Rendahkan Hati Bangsa Ini, Tuhan (Permenungan Jelang Pilpres 9 Juli 2014)


Jelang siang ini, saat saya bersaat teduh, saya tergerak mendengarkan lagu ini. Sebuah lagu rohani yang liriknya sangat indah dan sangat menyentuh dan sangat tepat untuk kita nyanyikan di saat ini, hanya jelang 2 hari sebelum Pemilihan Presiden RI.

Kami umatMu rendahkan diri sujud dan berdoa
Mencari wajahMu berbalik dari jalan kami yang jahat

Oleh anugerahMu ampunilah
Oleh anugerahMu pulihkanlah

Tuhan pulihkan Bapa pulihkan
Kembalikan bangsa kami kepadaMu
Bapa pulihkan ampunilah bangsa kami
Dan pulihkan kembali negeri kami

Kata-kata dalam lagu ini bagi saya sangat menyentuh dan air mata tidak terbendung pada saat saya menyanyikannya tadi sambil berdoa. Liriknya menggambarkan kerendahan hati umat yang memohon ampun atas segala dosa yang telah diperbuat sebagai rakyat. Seberapa buruk kondisi bangsa ini, mungkin akibat perbuatan oknum-oknum pejabat pemerintah, kita tidak bisa hanya saling menyalahkan. Kita semua sebagai warga negara maupun sosok pribadi, tak lepas dari perbuatan dosa dan salah. Maka lagu Bapa Pulihkan ini sangat tepat untuk jadi bahan permenungan kita. Kita pun telah melakukan perbuatan di jalan yang jahat, dan untuk menjadi bangsa yang besar kita mesti mau rendah hati dan menyerahkan diri kita seutuhnya, dibentuk seturut kehendak Tuhan.

Selama masa kampanye kemarin, sengaja saya lebih banyak berdiam diri untuk tidak “menyuarakan” pendapat atau pemikiran seputar para capres kita. Terus terang, sebagai manusia saya tidak bisa menahan rasa mual atau muak melihat banyak orang-orang secara fanatik mengungkapkan pikiran mereka. Buat saya tak masalah, sepanjang apa yang mereka ungkapkan sangat akurat, berdasarkan fakta dan riset yang kuat bukan sekedar menjadikan capres mereka layaknya “tuhan” yang serba sempurna, tak ada nodanya. Selain itu, dengan mengamati proses kampanye kemarin, kita juga bisa berkaca pada diri kita masing-masing. Sebelum menuduh atau menghina serta mencela salah satu capres, sudahkah kita menjadi pribadi yang sempurnah sehingga kita memandang rendah orang lain? Sejujurnya ada bagian dari diri ini yang rada apatis terhadap pemilihan capres karena dulu-dulu ikut nyoblos, tahu-tahu presiden yang dipilih saat melaksanakan tugasnya toh, mengecewakan juga. Saya sendiri sudah lama tidak baca koran dan nonton berita karena saya pribadi sudah tidak bisa percaya lagi mana media yang bisa memberitakan secara akurat dan objektif. Bekerja di industri media selama 16 tahun, kadangkala tidak bagus juga karena membuat diri ini skeptis terhadap berita di media. Pencitraan serta berita yang dikreasikan dan dikondisikan sedemikian rupa, sulit membuat kita memahami dan percaya ada berita yang benar dan akurat. Itulah sebabnya sejak beberapa tahun yang lalu saya membatasi diri saya untuk ‘berjuang demi negara ini’ dengan berkomitmen seperti ini, bahwa untuk mengambil bagian berjalan menuju bangsa Indonesia yang jauh lebih baik lagi, saya memulai dari diri saya sendiri dahulu. Sambil terus menjalani hidup yang tunduk pada jalan Yesus, saya mau menularkan isi kabar baik Injil itu pada dua anak saya, dan pelan-pelan dengan bimbingan Tuhan, turut menyentuh dan memulihkan relasi maupun hidup dengan sesama, dimulai dari keluarga besar, lalu komunitas terdekat. Supaya bangsa ini mampu mewujudkan nilai-nilai Pancasila, mari mulai bersikap mencerminkan kelima sila itu dari diri sendiri dulu. Supaya budaya korupsi tidak berkembang, mari mulai dari diri sendiri belajar dan mengajari diri agar tidak korupsi waktu atau korupsi bentuk lainnya.

Memulihkan bangsa ini tanpa pertolongan Tuhan pun tak akan mungkin. Maka di masa tenang menjelang keputusan penting yang akan kita ambil tanggal 9 Juli nanti, kita pakai momentum untuk berdoa bagi negeri tercinta, Indonesia. Kita mohon ampun atas segala kejahatan yang telah kita lakukan sebagai warga negara sehingga kita berlari dari jalan Tuhan. Mari merendahkan hati dan bersimpuh di kakiNya.


Kembalikan bangsa ini kepadaMu, Tuhan.
Pulihkan kami semua agar menjadi bangsa yang takut akan Engkau
dan hanya mau serta bisa melaksanakan kehendakMu saja.
Beri kami hikmat agar memilih calon presiden yang tepat seturut kehendakMu
bukan atas dasar emosi kami, bukan karena euforia sekeliling kami
tapi sungguh-sungguh terangi kami dengan Roh KudusMu
agar kami memilih sesuai dengan kehendakMu.

Bagi Tuhan tak ada yang mustahil. Bila kita datang kepadaNya dengan rendah hati, seperti layaknya Yesus yang berkenan mendatangi anak perempuan yang dikatakan sudah meninggal karena sakit, maka Yesus pun mau mendengarkan permohonan kita untuk membangkitkan bangsa ini melalui pemimpin yang baru. (Matius 9:18-26)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s