Jadikan Anak-Anak Kita Martir yang Suci (Pesta Kanak-Kanak Suci 28 Desember)


Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah.  Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Bethlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu.  (Matius 2:16)

Image

‘The Triumph of the Innocents’, William Holman Hunt

Pada saat saya merenungkan Injil hari ini, saya berkeinginan untuk menuliskan sesuatu di blog ini tentang hasil perenungan saya.  Begitu membaca Injil Matius 2:13-18, langsung otak ini seakan siap memerintahkan tangan saya untuk menuliskan tentang banyak hal. Mulai dari mengajak pembaca untuk meneladani Santo Yosef yang melindungi keluarganya mengungsi ke Mesir, mengajak pembaca siap mental karena seperti halnya kelahiran Yesus yang bawa kebahagiaan maka dalam waktu bersamaan muncul pula tantangan dan penderitaan, sampai rencana menulis tentang kita yang tidak boleh menjadi orang tua yang berlaku seperti Herodes pembunuh anak-anak kecil, dalam hal ini jangan membunuh anak-anak kita melalui kata-kata atau perbuatan yang menyakiti hatinya.

Sebelum membaca Injil, saya berdoa mohon hikmat.  Dan semakin saya terus membaca ulang perikop Injil ini, semakin saya menemukan sesuatu yang berbeda dari yang sebelumnya saya duga dan rencanakan akan tulis.  Kisah penyingkiran ke Mesir memang menceritakan bagaimana Yesus yang masih bayi, diungksikan bersama Bunda Maria oleh Santo Yosef yang sangat baik, taat pada Tuhan dan sangat melindungi Yesus dan Maria.  Namun, lebih jauh lagi kita akan menemukan justru khusus di perikop ini, – dan mungkin ini sering kita abaikan-, fokus utamanya adalah anak-anak batita di Bethleham dan sekitarnya yang dibunuh secara keji oleh Herodes karena dia sangat marah para majus tidak memberitahukan kepadanya keberadaan bayi Yesus sang Raja Yahudi yang baru lahir.  

Saya kembali membaca pelan-pelan Matius 2:16. Dan saya ingin mengajak Anda, saat ini juga membaca dengan lantang ayat ini perlahan sampai kita benar-benar merasakan kepiluan, keheningan, kengerian yang bercampur aduk terjadi pada saat bala tentara Herodes masuk ke rumah-rumah dan membunuh setiap bayi yang lucu, yang tengah tertawa, atau menangis.  Bayangkan, suara-suara bayi yang melengking atau sekedar berceloteh tak karuan tiba-tiba berhenti bersuara dan senyap itu digantikan dengan jeritan histeris kedua orang tuanya.  

Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah.  Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Bethlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu.  (Matius 2:16)

Pada saat saya menulis renungan ini, saya berada di kamar tidur saya.  Di tempat tidur, sedang terbaring putri bungsu saya yang baru genap berusia 13 tahun.  Tidurnya sangat tenang dan pulas.  Saya tidak sanggup berkata apa-apa. Tuhan baru saja mengingatkan saya akan sebuah peristiwa pembunuhan massal dua ribu tahun lalu sementara saat ini saya dipenuhi dengan berkat luar biasa dengan dua anak saya yang telah memasuki usia remaja, dalam keadaan sangat sehat dan memiliki kemampuan belajar yang sangat luar biasa.  Saya cuma bisa mengatakan dan berdoa betapa aku sungguh diberkati oleh Engkau, Tuhan.  Ada kalanya, dunia ini menawarkan kesenangan-kesenangan untuk memiliki materi ini dan itu, lalu saya yang belum sanggup memiliki barang ini itu mulai merasa iri dan pahit melihat orang lain atau teman yang punya kemampuan memiliki kesenangan-kesenangan materi duniawi.  Saya lupa kalau saya punya harta yang sungguh berharga tak ternilai, tak tergantikan yakni dua anak-anak saya sendiri.  Di dalam mereka saya melihat Yesus yang hadir. Dan bagi saya cukuplah itu semua.  

Anak-anak yang masih tergolong batita yang dibunuh secara keji oleh Herodes dua tahun lalu kemudian disebut dan dihormati oleh Gereja Katolik sebagai Kanak-Kanak Suci.  Mereka meskipun masih bayi dan belum tahu apa-apa, mereka sudah disebut martir karena mereka mati demi bayi Kristus, sang Raja segala raja.  Itulah sebabnya hari ini Gereja merayakan Pesta Kanak-Kanak Suci.  

Kelahiran Yesus memang membawa suka cita dan damai sejahtera.  Namun kita perlu ingat, ikut Yesus juga berarti siap menanggung salib.  Karena Yesus sendiri mengalami banyak tantangan dalam hidupNya, mulai sejak dalam kandungan sampai wafatNya.  Baru lahir, ia sudah dicari-cari Herodes sehingga harus diungsikan oleh Santo Yosef.  Saat Ia mulai berkarya Ia pun menghadapi banyak penolakan.  Hidup kita pun akan serupa dengan perjalanan Yesus, penuh penolakan, penuh penderitaan.  Namun justru di saat tidak menyenangkan itulah, ketika kita mau merendahkan diri di hadapan Tuhan dan membiarkan kuasaNYA bekerja, maka kita dimampukan melewati semua itu.  

Kita semua dipanggil untuk hidup serupa Kristus, menjadi kudus dan suci.  Sepanjang hidup dan sampai ajal pun, kita mau setia hanya pada Kristus.  Kanak-kanak suci menjadi sumber inspirasi bagi kita para orang tua untuk menjadikan anak-anak kita martir.  Jadikanlah anak-anak kita kudus dan suci dengan cara mengajarkan mereka untuk taat pada Tuhan.  Jadikan mereka saksi Kristus yang membela Nya sampai ajal menjemput.  Aku berjanji, bersama-sama dengan anak-anakku aku mau hidup di dalam kekudusanMu. Aku mau berdoa bersama anak-anakku.  Aku mau menjadi teladan bagi mereka.

Sebelum menjadikan anak-anak kita martir yang suci, jadilah terlebih dahulu murid Yesus yang hidup dalam kekudusan dan setia sampai mati di dalam iman dan Yesus, sekalipun itu berarti nyawa yang harus jadi harganya.  

 

Saint Joseph and Mother Mary, please pray for my children, for their safety and may they lead an obedient and holy life in Christ. Amen!

Image

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s