Kasih, Pengampunan dan TEATERRI


Tiga hari menjelang pementasan drama musikal Positif: Nada untuk Asa begitu banyak hal yang harus diingat, dikerjakan, dikoordinasikan. Tahun ini, puji Tuhan, saya diberi kepercayaan mengkoordinir para pemain yang tergabung dalam kelompok teater Teaterri untuk tampil dalam drama musikal ini, sekaligus sebagai MC dan salah satu pemain.

Terus terang, beberapa hari ini pikiran saya banyak terfokus mengurusi hal hal kecil tapi butuh konsentrasi saat mengerjakannya. Orang bilang perintilan . Minggu lalu, saya sempat mengecek satu per satu nama lengkap para pemain dan pemusik agar nama mereka tertera dengan benar di buku acara. Lumayan juga satu per satu nama yang jumlahnya hampir 100 itu saya periksa satu per satu, huruf demi huruf. Sempat dalam hati bertanya, kenapa ribet amat sih? Suruh aja orang lain. Ini hal perintilan, gak perlu kamu sendiri yang bikin.

Saya pun merenung saat itu. Bertanya dalam hati apa makna dari hal sepele ini? Tuhan rupanya mau mengingatkan saya bahwa kalau saya mau melakukannya berarti saya lakukan ini untuk orang lain. Memang ini hal sepele, tapi orang lain yang merasakan manfaatnya. Pasti para pemain bangga melihat nama mereka tercantum dalam buku acara apalagi bila nama itu ditulis dengan benar. You do something small and simple yet it means so much to others.
Do it with love!

Begitu pula hari ini. Sejak pagi, jari jemari ini tidak hentinya menjawab segudang pertanyaan, membuat instruksi, melakukan koordinasi, untuk persiapan pentas. Semua urusan mulai dari kostum buat diri sendiri, kostum pemain, pemusik, jadwal kegiatan, bus, surat izin, sampai ukuran baju pun tidak luput dari apa yang saya lakukan dari pagi ini. Bahkan urusan di luar ini pun terbengkalai. Belum lagi ada curhatan teman teman yang ikut dalam pelayanan ini. Pada waktu bersamaan, saya menerima pesan dari asisten sutradara yang di-forward salah seorang pemain. Isinya mengatakan bahwa ia mohon maaf apabila telah menyakiti hati para pemain, ia mohon maaf bila ia terlalu fokus pada tanggungjawabnya sehingga relasi pun kurang terbangun. Ia katakan pada para pemain bahwa ia sungguh menyayangi semuanya dan menyesali segalanya.

Saat saya membaca pesan itu, saya terharu. Saya bisa merasakan kasih dalam setiap huruf dan kata yang ia rangkaikan. Bagi sebagian orang, tidak mudah untuk berani mengungkapkan uneg-unegnya pada orang yang menyakiti kita. Di sisi lain, butuh keberanian dan jiwa besar yang bersumber dari kekuatan Tuhan untuk mau mengakui kelemahan kita dan kembali pada tindakan kasih.

Saya percaya keberadaan sahabat-sahabat saya, saudara saudara saya yang tergabung dalam kelompok teater TEATERRI karena ada satu kasih yang mengikat yakni Tuhan Yesus sendiri. Betul kata sahabat saya, Niken yang salut pada sebagian besar pemain TEATERRI yang notabene anak-anak muda yang berbakat yang meskipun masih bersekolah atau kuliah rela mengorbankan waktu mereka untuk ikut berlatih dan tampil di pementasan ini. Kalau bukan karena kasih yang mengikat dan satu itu, tentunya kami tak akan pernah sampai pada tahap akhir ini. Semuanya melakukan dengan cinta. Dan karena kasih pula, seseorang mau berkorban. Dan definisi pengorbanan yang terbaik yang pernah saya dengar adalah memberikan diri atau apapun sampai merasa sakit.

Maka ketika saya renungkan, sekali lagi Tuhan mau mengajarkan pada saya apa itu kasih. Melakukan hal hal kecil dan sederhana untuk orang lain dengan kasih. Tidak ada pekerjaan sia sia di mata Tuhan, sekecil apapun.

Terlalu banyak yang Tuhan ajarkan pada kami selama kurang lebih 4 bulan terakhir ini dalam masa persiapan pementasan. Semua proses yang terjadi sekalipun menyakitkan, tetaplah manis bila dinikmati dalam sukacita Tuhan.
Ia mau menebarkan benih kasih di antara kami karena Allah adalah kasih. Dan ia mau kami menemukan wajah-Nya dalam setiap proses yang kami lalui.

1Kor 13:4-7 Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

IMG_0157.JPG

IMG_0158.JPG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s