Hidup, Mati dan Peziarahan


Image

Itulah doa sesudah komuni yang dibacakan Romo Djono, romo paroki di gereja tempat saya mengikuti misa hari Minggu tadi. Doa diambil dari teks misa. Saat berdoa dan membacanya dalam hati, saya sungguh tersentuh oleh kata-kata dalam doa itu. Singkat, tapi hari ini saya sangat tersentuh dengan doa ini. Bagi saya pribadi, kata-kata dalam doa ini sungguh sangat mendalam artinya. Lebih dari sekedar menyentuh.

Image

Sesungguhnya, Ekaristi adalah harta ‘terpendam’ yang sejatinya teramat luar biasa! Yesus hadir setiap saat, setiap waktu, melewati batas waktu dan jarak di dalam perayaan Ekaristi. The greatest love story is in the cross, where He died and rose again! And His everlasting love is in the real presence of Eucharist! Kebahagian yang baru seteguk itu, lewat sakramen Ekaristi yang kita bisa nikmati dan dapatkan setiap saat, Ia izinkan untuk kita alami. Alasannya sederhana, karena Yesus mengasihi saya dan Anda. Dia tahu betapa berat perjalanan salib kita di dunia ini, maka Ia pun mau membagikan kebahagiaan surgawi lewat perayaan Ekaristi ini, supaya kita boleh disegarkan oleh roti surgawi. Meski cuma sekedar mencicipi saja, bila kita imani dengan sungguh-sungguh, Ekaristi memberikan kekuatan yang teramat luar biasa karena Yesus sendiri yang hadir dan menghampiri kita. Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya! (Mazmur 34:8-9)

Sering saya bayangkan, apa yang sebenarnya terjadi saat kita menyelesaikan kehidupan kita di dunia ini dan bila Tuhan berkenan kita boleh memasuki kehidupan surgawi? Bukankah di rumah Bapa yang ada hanya pujian dan penyembahan selamanya dalam kekekalan, bersama para malaikat dan orang-orang kudus ? Bisa bayangkan indah tiada tara bila boleh tinggal di surga bersama Bapa seperti yang ditulis di kitab Wahyu?

Dan keempat mahluk itu masing-masing bersayap enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata, dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang.” Dan setiap kali mahluk-mahluk itu mempersembahkan pujia-pujian, hormat dan ucapan syukur kepada Dia, yang duduk di atas tahta itu dan yang hidup sampai selama-lamanya, maka tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya. (Wahyu 4:8-9)

Setiap hari, setiap saat, setiap detik, selamanya hanya memuji dan menyembah Tuhan. Forever bless Him in eternity! Ah, betapa indahnya! Betapa berbedanya dengan perjalanan hidup kita di dunia ini yang penuh dengan beragam kesulitan, problem, tantangan yang sepertinya tak pernah berhenti menghadang atau menghampiri kita. Sungguh berbeda! Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu. (Wahyu 21:4)

Kembali ke teks doa sesudah komuni yang sungguh menyentuh hati saya hari ini setelah menerima komuni pada misa hari ini. Doa ini menggugah hati saya untuk merenung. Sekaligus membuka lagi mata, hati dan iman ini. Sesungguhnya, apa sih sebenarnya tujuan kita hidup di dunia ini? Untuk menghidupi hidup yang sudah dikaruniakan Tuhan pada kita? Untuk masa depan anak cucu kita? Untuk melayani sesama? Untuk kemuliaan kerajaan Allah di bumi? Agar orang-orang yang “miskin” boleh merasakan atau paling itdak mencicipi kerajaan Allah di dunia ini, sebagian dari kehidupan surgawi juga telah terjadi saat ini ketika kasih mendasari segala perbuatan manusia? Bagi saya pribadi, doa ini mengingatkan saya untuk kembali meredifinisikan makna hidup saya pribadi di dunia ini. Untuk apa saya hidup saat ini? Apa tujuan dan maksud saya ada di dunia ini? What is my purpose? Of course, tidak bisa saya jabarkan langsung saat ini juga di tulisan ini. Karena itu juga merupakan bagian dari perjalanan iman saya yang akan saya terus telusuri, renungkan dan maknai selama saya masih hidup sebagai manusia ciptaanNya di dunia ini, dalam kehidupan ini. Tapi paling tidak doa sederhana itu mengingatkan saya bahwa ada kehidupan yang lebih indah dari saat ini setelah kita dipanggil Tuhan menghadap Dia di rumahNya, diperkenankan masuk ke surga. Saat ini juga, hidup ini indah bila kita memang sungguh-sungguh hidup di dalam Tuhan. Tapi kehidupan yang lebih indah lagi ada setelah kita meninggalkan dunia ini. Doa ini mengingatkan saya, kehidupan di dunia ini adalah perziarahan menuju kehidupan yang sesungguhnya, menuju rumah Bapa dimana Allah Bapa sang Pencipta bersatu bersama putraNya, Yesus Kristus, dan Roh Kudus yang penuh cinta dan kasih. Hidup saat ini adalah sekolah, tempat saya belajar mengenal Dia, belajar taat pada Dia, belajar berjalan bersama Dia, belajar hidup di dalam Dia, supaya pada saat hidup kekal nanti, saya diperkenankan berjumpa dengan Dia face-to-face. Maka sia-sialah ketika kita hidup di dunia ini, kita lebih banyak menyesuaikan diri dengan apa yang ditawarkan dunia dan menjadi lekat padanya. Apakah kita akan membawa segala harta kekayaan dunia saat kita mati? Apakah kita akan membawa mobil, rumah, emas, uang milik kita saat kita mati? Bahkan kita tidak akan bisa membawa pasangan, orang tua, anak cucu, sahabat saat kita mati nanti. Kita cuma bisa mewarisi iman kita pada mereka agar mereka terus dan seterusnya menjalani perziarahan indah ini. Ternyata kekayaan terbesar dan terpendam adalah Yesus Kristus yang hendak kita wariskan pada anak cucu kita. Kalau kita tahu bahwa setelah kematian manusia ada kehidupan kekal, kenapa kematian mesti ditakuti, dan membuat kita merasa tidak pernah siap? Sebegitukah kadar iman kita? Aren’t we supposed to look forward to our better future in our Father’s house? Aren’t we supposed to live in resurrection? There is life after this life in this world. And that life is far much better, it is our final destination of our pilgrimage.

Saya pun teringat pembicaraan saya dengan seorang sahabat beberapa hari lalu. And i believe that conversation was not a coincidental either. Ketika itu kami berdua tengah ngobrol seputar beragam masalah dan current issues yang terjadi di dunia akhir-akhir ini. Kejahatan terorisme, tindakan kriminal yang dilakukan manusia, kejahatan korupsi yang merajalela. Dan kami pun berkata,”Lord Jesus please come early!” dan “Don’t we long to see HIM face to face?” We need Jesus to help us with all this mess in our life. We need HIM so bad to help us in our life, in all aspects of our life. We need HIM to heal our wounds, our pains, our broken relationships and marriage. We need JESUS, prince of peace to stop the war, the conflicts and every suffering! Apakah ini berarti kita lebih suka lari dari kenyataan dunia dan tak mau bersusah payah hidup di dunia dan lebih prefer kalau Jesus’ second coming takes place this very minute? Bukan begitu, maksud dan arah pembicaraan kami berdua. Pada intinya, kami percaya Tuhan sendiri yang meletakkan kerinduan itu dalam hati kita masing-masing. Kerinduan untuk kembali kepadaNya, kerinduan bersatu di dalam Tuhan, kerinduan memuji dan menyembahNya. Maka, kita pun tetap menjalani hidup di dunia ini by giving dan doing our best to live our life in Christ. After all, bukankah life is a gift? Hidup yang kita jalani saat ini, perziarahan kita swat ini merupakan karunia Tuhan yang sangat luar biasa. Dengan menyadari bahwa Tuhan menjanjikan hidup yang lebih komplit, lebih penuh, lebih abadi di surga nanti, mestinya lebih membuat kita terus menjalani hidup di dunia ini dengan penuh suka cita dan bersandar pada Dia. Membuat kita lebih bersemangat to live our life to the fullest because we know that there is a hope, bahwa kita punya tujuan hidup yang sangat pasti, yakni kehidupan kekal bersama Bapa di surga. Adalah penting untuk mempersiapkan masa depan kita hidup di dunia ini. Mempersiapkan masa depan anak cucu kita. Tapi, lebih penting lagi, sudahkah kita mempersiapkan diri untuk masa depan kita di surga nanti, di kehidupan kekal nanti? Let’s fix our eyes on Jesus, let His Spirit fill us in every aspect of our life, so we can leave this worldly life and be ready to enter His Father’s house.

Hari ini juga, mintalah pada Tuhan supaya Dia meletakkan kerinduan dalam hati ini untuk kita boleh merindukan tinggal di dalam kediamanNya yang kudus. Minta pada Dia supaya kita diberi rahmat agar mampu melewati peziarahan di dunia ini menuju suatu kekekalan yang sejati di dalam kemuliaanNya. Minta supaya kita diberi hikmah untuk boleh mengenal Dia, memahami Dia agar kehendakNya terjadi saat ini juga dan saat nanti kita masuk ke kehidupan baru di surga. Dan seperti doa yang diucapkan romo hari ini pada misa tadi, Kami mohon, selesaikanlah kiranya karya yang dalam ibadat ini telah Kaumulai dalam diri kami!

 

 

Enjoy your pilgrimage and be ready for the eternal life as promised by God!

Lord Jesus please come early! Don’t we long to see HIM face to face?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s