageously and fearlessly! So, go! Speak My Word and share!”

Thank you Jesus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s