Yusuf yang Galau


 

Image
Saya selalu penasaran dengan sosok Santo Yusuf, ayah dari Tuhan Yesus.  Penasaran dengan pria yang misterius satu ini.  Memang ya, cowok itu kalau rada-rada misterius, cool pasti tambah bikin penasaran! Memang tidak banyak ditemukan dalam Injil tentang sosok santo Yusuf ini.  Tapi ada beberapa hal menarik yang saya dapatkan tentang sosok Santo Yusuf ini, baik dari Injil maupun dari youtube.com (hhhmm… jauh juga ya Fan, perbandingannya! Antara Injil dan youtube!)  Kenapa saya cantumkan youtube sebagai salah satu sumber saya belajar tentang santo Yusuf? Karena di youtube saya menemukan sebuah video menarik tentang Mark Hart, pewarta katolik asal Amerika Serikat yang menafsirkan sosok Yusuf dari sisi komedi.

 

Anyway, back to laptop! Ini gambaran sosok Yusuf yang saya dapatkan (in no particular order)

  • Yosef itu pria galau saat Bunda Maria mengandung.  Gimana gak galau? Coba aja lihat Matius 1:18-20!  Santo Yusuf memang pria yang tulus hati, tapi menghadapi bunda Maria yang mengandung tanpa noda dosa dari Roh Kudus is, indeed, a big thing for a guy like him! Ingat, Yusuf juga manusia.  Hal yang manusiawi sekali bila kemudian Yusuf yang  tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Kegalauannya itu jelas terlihat ketika ia mempertimbangkan maksud itu, dan pada malam hari saat Yusuf tidur malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi.
  • Sekilas Yusuf kayak bapak-bapak yang hobi tidur.  Dan hebatnya, momen-momen penting Tuhan menolong dalam hidupnya saat ia galau justru terjadi waktu dia lagi mimpi.  Kalau orang mimpi, artinya tidurnya lelap banget, bukan?  Duh, mau banget tuh ya kita yang sering galau gini mendingan tidur aja deh.  Pas tidur, malaikat datang dalam mimpi kita dan memberitahukan apa yang harus kita lakukan.  Dalam Injil Matius, tercatat beberapa kali, malaikat memberitahukan hal yang harus dilakukan Yusuf dalam mimpinya. Saat ia terlelap tidur.  (Matius 1:20, Matius 2:12, Matius 2:13, Matius 2:19)
  • Yosef adalah pria yang sederhana, baik hati dan tidak sombong.  Makanya dia dipilih Allah untuk jadi suami Bunda Maria dan ayah dari Tuhan Yesus.  Kenapa saya bisa sampai pada kesimpulan ini? Karena Yusuf begitulah adanya! Dia tidak membangga-banggakan istrinya yang seorang perempuan tanpa dosa, menyandang predikat Bunda Allah. Kalau mengutip kata-kata Mark Hart, Yusuf beruntung karena dialah satu-satunya suami yang mendapatkan Mrs Right yang sebenar-benarnya!  Apa yang mau Yusuf banggakan dari anaknya Yesus yang jelas-jelas mengalahkannya dalam segala hal! Yesus itu Tuhan, sanggup menghidupkan orang mati, menyembuhkan banyak orang sakit. Yusuf hanyalah seorang pria taat pada kehendak Bapa yang memberikannya begitu banyak tantangan namun ia setia menghadapinya dan tidak lari dari tanggungjawabnya sebagai suami dan ayah! Bayangin kalau Yusuf itu sombong dan hidup di zaman digital kayak sekarang. Bisa-bisa dia tiap hari nge-twit begini “Anak gue, Yesus nih barusan bangkitin Lazarus. Siapa dulu dong bapaknya!” atau dia upload selfie bareng Yesus yang sedang sembuhkan orang-orang sakit di media sosial Instagram atau Facebook dengan caption “Gokil! Yesus sembuhin orang lumpuh! Anak gue niiiihhhh…” dan yang LIKE fotonya mencapai jutaan orang.

 

Yusuf adalah sosok pria biasa.  Dia juga manusia yang galau.  Tapi dia letakkan semua kegalauan itu di dalam hatinya yang tulus, penuh komitmen dan setia sehingga Allah pun melihat kemurniannya dan berkenan melakukan sesuatu untuk menolongnya dan menopangnya.  Allah tahu, jadi suami itu gak gampang! Allah tahu, menjadi ayah bagi bayi yang akan lahir dan yang baru lahir pasti membuat semua pria deg-degan dan nervous.  Tapi Allah tahu saat yang tepat untuk menolongnya.  

Yusuf dan Allah membangun teamwork yang sangat luar biasa! Allah memberikan dia kehidupan yang unusual, extraordinary (apa ada yang lebih luar biasa daripada punya tunangan dan istri wanita paling suci sedunia dan sesurga? Not to mention Mary is also the Queen of Heaven and Earth! St. Joseph marries a Queen!!!).  Yusuf menerimanya, bahkan rela bersusah-susah dengan menerima Maria yang mengandung dari Roh Kudus, mendampingi Maria melahirkan Yesus di tengah situasi pengungsian, pergi membawa bayi yang baru lahir bersama ibunya ke Mesir, kembali lagi dan tinggal di Nazareth.  Dan saat ia mengalami kegalauan tingkat akut, Yusuf menenangkan diri, tidak panik (eeerrrr… mungkin ini yang dimaksud tidur lelap kali ya hehehehe) dan Tuhan melalui malaikatnya memberikan jawaban yang sungguh luar biasa.  Yusuf pun dengan penuh kesetiaan dan taat melakukan kehendak Allah.  Ini baru kerja sama yang luar biasa dari sepasang suami istri hebat! Berkat ketaatan, kerendahan hati dan kesetiaan dua manusia bernama Yusuf dan Maria, rencana Allah dapat berjalan dengan mulus.

Pria atau perempuan, semua bisa meneladani Santo Yusuf. Dia galau, kehidupannya ribet, rempong kalau kata anak gaul jaman sekarang. Tapi Yusuf tidak panik. Saya yakin, Yusuf pun berdoa siang dan malam memohon Tuhan untuk membantu mengatasi kegalauannya. Dan kalau kita tenang, kita bisa buka hati kita yang tertutup. Kita bisa melembutkan hati kita yang keras dan kita bisa merendahkan hati kita yang cenderung sombong, untuk menerima uluran tangan Tuhan yang senantiasa mau menolong kita. Kalau Tuhan sudah mau menolong, Dia akan pakai cara apa saja untuk melakukannya. Bahkan kalau perlu Dia kirimkan malaikat untuk menjadi penyampai pesannya. Mungkin dalam hidup kita, ada ‘malaikat’ yang membuka jalan dalam menghadapi persoalan. Bahkan kalau perlu, saat kita tidur Tuhan pun bekerja! Berapa sering kita pusing menghadapi masalah, lalu kita menyerah dan akhirnya beristirahat dan saat kita bangun, kita jadi segar dan bisa berpikir secara jelas. Bersyukurlah saat itu karena begitulah Tuhan bekerja dalam hidup kita.

Bukankah kita merindukan sosok Yusuf dalam keluarga kita? Semoga anak-anak kita menjadi pria tulus yang takut akan Tuhan seperti Santo Yosef.  Semoga suami-suami, menjadi  laki-laki yang setia, berkomitmen dan mau bekerja sama dengan Allah dalam mewujudkan rencanaNya. Semoga ayah-ayah meneladani Santo Yosef, yang meskipun punya anak hebat luar biasa tidak merasa itu adalah peran dan keegoannya, melainkan tetap rendah hati atas anugerah Allah dalam hidupnya.

Maka sungguh tepat homili Bapa Paus kemarin (17/12) saat memimpin misa tepat di hari ulang tahunnya yang ke-77 di Casa Santa Marta, Vatican City:

With Christmas near, let us think 

if He has made His Story with us

if He has taken His last name from us,

if He has let us write His Story,

at least let Him write our stories.

That is holiness, letting the Lord write our story.

 

Ya, kekudusan adalah ketika kita membiarkan Tuhan menuliskan kisah kehidupan kita.  

Saint Joseph pray for us!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s