Jujur, Baik Hati dan Tidak Sombong


Kesombongan adalah musuh besar manusia. Dengan mudahnya manusia merasa paling hebat, paling pintar. Ia lupa kalau kehebatannya itu juga karena bantuan orang lain. Kepintaran pun kalau tidak diasah, distimulasi melalui interaksi dengan orang lain, pastinya tidak akan berguna.

Jatuh dalam kesombongan adalah hal yang paling mudah terjadi. Membanggakan diri sendiri atas pekerjaan atau karya kita adalah hal yang paling sering kita lakukan. Atau jangan-jangan, ungkapan “Ini semua karena Tuhan” atau “Puji Tuhan” hanyalah merupakan kemasan belaka sementara hati ini selalu ingin menonjolkan peran pribadi dalam sebuah pekerjaan. “Untung tadi gue ambil keputusan ini, kalau gak …” atau “Si A mah gak bisa kerja, semua kerjaannya gue juga yang kerjain” adalah ungkapan-ungkapan terselubung yang ingin orang lain melihat peran hebat kita, lalu ungkapan-ungkapan itu dibungkus dengan embel-embel pertolongan Tuhan. Saya teringat pesan Bapak saya. Katanya,”Kalau kamu punya usaha bisnis dengan orang lain, jangan pernah buat klaim kamu sudah berbuat ini itu, pontang panting berjibaku dengan berkontribusi di hal X maupun Y. Jangan pernah, karena semua itu berhasil karena usaha bersama. Maka janganlah juga saling menyalahkan.” Kesombongan muncul karena kita tidak jujur pada diri sendiri. Tidak jujur mengakui kalau kepandaian, kehebatan kita ditopang oleh banyak hal. Kesombongan membawa kita pada kehancuran. Dan bagi saya pribadi, kesombongan adalah musuh terbesar saya. Kesombongan itu muncul saat saya pelayanan (merasa paling jago, paling hebat dalam
mengerjakan ini itu), dalam pekerjaan/karir (merasa paling tahu, menyepelekan pendapat orang lain).

Pada akhirnya, kita sendiri yang bisa membedakan. Melalui Roh Kudus, kita bisa melihat karya Tuhan dalam keberhasilan dan kesuksesan kita. Kita ternyata bukan siapa-siapa, bukan apa-apa kalau kita tidak berdoa, tidak taat pada Dia. Kita bisa melakukan segala hal benar-benar karena ada kuasa dan kekuatan yang lebih besar dari pada diri kita sendiri. Semuanya bisa terjadi kalau kita jujur dan tidak sombong mengaku kita lemah, tidak sanggup tanpa pertolongan dan rahmat Tuhan.

Yohanes Pembaptis adalah pribadi yang jujur, baik hati dan tidak sombong. Jujur karena dia mengaku bahwa dia bukan Mesias, bukan nabi yang akan datang dan bahwa ia membaptis dengan air. Baik hati karena ia mau mengambil peran untuk mempersiapkan kedatangan Yesus, karena ia mau membuka jalan pertobatan. Tidak sombong karena sekalipun ia punya peran besar sebelum Yesus, ia tetap rendah hati (“…Membuka tali kasutNyapun aku tidak layak.” – Yohanes 1:27)

Jujur, baik hati dan tidak sombong bukan perkara mudah di dunia saat ini. Tapi marilah di awal tahun baru ini, kita jadikan janji untuk memperbaiki kualitas diri agar semakin serupa dengan Kristus. Dan mari berdoa :

Hari ini kami mohon rahmatMu Tuhan. Roh Kudus hadirlah, bimbing kami dan curahkan roh kerendahan hati dan ketaatan agar segala sesuatu dalam hidup kami bersumber hanya dariMu! Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s