Mukjizat Ekaristi: Tak Melihat Namun Percaya


Siang tadi adalah Jumat pertama bulan terakhir di tahun 2015 ini. Saya mengikuti Ekaristi di gedung BCA kompleks Grand Indonesia yang siang itu, penuh sesak dengan para karyawan, profesional katolik. Puji Tuhan, senang melihat ruang yang tak begitu besar itu dipenuhi umat yang mau ikut misa Jumat pertama. 

Saat liturgi sabda, saya mendengarkan Injil dan kemudian homili dari Romo.  Injil hari ini diambil dari Injil Matius 9:27-31

   
 
 Tidak ada yang istimewa atau yang menyentuh saya saat mendengarkan Injil atau saat homili. Justru, saya merasakan getaran luar biasa ketika kami mengikuti adorasi sebelum komuni. Seluruh umat berlutut. Kursi-kursi yang kami duduki, disingkirkanke pinggir untuk memberi ruang bagi kami untuk berlutut. Saat itu saya berada di bagian pojok belakang. Monstrans yang dipakai untuk pentahtahan Sakramen Maha Kudus sama sekali tak kelihatan karena di depan saya banyak orang berlutut. Pandangan saya terhalang oleh bahu dan pundak orang-orang. Ingin rasanya melihat langsung Sakramen Maha Kudus karena dengan mata iman saya, saya mau melihat Yesus dalam Sakramen Maha Kudus itu. 

Saat saya tidak bisa melihat Sakramen Maha Kudus itulah saya teringat Injil hari ini yang tadi dibacakan.  Saya bagaikan orang buta mengikuti Yesus sambil berseru-seru dan berkata: “Kasihanilah aku yang tak dapat melihat, hai Anak Daud.” Beginilah rasanya jadi buta.  Ingin melihat tapi tidak bisa, pandangan terhalang. Saat itu pula, di tengah sesaknya umat yang menghalangi pandanganku pada Yesus dalam Sakramen Maha Kudus, aku dapat mendengar Yesus bertanya padaku  “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Aku teringat akan Injil hari ini, teringat akan jawaban dua orang buta ketika Yesus menanyakan hal yang sama. Maka saat itu aku  menjawab: “Ya Tuhan, aku percaya.”

Selang beberapa detik, Romo mengangkat monstrans sekaligus memberkati seluruh umat. Aku pun memandang Sakramen Maha Kudus. Aku akhirnya bisa memandang Dia. He who is hidden, very small in form of the host according to our physical eyes, is indeed our Lord Jesus Christ according to our faith. Dan aku sungguh berjumpa dengan Dia. Akhirnya aku bisa melihat-Nya lagi. 

Puji Tuhan , aku boleh belajar untuk percaya Yesus ada dan hidup sekalipun mata fisikku belum dapat melihat. 

Dan itulah bagiku, mukjizat ekaristi. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s