Kisah Bunga di Altar


Peristiwa ini terjadi weekend yang lulu, 8-9 Maret 2014 ketika aku mengikuti Rekoleksi Tim PDKK Maria Kusuma Karmel bersama-sama teman sekomunitas.  Aku  ditugaskan sebagai seksi Pujian dan Liturgi.  Tugasnya mengatur siapa saja teman-teman satu tim yang bertugas memimpin pujian untuk setiap sesi dan saat Misa, juga berkoordinasi dengan pemusik/keyboardist.  Karena ada tambahan tugas sebagai seksi liturgi, maka aku pun harus bertanggungjawab atas persiapan misa yang dilakukan Sabtu sore.  Sebelumnya aku sudah diberitahu bahwa romo yang akan membawakan pengajaran sekaligus memimpin misa, Romo Felix Supranto, SCCR sudah membawa peralatan misa.  Pekerjaan aku pun menjadi ringan.  Teman satu tim yang bertanggung jawab atas acara ini, Ibu Adeline, mengingatkan aku untuk membawa bunga untuk diletakkan di meja altar.  Aku mikir-mikir, siapa yang bisa aku minta tolong bawakan bunga segar ya? Aku lalu berinisiatif untuk membawa salib yang bisa dipasang di meja, patung Bunda Maria dan lilin.  Karena aku tidak punya salib yang bisa dipasang di meja dan patung Bunda Maria yang seukuran, maka aku pun meminjamnya dari sahabat saya, Winny dan Yuny.  Dan saking sibuknya dengan urusan lain, aku lupa untuk bawa bunga!

Sabtu sore, acara dimulai dengan sesi pengajaran.  Sebelumnya, aku mau menata meja di depan dengan lilin, patung Bunda Maria dan salib.  Saat aku mengeluarkan salib, entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba semuanya terjadinya begitu cepat! The corpus went off from the cross!!! Oh no!!!!!! That was so shocking for me! Ya, badan Yesus yang tadinya tergantung di salib itu tiba-tiba terlepas, jatuh ke lantai dan …. ujung kakinya patah! Terbelah sampai 3 potongan. Oh no! This is not so happening to me! Itu jeritan hatiku.  Aku langsung mengambil potongan-potongan itu dan terpikir mencari lem untuk menempelkan kembali. Ditemani sahabatku, Medi, kami berdua menuju meja resepsionis tempat kami menginap. 

“Ada lem super glue gak, Pak?”tanyaku pada petugas.

“Gak ada bu.  Adanya lem biasa,” jawabnya sambil memberikanku 1 lem biasa yang aku pakai jaman SD dulu buat bikin prakarya pakai kertas.  Cuma mukjizat yang bisa bikin lem ini nempelin dan nyambungin potongan kaki Yesus yang patah dari salib itu, begitu pikirku dalam hati.  Dengan langkah gontai kami meninggalkan resepsionis.  Akhirnya, kami berdua meminta tolong teman kami, Yudi untuk membelikan lem superglue di dekat hotel karena dia memang membawa mobil.  Puji Tuhan! Yudi berhasil membeli 2 superglue sekaligus! Medi pun segera dengan cekatan mengerjakan perbaikan terhadap korpus Yesus itu.  Aku sengaja gak mau ikut-ikutan karena aku tahu aku paling gak bakat dalam urusan sambung menyambung pakai lem beginian.  Selalu saja gagal. Amazingly, dokter Medi berhasil menyambungkan bagian kaki yang terputus itu dengan sempurna. Horeeeeee, operasi kaki Yesus berjalan dengan lancar!

“Elu apain Tuhan Yesus sampai begini! Mentang-mentang masa Prapaskah, elu jalan salib, ikut-ikut nyiksa dia juga Fan?”tanya Medi sambil bercanda. Aku cuma mesem-mesem aja. Sambil memandang Medi yang sibuk mengoperasi kaki Yesus dengan lem lalu menempelkan tangannya ke kayu salib, dalam hati aku bergumam, “Ampun Tuhan Yesus. Jahat banget ya aku. Bahkan Kamu dalam bentuk benda mati pun masih harus mengalami penderitaan ini,”  Sekarang kalau aku ingat-ingat kejadian itu, aku mau ketawa bawaannya. Lucu, miris, kocak.  

ImageImageImage

Anyway, urusan salib beers. Next …. 

“Fan, bunga mana?”tanya Bu Adeline. 

Aaaarrggh! Lupa! Kemarin ingatnya mau minta tolong teman bawain bunga, dilalah lupa banget! Oh no! Aku langsung kepikiran lagi. Resepsionis!! Dan ini lucunya! Kalau tadi tiba-tiba ada Medi yang menemani aku mengurus salib Tuhan Yesus, kali ini tiba-tiba ada Mba Maria di sebelah aku yang dengan sigap bertanya apa yang aku perlukan. Accidental? I don’t think so!

Aku katakan padanya, aku lupa siapkan bunga segar buat dekorasi altar di misa sore ini.  Kami langsung bergerak menuju resepsionis.  Dan kali petugas mengatakan sama sekali tidak ada bunga! Kami berjalan sesaat mengitari sekitar halaman depan resepsionis.  Di situ ada pula teman kami, Pak Patrick yang sedang mencari keberadaan bunga yang bisa dipetik.  Sampai akhirnya perhatian kami tertuju pada serangkaian tanaman dengan bunga yang bertangkai kurus, jenjang dan kuncupnya berwarna kuning dan merah.  Aku baru tahu kalau bunga ini namanya Canna indica (Thanks Rico Christa, yang udah info nama bunganya :)) Kami langsung dapat ide, bagaimana kalau kita ambil 3 tangkai bunga, 3 tangkai daun hijau dan Pak Patrick dan Mba Maria sempat lihat daun palma.  Bagaimana ditambah dengan 1 tangkai daun palma karena sekarang sedang masa Prapaskah?  Di otakku sudah terbayang cara merangkainya.  Please take note that I am not a florist, but apparently having a small cafe requires me to some DIY such as arranging flowers and I managed to do some and the results were cool🙂  Aku bayangkan masing-masing kuntum bunga itu dilatarbelakangi oleh masing-masing 1 daun hijau dan daun palma yang melebar itu akan menghiasi layer terbelakang dari rangkaian bunga dan daun ini. 

Pak Patrick langsung pinjam pisau dan kami mulai memotong bunga, daun dan daun palma. Terus, vas bunganya pakai apa?

“Pakai botol aqua aja, gampang kan mbak?”begitu usul Mba Maria.

Botol aqua bekas? What???? Iya sih, pakai botol aqua bisa bikin Romo Andang senang karena kita mempraktekkan upaya daur ulang, reusing stuff. But, vas bunga dari botol aqua bekas??? Begitu kira-kira yang ada di otakku.  Tiba-tiba teringat kalau aku tadi dari rumah bawa 1 tumbler merchandise dari kantor sahabatku (Mba Yayuk) yang aku isi dengan kopi.  Ah, itu aja! Lagian tumblernya keren! Dari bahan metalik ditutup dengan cover kulit imitasi berwarna hitam.  Begitu tiba di kamar hotel, kami segera merangkai bunga itu. Dan….. voila!!!  Jadilah dia rangkaian bunga instan siap untuk menghiasi meja altar misa sore ini.

Aku lalu membawanya ke ruangan pertemuan. Kuletakkan di meja altar lalu aku duduk di kursi paling belakang.  Aku hanya ingin melihat bagaimana kelihatannya bunga itu kalau dilihat dari sisi umat.  Untuk sesaat aku terdiam.  Aku terhenyak.  I actually couldn’t believe my own eyes!  Rangkaian bunga itu terlihat sangat indah dan segar.  Rangkaian bunga yang minimalis karena cuma ada 3 tangkai bunga, 3 helai daun dan 1 tangkai daun palma.  Tapi warna bunga yang kuning dan merah terlihat sangat kontras karena di layer berikutnya ada daun berwarna hijau terang. So stunning!! 

ImageImage

Dalam keheningan aku cuma bisa berkata Thank You Jesus. Everything looks alright there in the altar.  Salib Yesus sudah berdiri dengan gagahnya, lilin pun siap menyala bersama patung Bunda Maria.  Dan rangkaian bunga terlihat mencolok meskipun dia bukan rangkaian mawar atau bunga mahal lainnya.  

Image

Aku mencoba merefleksikan apa makna dari semua ini.  Aku merasa saat aku diberi tugas pelayanan, aku kurang detail dan serius mempersiapkannya.  Tugasku mungkin sederhana dan kecil, tapi untuk tugas seperti itu aku belum memberikan yang terbaik.  Masih ada kekurangan di sana sini karena keteledoranku, kemalasanku.  Dan aku sempat merasa bersalah setelah menyadari tidak membawa bunga untuk dekorasi altar.  Tapi Tuhan sangat baik.  Dia bukannya menghukum aku tapi Dia justru menolong aku untuk menyempurnakan segala kekurangan itu.  Dia sediakan teman-temanku yang hari itu menjadi penolongku.  Ingat Medi, si ibu dokter (dia bukan dokter tapi khusus untuk kejadian menempelkan potongan kaki patung Yesus di salib, aku sebut dia ibu dokter ahli bedah pakai super glue) yang sukses “mengoperasi” kaki Yesus yang patah?  Ada juga Yudi yang bersedia belikan superglue.  Lalu tiba-tiba ada Pak Patrick yang menawarkan diri mencari bunga dan meminjam pisau untuk memotong bunga.  Juga Tuhan kirimkan Mba Maria yang menemani aku mencari bunga dan bantu merangkainya, mesti idenya pakai botol aqua kurang aku bisa terima hehehhehehe. Dan bunga itu, semua disediakan oleh Tuhan dengan luar biasa! 

Image

God is so good!  Kasih Tuhan lebih besar, lebih dalam dari apa yang kita pikirkan! Kalau kita mau bekerja sama memperbaiki diri kita dari kesalahan atau kelalaian atau kekurangan kita, Tuhan jauh lebih sabar dan baik lagi mendampingi serta menyediakan apa yang kita butuhkan untuk memperbaik kesalahan itu semua!  Asalkan kita mau bekerja sama dengan Dia dengan penuh iman!

Image

2 thoughts on “Kisah Bunga di Altar

  1. Rico Christa says:

    Sungguh ini kesaksian sederhana tapi luar biasa. Sungguh Tuhan Yesus kita itu sangat teramat baik. Bunga itu namanya Canna indica.. Hehehehe.. Praise Jesus!!,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s